Rupa-Rupa Cara Sekolah pada Hari Pertama Pengenalan Lingkungan Belajar

Rupa-Rupa Cara Sekolah pada Hari Pertama Pengenalan Lingkungan Belajar

Nasional | jawapos | Rabu, 20 Juli 2022 - 07:48
share

Setiap sekolah memiliki beragam cara untuk membuat siswa gembira pada hari pertama bersekolah. Menuntut ilmu harus diliputi kegembiraan, bukan malah menyeramkan.

DIMAS NUR-RHOMADHONI CAHYA-SEPTINDA AYU-SEPTIAN NURHADI, Surabaya

KEMERIAHAN masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) terpantau di beberapa sekolah kemarin (18/7). Tiap sekolah memiliki cara yang berbeda-beda untuk menikmati MPLS.

SDN Ketabang 1/288 punya cara unik. Para siswa melepas ratusan merpati dengan diiringi tepuk tangan yang riuh. Para guru ikut melepas merpati-merpati tersebut. Sutiana, kepala SDN Ketabang 1/288, turut bergembira pagi itu.

Dia mengatakan, melalui pelepasan merpati, para siswa diharapkan memiliki cita-cita yang tinggi dan bebas seperti merpati. Sesuai juga dengan kurikulum merdeka yang bebas, tutur mantan kepala SDN Kaliasin 1 itu.

Di tempat lain, SD Muhammadiyah 18 punya cara yang berbeda. Para siswa melakukan aksi simbolis sebagai bentuk kritik kepada lembaga pendidikan agar melindungi hak anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Salah satu rangkaian MPLS tersebut melibatkan seluruh siswa baru dengan menempelkan nama dan cita-cita di papan aksi. Para siswa juga mengampanyekan hentikan kekerasan terhadap anak. Aksi itu bentuk kritik kami agar lembaga pendidikan memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk anak belajar, kata Baroroh Berlian Novantika, kepala SD Muhammadiyah 18, kemarin.

Tak berhenti di situ, para siswa juga dikenalkan pada permainan dan kesenian tradisional. Mulai angklung hingga kelereng. MPLS di SMP Negeri 42 mirip dengan SD Muhammadiyah 18. Bedanya, di SMP Negeri 42, cita-cita yang dituliskan siswa digantungkan pada ranting pohon di area sekolah.

Kepala SMPN 42 Surabaya Nanik Irawati mengatakan, selain menumbuhkan semangat, dengan cara itu, siswa diharapkan selalu ingat tujuan bersekolah. Menurut dia, tulisan cita-cita tersebut akan terus tergantung di pohon harapan. Sehingga siswa bisa terus semangat belajarnya, katanya.

Bergeser ke wilayah Surabaya Barat, dekat Menganti, ada Taman Merdeka Belajar yang dibuat untuk para siswa baru di SMP Labschool Unesa 3. Pada momen MPLS, para siswa diajak ke taman tersebut. Di ruang terbuka itu, siswa mengenali lingkungan dan mengikuti permainan dengan sesama siswa baru dan kakak kelas.

Permainan tersebut menekankan fokus dan kerja sama siswa. Misalnya, permainan menghitung dan berlomba mengenal lebih banyak teman baru. Kepala SMP Labschool Unesa 3 Dian Hijrah Saputra mengatakan, kegiatan MPLS diisi dengan beragam permainan demi menghapus perpeloncoan.

Kabid Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Surabaya Munaiyah menuturkan, penggambaran MPLS telah disampaikan ke setiap sekolah. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016. Implementasinya diserahkan kepada satuan pendidikan untuk dikembangkan.

Terkait implementasi kurikulum merdeka pada MPLS, Munaiyah menyebutkan bahwa sekitar 500 sekolah dasar negeri dan swasta di Surabaya siap menerapkannya.

Sementara itu, pimpinan dan anggota Komisi D DPRD Surabaya menemukan banyak kursi kayu yang tak dipakai di gudang SMP Negeri 22 Surabaya. Ketua Komisi D Khusnul Khotimah mengatakan, kursi-kursi itu ditumpuk sejak dua tahun lalu. Politikus PDI Perjuangan tersebut mengusulkan agar kursi itu lebih dioptimalkan. Misalnya, diperbaiki, lalu digunakan sekolah-sekolah swasta yang membutuhkan.

Herlina Harsono Njoto, anggota komisi D, mengusulkan agar seluruh sekolah memiliki kelas khusus. Politikus Demokrat tersebut menyatakan, kelas khusus itu berisi pengelompokan berdasar kemampuan siswa. Menurut dia, hal tersebut akan menambah performa belajar para siswa. Ketika naik kelas, sekolah bisa kembali mengadakan tes, ujarnya.

Topik Menarik