Loading...
Loading…
Peta Substitusi Pangan Harus Segera Disusun

Peta Substitusi Pangan Harus Segera Disusun

Nasional | koran-jakarta.com | Sabtu, 04 Juni 2022 - 00:04

Pemerintah harus beri dukungan pada masyarakat yang kembangkan pangan lokal agar stok dan harganya kompetitif.

Pemerintah harus membuat kebijakan pangan lebih transparan, bukan jadi ajang pihakpihak tertentu mencari rente.

JAKARTA - Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat panen sorgum di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk tidak bergantung pada pangan impor seperti gandum dan jagung patut diapresiasi. Sebab, hal itu menandakan Kepala Negara bertekad mengupayakan swasembada pangan melalui konsumsi pangan lokal.

Namun dalam beberapa kebijakan yang kerap disampaikan Presiden, para pembantunya yaitu para menteri dan pimpinan lembaga kurang tanggap, sehingga tidak mengimplementasikan arah kebijakan Presiden tersebut.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, M Masyhuri, yang diminta pendapatnya, Jumat (3/6), meminta kementerian terkait pangan menjadikan pengembangan mocaf (Modified Cassava Flour) sebagai pelajaran bagi pengembangan komoditas pangan lokal lain, seperti sorgum, garut, dan jagung.

Semua komoditas pangan yang terpenting adalah di sisi ujungnya yakni disukai konsumen, karena dengan disukai maka akan ada permintaan yang berpengaruh di hulu. Untuk disukai konsumen dibutuhkan teknologi pengolahan di tengah, sehingga tepung atau pangan dari bahan lokal rasanya bisa diterima oleh lidah yang sudah dibiasakan mengunyah gandum atau pangan impor.

Baca Juga :
Bupati Sleman Berharap Kajian Impor Jadi Peta Jalan Substitusi Impor

" Nah, yang sudah mendekati gandum itu mocaf atau tepung dari ketela, singkong. Tapi, kita lihat kan sulit berkembang karena selain rasanya baru mendekati, dari sisi harga kan juga kalah dari gandum impor," kata Masyhuri.

Menurut Masyhuri, kreativitas masyarakat yang sudah mulai mengolah mocaf memang belum mendapat banyak dukungan dari pemerintah secara masif agar dari sisi ketersediaan maupun harga tidak kalah bersaing dari pangan impor.

"Banyak yang suka mocaf, tapi nyarinya saja susah. Pedagang belum banyak. Kalau lihat petani singkong kan tidak sejahtera. Nah , inilah mau mulai dari mana? Dari ujungnya, mocaf ini sudah disukai, relatif disukai, tapi tidak berkembang," kata Masyhuri.

Mocaf, sorgum, maupun jagung butuh sentuhan teknologi, mulai dari pengolahan lahan pertanian, pengolahan hasil pascapanen hingga pemasaran.

Baca Juga :
Dua Kunci TPID Atas Inflasi di Sumatra, Apa Itu?

Pada kesempatan lain, Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam, mengatakan peta jalan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan itu sungguh visioner dan harus didukung semua pihak.

"Langkah ini memang harus segera diambil agar kebergantungan pada bahan pangan impor tidak tinggi dan dominan. Menguatkan pangan lokal sama dengan membangun kemandirian dan kedaulatan pangan nasional," kata Surokim.

Potensi pangan lokal sejatinya amat variatif. Jika sungguh-sungguh dilakukan pemetaan, potensi cadangan pangan nasional sangat bisa diandalkan saat krisis. Namun demikian, substitusi pangan bukan perkara mudah, butuh literasi dan penguatan terutama di masyarakat sebagai users .

Lebih-lebih jika kita melihat ekonomi politik pangan kita yang belum transparan juga membuat ikhtiar ke arah itu bukan urusan mudah. Kendati demikian, kita wajib mendukung dan jangan sampai hanya lips service saja tanpa adanya progres yang jelas di lapangan. Yang dibutuhkan saat ini kecepatan dan juga roadmap bahan substitusi dan literasi itu dilakukan secara simultan dan terpadu," tuturnya.

Serius Menggarap

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan potensi swasembada produksi pangan lokal sangat besar asalkan memang digarap serius, mulai dari permasalahannya hingga solusinya.

Lahan yang ada digarap dan dipupuk serta dibudidayakan dengan benar. Begitu pula pemberian bimbingan teknis kepada petani harus reguler dan berkala. Demikian juga alat- alat, sarana prasarana dan teknologi pertanian harus disiapkan, termasuk akses kredit dan membuka pasar yang luas untuk petani.

"Saya yakin bisa tercapai target produksi pangan lokal. Kalau sorgum, sepertinya harus ditambah dengan sosialisasi ke masyarakat agar lebih dikenal dan bisa diterima, terutama nilai gizinya dan bisa diolah untuk keperluaan apa saja," kata Esther.

Original Source

Topik Menarik