Loading...
Loading…
60 Negara Hadapi Tekanan Karena Utang Jokowi: Posisi Kita Saat Ini Sangat Baik

60 Negara Hadapi Tekanan Karena Utang Jokowi: Posisi Kita Saat Ini Sangat Baik

Nasional | rm.id | Selasa, 21 Juni 2022 - 06:45

Kondisi dunia yang tidak normal membuat Presiden Jokowi waswas. Dia meminta jajarannya untuk waspada dan mengantisipasi ancaman krisis pangan dan energi.

Arahan tersebut disampaikan Jokowi, saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Jokowi mengatakan, krisis energi, krisis pangan, krisis keuangan sudah mulai melanda beberapa negara. Ada kurang lebih 60 negara yang menghadapi tekanan karena utang. Ekonominya tertekan. Tidak ada devisa.

Sehingga, masuk pada yang namanya krisis ekonomi, krisis keuangan. Inilah yang harus betul-betul kita antisipasi, ujar Jokowi.

Mantan Wali Kota Solo itu meminta jajarannya untuk terus menyampaikan perkembangan situasi global saat ini, kepada masyarakat. Termasuk, krisis yang memicu kenaikan harga komoditas pangan dan energi.

Sehingga rakyat tahu, posisi kita ini, kalau dibandingkan negara lain, masih pada kondisi yang sangat baik, ujarnya.

Kepala Negara juga meminta jajaran terkait untuk melakukan penghematan. Sekaligus mencegah terjadinya kebocoran pada sektor tersebut.

Mana yang bisa diefisiensikan, mana yang bisa dihemat. Mana kebocoran-kebocoran yang bisa dicegah. Semuanya harus dilakukan posisi-posisi seperti ini, ujarnya.

Menurut Jokowi, BUMN di sektor energi seperti Pertamina dan PLN harus melakukan efisiensi. Jangan bergantung sepenuhnya pada subsidi pemerintah.

Dalam jangka waktu pendek, Kepala Negara juga meminta jajarannya untuk meningkatkan produksi. Sehingga tidak bergantung pada impor.

Sekecil apa pun, sumur-sumur minyak yang ada harus didorong produksinya agar meningkat, ujarnya.

Sementara untuk mengantisipasi krisis pangan global akibat Covid-19 serta konflik Rusia vs Ukraina, Jokowi meminta jajarannya untuk fokus pada tiga hal. Pertama, peningkatan produksi.

Kedua, segera pastikan offtaker yang akan menampung hasil peningkatan produksi besar-besaran tersebut. Terakhir, soal pentingnya pendistribusian komoditas pangan yang telah diproduksi secara besar-besaran tersebut, sehingga stok tidak menumpuk atau kualitasnya menurun bahkan busuk.

Terkait arahan Jokowi ini, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Sugiyono Madelan mengakui, situasi dunia saat ini berada dalam ketidakpastian yang lebih tinggi. Tepatnya, pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Hal ini tentu mempengaruhi ketersediaan energi dan pangan. Dampaknya, laju inflasi tak bisa dibendung, dinamika keuangan dan investasi juga tak bisa dihindarkan. Perkembangan terakhir juga meningkatnya ketegangan geopolitik di antara blok-blok yang bertikai dan bersaing dalam memperebutkan pengaruh di tingkat global.

Atas kondisi tersebut, pemulihan perekonomian setelah pandemi Covid-19 kemungkinan melambat kembali, atau stagnan. Terlebih, adanya varian baru dari Omicron B-4 dan B-5, serta masuknya Cacar Monyet yang menyerang manusia, ulas Sugiyono saat dihubungi, tadi malam. [MEN]

Original Source

Topik Menarik