Loading...
Loading…
MUI Bingung Soal Biaya Rapid Test Rp400 Ribu, Katanya...

MUI Bingung Soal Biaya Rapid Test Rp400 Ribu, Katanya...

Nasional | wartaekonomi | Kamis, 25 Juni 2020 - 21:47

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Cholil Nafis, mengaku bingung harus dikenakan biaya rapid test sebesar Rp400 ribu ketika mau ke Malang melalui Airport Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Maka dari itu, Cholil mempertanyakan ke mana lari uang Rp667 triliun yang dialokasikan pemerintah untuk penanganan wabah corona atau Covid-19. Padahal, ia mengatakan anaknya ingin balik ke pondok pesantren.

"Ini anak-anak santri mau balik ke pesantren harus rapid test masih bayar. Lah, anak saya minggu lalu mau ke Malang untuk lulusan sekolahnya di Airport Halim harus rapid test bayar 400 ribu. Benar nih? Serius nanya, ke mana uang kita sebanyak itu ya?" tulis Cholil di Twitter.

Menurut dia, negara yang berhasil menangani Covid-19 karena rajin melakukan rapid tes lalu mengontrol pergerakan PDP, ODP, dan OTG. Tapi di Indonesia, kata dia, masyarakat bayar untuk rapid tes dan itu hanya berlaku tiga hari. Maka, perlu deteksi dari dini apalagi untuk santri yang mau berkerumun.

"Kalau di pesantren ada satu yang kena akan mudah menyebar. Jika dari awal steril maka bisa jadi contoh karantina suci bagi generasi kini. Prioritas duit yang hampir Rp1.000 T itu untuk apa? Kalau yang mendasar saja rakyat tak kebagian. Rakyat di sektor informal sudah dua bulan tak bekerja," ujarnya.

Cuitan Kiyai Cholil langsung direspons oleh Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo. Ia menyampaikan terima kasih atas saran dari teman-teman Nahdlatul Ulama (NU) yang sudah diterima dengan baik dan sedang dibahas formulasinya.

"Pemerintah sangat mengapresiasi dan akan mendukung dengan kebijakan yang tepat. Salam hormat Pak Kyai," tulis Prastowo.

Original Source

Topik Menarik