Loading...
Loading…
Makna Lebaran Dan Laburan

Makna Lebaran Dan Laburan

Nasional | rm.id | Senin, 09 Mei 2022 - 06:17

Lebaran artinya selesai. Setelah sebulan berpuasa dilanjutkan dengan berlebaran. Perjalanan mudik ke kampung halaman untuk melengkapi ritual Lebaran. Tradisi saling memaafkan merupakan wujud kerendahan hati manusia dalam mengakui kesalahan. Sehingga diharapkan pascalebaran kadar iman seseorang meningkat. Ibarat pagar rumah yang sudah kusam, kembali bersinar setelah dilabur. Labur atau dicat ulang dengan gamping putih. Laburan merupakan pengejawantahan warna putih setelah manusia saling memaafkan.

Setelah Lebaran dan Laburan. Lalu kapan liburannya, Mo? celetuk Petruk. Romo Semar mesem dan tidak serta merta menjawab pertanyaan Petruk. Semar tahu arah pertanyaan anaknya Petruk. Liburan panjang tidak elok kalau tidak dimanfaatkan berlibur memanjakan diri dan keluarga. Pemerintah sudah bekerja keras mengurai kemacetan selama mudik Lebaran. Setelah dua tahun larangan mudik diberlakukan karena Covid. Tahun ini merupakan hadiah untuk merayakan mudik Lebaran.

Lontong opor dan penganan khas lebaran tersaji rapi di meja makan. Romo semar dengan sigap melahap legitnya potongan lontong yang disiram kuah opor. Kepulan asap rokok klobot membawanya ke zaman liburannya Bethara Guru di Khayangan Jonggring Saloko.

Baca Juga :
Tradisi Lebaran, Ini Makna dan Sejarah Ketupat dalam Islam

Kocap kacarito, Bethara Guru stres memikirkan kelakuan istri tercintanya Dewi Uma. Guru tidak menyangka kalau istri yang selama ini dicintai berani berbuat serong dengan dewa lain yang lebih muda. Lebih sakit lagi Bethara Guru mengetahui perbuatan istrinya dari Shang Hyang Wenang atau bapaknya Bethara Guru. Hancur hati Dewa Guru dan kehilangan kontrol diri. Dewi Uma disabda menjadi raksasi buruk rupa dan diusir dari Khayangan tempat para Dewa. Karena wujudnya jelek maka namanya diganti menjadi Durga. Bethari Durga hidup di Sentra Ganda mayit tempatnya para peri dan jin bersemayam.

Bethara Guru ingin berlibur dan santai setelah kejadian yang menimpa dirinya dan istrinya. Dewa Guru memilih berendam dan berenang dengan para dayang di aliran sungai Cunda Manik. Guru berpesan kepada pengawal. Selama Bethara Guru mandi di sungai Cunda Manik tidak boleh ada dewa yang mendekat. Barang siapa berani melihat atau mengganggu liburan Bethara Guru maka akan terkena kutukan.

Dewa Citragada dan Citrasena tanpa sengaja melewati hulu sungai yang dipakai Bethara Guru bercengkerama bersama para dayang. Kedua dewa ABG tersebut tidak tahu kalau Bethara Guru sedang mandi kungkum di aliran sungai tersebut. Begitu tahu ada dua dewa melewati aliran sungai, Dewa Guru murka dan marah besar. Citragada dan Citrasena dianggap mengganggu privasi. Maka disabdalah keduanya menjadi raksasa. Citragada berubah nama menjadi raksasa Kalantaka. Dan Citrasena berganti nama Kalanjaya.

Baca Juga :
Ini Asal Usul dan Filosofi Kata Lebaran

Kelak Kalantaka dan Kalanjaya menjadi pengikut Bethari Durga. Ketiga wujud raksasa tersebut dapat berubah wujud kembali menjadi dewa dan dewi setelah mengakui kesalahan atas perbuatannya. Bethari Durga berhasil diruwat oleh Nakula, ragilnya satria Pandawa. Begitu pula Kalanjaya dan Kalantaka kembali berubah wujud setelah ketemu Nakula.

Itulah hebatnya seseorang kalau sudah berani mengakui kesalahannya. Wujud raksasa pun bisa berubah kembali menjadi ganteng, celetuk Petruk, cengengesan. Betul, Tole. Tapi susah saat ini orang mau mengakui kesalahan sendiri. Yang ada justru saling dendam dan menyalahkan orang lain. Lebaran harus menjadi momentum menata masa depan bersama. Lupakan dendam masa lalu dan hilangkan perbedaan. Para elite harus berani tampil memberikan teladan merayakan kemenangan dengan mensyukuri keberagaman dan persatuan, sahut Semar. Oye

Original Source

Topik Menarik