Loading...
Loading…
Dies ke-39, UPGRIS Gelar Doa Bersama untuk Pendiri dan Para Mantan Rektor

Dies ke-39, UPGRIS Gelar Doa Bersama untuk Pendiri dan Para Mantan Rektor

Nasional | ayosemarang | Jumat, 17 Juli 2020 - 13:32

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Pimpinan dan civitas akademika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar doa bersama untuk mengenang pendiri dan para mantan Rektor UPGRIS.

Doa bersama digelar dipimpin oleh Nur Aksin dan dihadiri Rektor UPGRIS Dr Muhdi serta seluruh pejabat di lingkup kampus tersebut.

Dalam acara yang digelar di lantai 7 Gedung Pusat UPGRIS Jalan Sidodadi Semarang juga disiarkan lewat streaming youtube dan media daring lainnya.

Rektor UPGRIS Muhdi menjelaskan kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian wajib pada setiap peringatan dies natalis UPGRIS.

''Biasanya kami langsung ziarah ke makam, tapi untuk kali ini karena kondisi belum memungkinkan maka digelar dengan doa bersama. Sebagian di ruangan ini, sebagian melalui media daring yang juga diikuti keluarga pendiri dan mantan rektor,'' jelas Muhdi usai doa bersama.

Ia menegaskan doa bersama ini sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasih atas jasa-jasa para pendiri dan mantan rektor dengan harapan agar para penerus yang sekarang mengembang tugas selalu mengenang dan terinspirasi atas jasa-jasa para pendiri dan rektor sebelumnya.

Sebab, atas jasa para pendahulu ini, UPGRIS bisa menjadi kampus yang menorehkan banyak prestasi seperti saat ini.

UPGRIS didirikan oleh Pengurus Daerah Tingkat I PGRI Provinsi Jawa Tengah melalui Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) IKIP PGRI Jawa Tengah dan merupakan perubahan bentuk dari IKIP PGRI Semarang dengan Akademi Teknologi Semarang.

Dalam sejarah perkembangannya, perjalanan Universitas PGRI Semarang dapat dibagi dalam lima periode besar.

Periode pertama adalah periode perintisan kelembagaan (1981-1986). Periode ini ditandai dengan berdirinya IKIP PGRI Jawa Tengah padatanggal 23 Juli 1981 oleh Pengurus Daerah Tingkat I PGRI Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Drs Is Riwidigdo.

Beberapa tokoh pendirinya antara lain Taruna SH Drs Is Riwidigdo, Drs Karseno, Drs R Antonius Supardi Hadiatmodjo, Drs Muhamad Oemar, Drs Thomas Sabar Adiutomo, Drs Abdul Latief Nawawi SH, Drs Soeparjo, Widayati Sumiyatun Soeharto dan Drs Teddy Iskandi.

Periode kedua adalah periode pembangunan kelembagaan (1987-1992). Pada periode ini, dibawah kepemimpinan Rektor Taruna SH, STKIP PGRI Jawa Tengah berubah nama menjadi IKIP PGRI Semarang.

Periode ketiga adalah periode pembangunan akademik (1993-1997). Periode ini dibawah kepemimpinan Rektor Prof Drs Satmoko dengan fokus utama meningkatkan mutu dosen melalui program studi lanjut.

Proses pembangunan akademik disempurnakan pada era kepemimpinan Prof Drs Sugijono MSc (1997-2001) yang memiliki enam program studi yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Matematika, Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan Biologi.

Periode keempat adalah periode pengembangan (2001-2009). Di bawah kepemimpinan Rektor Dr Sulistiyo MPd. Kemudian periode kelima (2009-sekarang) merupakan periode yang menekankan pada pendidikan karakter.

Pada periode tersebut, IKIP PGRI Semarang di bawah kepemimpinan Rektor Dr Muhdi SH MHum yang hingga saat ini terus mensosialisasikan metode pembelajaran pendidikan karakter pada anak didik.

Pada periode ini pula bergabung Akademi Teknologi Semarang (ATS) yang berdiri sejak tahun 1979 dalam pengelolaan YPLP PT PGRI Semarang dan selanjutnya pada tanggal 17 April 2014 melalui SK Mendikbud nomor 143/P/2014 ditetapkan penggabungan IKIP PGRI Semarang dengan ATS sebagai Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Original Source

Topik Menarik

{