Loading...
Loading…
Setelah BCA, Giliran Nasabah BNI yang Kehilangan Tabungannya Rp3,5 Miliar di ATM

Setelah BCA, Giliran Nasabah BNI yang Kehilangan Tabungannya Rp3,5 Miliar di ATM

Nasional | radartegal | Jumat, 01 April 2022 - 07:30

Setelah nasabah BCA di Bandung kehilangan uangnya di ATM, giliran nasabah Bank BNI Cabang Samarinda mengalami kejadian serupa. Bahkan uang tabungan milikMuhammad Asan Ali yang hilang di ATM itu mencapai Rp3,5 miliar yang disimpan di dua rekening.

Kontan saja kejadian itu membuat Muhammad Ali,pedagang ikan di Pasar Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, syok. Apalagi, uang tabungannya yang berjumlah miliaran hanya tinggal berjumlah Rp490 ribu. Muhammad Asan Ali menabung uang sejak tahun 2004, dari hasil menjual ikan.

"Saya kaget sekali, kok rekening saya ini isinya cuman Rp490 ribu saja. Padahal tabungan saya seharusnya sudah miliaran," kata Asandilansir dari JPNN.com, Jumat (1/4).

Peristiwa uang nasabah BNI hilang ini terungkap saat Asan sedang mengecek rekeningnya melalui ATM BNI di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Rabu (28/10) silam. Seusai memastikan isi rekeningnya, saat itu Asan lantas menyambangi Kantor BNI Cabang Samarinda di Jalan Pulau Sebatik.

"Saya bertemu dengan pimpinannya, masih Pak Novachristo Joseph saat itu," ucap pria yang setia menjadi nasabah Bank BNI itu.

Kepada pimpinan BNI Cabang Samarinda itu, Asan menanyakan soal saldo di rekeningnya tidak sesuai dengan jumlah uang yang selama ini dia tabung. Tabungan nasabah BNI yang bernama Muhammad Asan Ali terungkap setelah korban melapor peristiwa tersebut kepada pimpinan BNI Cabang Samarinda.

Baca Juga :
Uang Rp3,5 Miliar Hilang, Nasabah BNI Malah Diancam Petinggi Bank

Setelah melapor, pihak bank BNI menyelidiki lebih lanjut, penyebab lenyapnya isi tabungan Asan pun terungkap. Uang miliaran rupiah yang selama ini disetorkan Asan ternyata ditarik secara diam-diam oleh petugas customer service (CS) BNI.

Pelakunya bernama Besse Dalla Eka Putri. Oknum utama yang membuat isi tabungan Asan lenyap itu, kini sudah menjadi terdakwa atas perkara tersebut.

Perempuan itu didakwa melakukan manipulasi untuk kepentingannya sendiri. Sebagai petugas CS yang kerap mendampingi Asan, ketika sedang melakukan transaksi, terdakwa bisa mengakses rekening milik pedagang ikan tersebut.

Dalla secara leluasa menarik uang yang disetorkan Asan, lalu memindahkannya ke rekening lain. Ada pula uang dari Asan yang tidak dibukukan oleh terdakwa ke rekening milik warga Kecamatan Samarinda Utara itu.

Direktur LBH Samarinda Berani Hilarius Onesimus Moan Jong selaku kuasa hukum Asan menyatakan BNI Cabang Samarinda sebenarnya sudah mengganti uang kliennya melalui deposito selama 6 bulan dengan nilai Rp2.354.604.418.

Baca Juga :
Ingat Tenggat Waktu, Begini Cara Penukaran Kartu ATM Debit BRI, Mandiri, BNI, dan BCA Berbasis Chip

Adapun pelaku penggelapan uang yang sudah bertatus terdakwa itu hanya sanggup mengembalikan uang Asan sebesar Rp303.500.000.

"Sehingga, total keseluruhan uang klien kami yang dikembalikan baru Rp2.658.104.418 dari jumlah tabungan korban yang mencapai Rp 3,5 miliar," jelas Hilarius menambahkan.

Dengan demikian, lanjut Hilarius, masih ada kekurangan pengembalian uang milik kliennya tersebut dari pihak BNI Cabang Samarinda sebesar Rp841.895.582.

"Kami sudah bertemu menanyakan kepada pihak BNI mengenai kekurangan uang klien kami, tetapi jawaban dari Pimpinan Cabang BNI Samarinda masih tetap mengacu terhadap hasil audit internal dan menunggu putusan pengadilan atas kasus dengan terdakwa Besse Dalla," sebutnya.

Asan bersama kuasa hukumnya juga sudah melaporkan kasus ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim. Laporan kuasa hukum itu dilampiri rekening koran milik Asan per Januari 2016 sampai dengan Desember 2020, sebagai alat buktinya.

"Kami sudah melaporkan kasus ini ke OJK Kaltim, termasuk akan kami kirim juga ke OJK Pusat dan Kementerian BUMN. Selain itu, saat ini kami masih menyiapkan gugatan kepada pihak BNI secara perdata, tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Legal BNI Cabang Samarinda Agus Amri mengatakan upaya penggantian kerugian korban masih menanti putusan pengadilan terhadap terdakwa yang juga mantan pegawai bank BUMN itu.

"Sebab, ada sebagian uang yang diterima Dalla dari Asan ternyata setelah disetorkan itu langsung ditarik kembali. Ada juga yang tidak disetorkan ke bank dan digunakan untuk kepentingan pribadi Dalla," tutur Agus.

Dia menjelaskan memang terjadi perbedaan hitungan tentang kerugian antara versi korban Asan dengan uang yang terdata di sistem bank. Sebab, Dalla membuat beberapa rekening untuk menampung uang milik Asan.

"Kami belum tahu, apakah uang itu dimiliki melalui sistem bank atau dimasukkan Dalla sendiri setelah menerima uang dari tangan Asan," ungkapnya melalui sambungan telepon.

Agus menegaskan BNI Cabang Samarinda sejatinya sudah mengganti uang nasabahnya itu. Uang yang diberikan ke korban, kata Agus, sesuai dengan data yang tercatat di sistem mereka dalam bentuk tabungan deposito.

Baca Juga :
Cara Menukar, Batas Akhir, dan Beda Kartu Debit ATM BRI, Mandiri, BNI, dan BCA Berbasis Chip dan Magnetic Stripe

"Maka reversal atau pengembalian uang dilakukan melalui tabungan depsito biar aman, seperti permintaan Haji Asan," katanya.

Pihak BNI Cabang Samarinda juga dipastikan tidak pernah melakukan intervensi kepada Asan. Sebagai lembaga keuangan, pihaknya mengedepankan asas kehati-hatian dalam menentukan sebuah kebijakan.

"Kami enggak ada beri tekanan. Tiap hari kami juga berkomunikasi. Auditing juga dilakukan sama-sama," kata Agus mengakhiri pembicaraan via telepon. (jpnn/zul)

Original Source

Topik Menarik

{