Loading...
Loading…
Aturan Qadha Puasa, ini Penjelasannya

Aturan Qadha Puasa, ini Penjelasannya

Nasional | republika | Jumat, 13 Mei 2022 - 12:50

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Dikutip dari buku Fikih Bulan Syawal oleh Muhammad Abduh Tuasikal, Siapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena sakit atau bersafar (menjadi musafir), maka ia wajib mengqadha sesuai jumlah hari yang ia tidak berpuasa. Allah Taala berfirman,

Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah ayat 185).

Berikut beberapa aturan qadha puasa yang diringkas dari Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah:

1. Jika ada yang luput dari berpuasa selama sebulan penuh, ia harus mengqadha sebulan.

2. Boleh puasa pada musim panas diqadha pada musim dingin, atau sebaliknya.

3. Qadha puasa Ramadhan boleh ditunda.

4. Jumhur ulama menyatakan bahwa menunaikan qadha puasa ini dibatasi tidak sampai Ramadhan berikutnya (kecuali jika ada uzur). Aisyah sendiri baru sempat mengqadha puasa di bulan Sya'ban karena sibuk mengurus Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

5. Apabila ada yang melakukan qadha Ramadhan melampaui Ramadhan berikutnya tanpa ada uzur, ia berdosa. Dari Abu Salamah radhiyallahu anhu, ia mendengar Aisyah radhiyallahu anha mengatakan,

Baca Juga :
Bacaan Niat Ganti Puasa Ramadan Lengkap dengan Artinya

Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban. (HR. Bukhari, no. 1950 dan Muslim, no. 1146).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya'ban karena kesibukan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

6. Yang harus dilakukan ketika menunda qadha Ramadhan melampaui Ramadhan berikutnya adalah (1) mengqadha dan (2) menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa). Hal ini berdasarkan pendapat dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu anhum.

Fidyah ini dilakukan karena sebab menunda. Adapun fidyah untuk wanita hamil dan menyusui (di samping menunaikan qadha) disebabkan karena kemuliaan waktu puasa (di bulan Ramadhan). Adapun fidyah untuk yang sudah berusia lanjut karena memang tidak bisa berpuasa lagi.

7. Yang menunda qadha puasa sampai melampaui Ramadhan berikut bisa membayarkan fidyah terlebih dahulu kemudian mengqadha puasa.

Baca Juga :
Waktu yang tepat mengganti utang puasa Ramadhan dan tata caranya

Original Source

Topik Menarik