Loading...
Loading…
Musim Liburan Selesai Awas, Kenaikan Kasus Covid Masih Mengintai

Musim Liburan Selesai Awas, Kenaikan Kasus Covid Masih Mengintai

Nasional | rm.id | Minggu, 15 Mei 2022 - 07:55

Kasus Covid-19 diprediksi bakal meningkat pada Juni 2022. Para ahli memandang, potensi itu disebabkan peningkatan signifikan mobilitas masyarakat pada periode libur panjang di penghujung April hingga awal Mei lalu. Musim libur selesai, varian baru mengintai.

Makanya, Pemerintah dan kita semua jangan menyepelekan Covid-19, cetus ahli epidemiologi Tri Yunis Miko Wahyono kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Peningkatan angka Covid-19 akibat kenaikan mobilitas ini, lanjut Miko, sudah terjadi di banyak negara belum lama ini. Antara lain di China dan beberapa negara di Eropa. Di Inggris salah satunya. Negara itu dihantam varian baru yang bernama Deltacron.

Karena itu, Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) ini memandang, sampai saat ini Covid-19 masih berbahaya. Terutama, bagi mereka yang belum divaksin, para lansia, dan yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid.

Meski penularan saat ini didominasi varian Omicron yang dianggap lebih ringan tapi jangan lupa bahwa varian lain masih ada. Seperti Covid varian Delta itu masih ada. Lalu varian Alfa juga masih bertebaran di Indonesia, ucapnya.

Masih ada pula kemungkinan munculnya varian baru. Diungkapkannya, virus Corona merupakan jenis virus RNA yang dapat bermutasi dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga selalu ada peluang untuk munculnya varian baru.

Baca Juga :
Bertambah 107 Pasien, Positif Covid-19 di Pemalang Kini 2.622 Kasus

Varian baru bisa muncul jika penularan Covid-19 masih berlangsung. Semakin tinggi mobilitas masyarakat, maka potensi penularan juga semakin tinggi. Miko menilai, jika varian baru yang muncul di bulan depan kekuatannya tidak jauh beda seperti Omicron maka negara ini aman dari ledakan kasus Covid-19.

Namun jika yang muncul lebih kuat dari varian Omicron maka Indonesia harus siap menghadapi gelombang keempat Covid-19. Jika yang Covid-19 yang bermutasi adalah Delta, menurut saya itu tidak akan aman bagi Indonesia, ingatnya.

Miko mengungkapkan, belum lama ini salah satu anggota keluarganya meninggal disebabkan oleh varian Delta. Kejadian itu semakin meyakinkan bahwa Covid-19 varian Delta masih ada di Indonesia. Kakak kandung saya sekitar satu bulan lalu juga meninggal terkena varian Delta, akunya.

Menurut Miko, untuk bisa mengendalikan pandemi, Indonesia mesti memiliki peta varian. Sehingga penanganan varian yang berbahaya di suatu daerah bisa lebih cepat ditanggulangi sebelum menyebar ke daerah lainnya. Sayangnya kita nggak memiliki peta untuk varian, kritiknya.

Baca Juga :
Transmisi Varian Baru, Satgas Covid Minta Masyarakat Waspada Selama Libur Nataru

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini menerangkan, untuk membuat peta, langkah pertama adalah melakukan survei tes Covid-19. Bisa dengan tes antigen ataupun Polymerase Chain Reaction (PCR). Setelah itu dilanjutkan dengan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).

Ya ini harus dilakukan karena jika kita mau perang maka kita harus bisa memetakan seberapa kuat musuh kita dan persebarannya di mana saja, ungkapnya.

Terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sampai saat ini, Kemenkes masih melakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya varian baru Covid-19. Budi melihat dari negara-negara lain yang tengah mengalami kenaikan kasus.

Di Taiwan dan Amerika misalnya, kasus meningkat akibat varian BA.2 yang kasusnya sudah banyak ditemukan di Indonesia, ungkapnya.

Varian BA.2 juga dominan di India. Tetapi, seperti tren di Indonesia, kasusnya tidak meningkat pesat.

Lalu, di Afrika Selatan, terjadi kenaikan kasus yang disebabkan oleh varian baru BA.4 dan BA.5. Namun demikian, peningkatannya masih terbilang sedikit. Kita terus melakukan monitoring bersama dengan WHO (World Health Organization) mengenai varian-varian baru ini, tutur eks Direktur Utama Bank Mandiri ini.

Pemerintah terus memantau kemungkinan kenaikan kasus Covid-19 selama beberapa hari ke depan. Bercermin dari pengalaman libur Lebaran dan Natal periode lalu, kenaikan kasus virus Corona biasanya terjadi antara 27-34 hari pasca-hari libur. Kenaikan akan mulai terjadi di hari ke-27 sampai hari ke-34 sesudah hari rayanya, ungkap Budi. [JAR]

Original Source

Topik Menarik