Loading...
Loading…
Edan Utang BUMN Bisa Bikin Krisis, Fadli Zon: Lebih Parah dari 98

Edan Utang BUMN Bisa Bikin Krisis, Fadli Zon: Lebih Parah dari 98

Nasional | wartaekonomi | Kamis, 09 Juli 2020 - 17:24

Mantan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengkritisi utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kian menggunung. Menurutnya, jika utang BUMN semakin bertambah, hal tersebut bisa memicu krisis yang lebih besar. Bahkan, hal ini hampir sama dengan krisis pada tahun 1998.

"Ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998, yaitu gagal bayar utang korporasi, turunnya modal masuk, dan sistem keuangan yang rentan. Saya khawatir kita sedang menghadapi kondisi yang sama saat ini. Salah satunya adalah terkait krisis utang dan risiko gagal bayar BUMN kita," tulisnya, melalui akun Twitter-nya @fadlizon, seperti dikutip, Kamis (9/7/2020).

Menurut dia, BUMN saat ini terlilit utang yang banyak lantaran Presiden Jokowi gencar membangun infrastruktur di saat negara tak memiliki uang. Dan akhirnya, BUMN terpaksa mengambil utang.

"Presiden @jokowi ingin membangun berbagai infrastruktur fisik, yang sebagian besarnya berupa infrastruktur konsumtif seperti jalan tol dan bandara, saat negara tak punya pemasukan. Akhirnya, BUMN kita yang dijadikan korbannya. Mereka dipaksa untuk membangun dengan jalan mencari utangan," katanya.

Baca Juga :
Fadli Zon Sebut Indonesia Butuh Pawang Utang, Inilah Sosok yang Dimaksud

Karena itu, ia pun memperingatkan agar jangan sampai BUMN menjadi pemicu terjadinya krisis ekonomi yang lebih besar seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998.

"Saya kira ini harus diperhatikan betul. Jangan sampai BUMN justru jadi katalis, bahkan menjadi pemicu bagi terjadinya krisis yang lebih besar," ucapnya.

Selain itu, ia juga mengimbau pemerintah untuk tidak lagi mengizinkan BUMN mengambil lebih banyak utang. Ia juga minta pemerintah berhenti menjadikan BUMN sebagai "Kuda Troya".

"Saya kira, ke depan, pemerintah tak boleh lagi menjadikan BUMN sebagai "Kuda Troya" untuk berutang, terutama utang luar negeri," tukasnya.

Original Source

Topik Menarik