Loading...
Loading…
Asing Tarik Dana dari Indonesia US$ 600 Juta, Sebabkan Rupiah Anjlok

Asing Tarik Dana dari Indonesia US$ 600 Juta, Sebabkan Rupiah Anjlok

Nasional | law-justice.co | Jumat, 23 September 2022 - 09:30

Per 21 September 2021, Bank Indonesia (BI) menegaskan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mengalami depresiasi hingga 4,97%.

Hal tersebut dikemukakan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi bulan September 2022.

"Sampai 21 September 2022 year to date depresiasi 4,97% dibandingkan level akhir tahun 2021," kata Perry.

Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga masih mengalami depresiasi jika melihat data dari akhir Agustus 2022 hingga 21 September 2022 sebesar 1,03%.

Perry menyebut, depresiasi nilai tukar rupiah yang tidak terlalu dalam tak lepas dari pasokan valuta asing yang masih deras ke pasar keuangan domestik serta langkah stabilisasi yang dilakukan bank sentral.

"Ke depan, BI memperkuat stabilisasi untuk mendukung upaya inflasi dan stabilitas makro ekonomi," kata Perry.

Sebagai informasi, pada kuartal kedua tahun ini hingga 20 September 2022, aliran dana asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia mencapai US$ 600 juta dolar.

Rupiah Makin Loyo

Hari ini, Jumat 23 September 2022, Nilai tukar rupiah bertengger di level Rp15.028 per dolar AS.

Mata uang Garuda melemah 5 poin atau minus 0,03 persen dari posisi sebelumnya.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia berada di zona hijau.

Yen Jepang menguat 0,25 persen, baht Thailand menguat 0,18 persen, peso Filipina menguat 0,25 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,36 persen.

Sedangkan yuan China melemah 0,12 persen dan Dolar Singapura melemah 0,01 persen.

Sementara dolar Hong Kong terpantau stagnan pada perdagangan pagi ini.

Mata uang utama negara maju bergerak variatif. Terpantau poundsterling Inggris melemah 0,07 persen dan dolar Australia melemah 0,15 persen. Sedangkan franc Swiss menguat 0,11 persen dan dolar Kanada menguat 0,03 persen.

Sementara euro Eropa terpantau stagnan pada perdagangan pagi ini.

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bakal menguat di hari ini. Penyebabnya, Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.

"Kebijakan BI ini bisa meng-counter kebijakan The Fed yang sebelumnya juga telah menaikkan suku bunga acuannya. Ini bisa menahan capital outflow yang bisa memperlemah rupiah," ujarnya seperti melansir cnnindonesia.com.

Hari ini, Ariston memperkirakan rupiah bakal bergerak di rentang Rp14.980 per dolar AS - Rp15.050 per dolar AS.

Original Source

Topik Menarik