Loading...
Loading…
Dukung Target Net Zero Emission Pertamina Dan Chevron Teken Kerja Sama Bisnis Rendah Karbon

Dukung Target Net Zero Emission Pertamina Dan Chevron Teken Kerja Sama Bisnis Rendah Karbon

Nasional | rm.id | Jumat, 13 Mei 2022 - 08:01

Chevron Corporation (NYSE: CVX) melalui anak perusahaannya, Chevron New Ventures Pte. Ltd. (Chevron), dan PT Pertamina (Persero), mengumumkan kerja sama untuk menjajaki potensi peluang bisnis rendah karbon di Indonesia, Kamis (12/5).

Dengan tujuan melayani konsumen dalam negeri dan potensi konsumen regional, Chevron dan Pertamina berencanamempertimbangkan teknologi panas bumi baru ( novel geothermal ), penyeimbangan karbon ( carbon offsets ) melalui solusi berbasis alam, penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon ( carbon capture , utilization , dan storage/ CCUS). Serta pengembangan, produksi, penyimpanan, dan transportasi hidrogen dengan rendah karbon ( lower carbon hydrogen ).

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Washington, DC yang dihadiri Executive Vice President Business Development Chevron Jay Pryor,Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, danMenteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

"Kami sangat antusias dalam membangun sejarah Chevron, hingga hampir 100 tahun di Indonesia," ujar Presiden Chevron New Energies, Jeff Gustavson di sela acara penandatanganan MoU di Washington DC, Kamis (12/5).

Baca Juga :
Bahlil: Kerja sama Pertamina-Chevron buat RI jadi Pusat Industri EBT

MoU ini menunjukkan komitmen Chevron dan Pertamina untuk terus mengidentifikasi peluang rendah karbon melalui kolaborasi dan kemitraan antara Chevron, perusahaan energi nasional, dan pemerintah, yang masing-masing memiliki kepentingan bersama dalam mendorong transisi energi nasional.

"Melalui potensi kerja kami di Indonesia dan seluruh kawasan Asia Pasifik, kami berharap dapat menyediakan energi yang terjangkau, andal, dan selalu bersih. Serta membantu industri dan konsumen yang menggunakan produk kami, untuk mencapai tujuan rendah karbon mereka," imbuh Gustavson.

Kerja sama antara Chevron dan Pertamina ini merupakan bagian dari upaya kedua perusahaan, untuk mendukung target net zero emission pemerintah Indonesia pada tahun 2060.

Pertamina berkomitmen meningkatkan bauran energi terbarukan dari 9,2 persen pada tahun 2019 menjadi 17,7 persen padatahun 2030.

Pertamina, sebagai BUMN energi terbesar di Indonesia, terus berkomitmen untuk mempercepat transisi energi sesuai target pemerintah. Kemitraan ini merupakan langkah strategis bagi Pertamina dan Chevron, untuk saling melengkapi kekuatan masing-masing. Serta mengembangkan proyek dan solusi energi rendah karbon. Demi mendorong kemandirian dan ketahanan energi dalam negeri, ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Baca Juga :
Pertamina Gandeng Chevron Bangun CCUS

Indonesia, sebagai negara kedua terbesar yang memiliki kapasitas terpasang panas bumi telah mengembangkan geothermal sejak tahun 1974.

Saat ini, melalui Subholding Power & NRE, Pertamina memiliki total kapasitas terpasang Geothermal mencapai 1.877 MW yang berasal dari 13 area kerja Geothermal.

Sebanyak 672 MW berasal dari area kerja yang dioperasikan sendiri. Sisanya, 1.205 MW merupakan kontrak operasi bersama ( joint operation contract /JOC).

Area kerja yang dioperasikan sendiri dengan total kapasitas 672 MW tersebut mencakup Area Sibayak 12 MW, Area Lumut Balai 55 MW, Area Ulubelu 220 MW, Area Kamojang 235 MW, Area Karaha 30 MW, dan Area Lahendong 120 MW.

Selain itu, Pertamina juga melakukan diversifikasi pengembangan geothermal. Yang saat ini tengah berjalan sebagai pilot project adalah green hydrogen yang dikembangkan di Area Ulubelu, dengan target produksi 100 kg per hari dan brines to power yang dikembangkan di Area Lahendong.

Proyek ini memiliki potensi kapasitas 200 MW dari beberapa area kerja lainnya.

Dengan menggandeng berbagai pihak, Pertamina juga tengah mengembangkan penerapan CCUSsebagai salah satu strategi perseroan, dalam mengurangi emisi karbon di dua lapangan migas. Yakni Gundih dan Sukowati.

Di samping itu, Pertamina juga sedang mengkaji komersialisasi penerapan teknologi CCUS di wilayah Sumatera.

Pemerintah Indonesia sudah memiliki peta jalan transisi energi, yang tertuang dalam Grand Strategy Energi Nasional.

Dalam peta jalan tersebut, penggunaan energi terbarukan ditargetkan mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Pemerintah menyadari pentingnya pendekatan yang bersifat kolaboratif, untuk mencapai tujuan rendah karbon.

Terkait hal ini, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, upaya untuk meningkatkan proyek energi rendah karbon tidak bisa dilakukan sendiri.

"Kami harap, perusahaan minyak dan gas kelas dunia seperti Pertamina dan Chevron, dapat bermitra untuk memangkas emisi karbon dan mendorong transisi energi sebagaimana yang telah diamanatkan pemerintah Indonesia, tuturnya. [HES]

Baca Juga :
Kejar Target Zero Emission 2050, Perhutani Gandeng Pertamina Power

Original Source

Topik Menarik