Loading...
Loading…
Meluas, Terdampak Angin Kencang Jadi 140 Titik

Meluas, Terdampak Angin Kencang Jadi 140 Titik

Nasional | radarjogja | Rabu, 30 Maret 2022 - 10:00

RADAR JOGJA Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mendata, dampak bencana hidrometeorologi berupa hujan disertai angin kencang pada 28-29 Maret lalu terjadi di 140 titik. Taksiran kerugian pun mencapai Rp 1,5 miliar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro menyebutkan, hujan disertai angin kencang Selasa sore (29/3) menambah jumlah lokasi terdampak. Saat kejadian Senin (28/3) ada di 81 titik, kini bertambah menjadi 59 titik alias semakin meluas.

Dampak bencana ini mengakibatkan dua orang tertimpa pohon. Mereka kemudian dilarikan ke rumah sakit. Keduanya adalah warga Beran, Tridadi, Sleman dan Malang, Caturharjo, Sleman.

Adapun total rumah rusak ringan mencapai 59 dan satu rumah rusak berat. Kemudian tiga fasilitas pendidikan, 15 jaringan listrik, empat fasilitas umum, tiga tempat usaha dan lainnya. Sementara ada 150 pohon tumbang akibat bencana ini. Beberapa masih dalam proses pengkondisian, ungkap Bambang, kemarin (29/3). Terpantau beberapa jaringan listrik yang juga terdampak, masih dilakukan pembenahan oleh PLN.

Sebelumnya, Kepala Bidang Anggaran Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman Ibnu Pujarta mengatakan, Pemkab Sleman telah menyiapkan biaya tak terduga (BTT) sebesar Rp 47,78 miliar. Hanya saja, pembagiannya bukan hanya diperuntukkan untuk kebencanaan alam. Melainkan dana tambahan untuk antisipasi bencana nonalam dan sebagai jaminan pengaman sosial. Terkait rincian penggunaan untuk bencana alam, lebih tepatnya di BPBD, terangnya.

Untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi di wilayah kalurahan, juga telah disiapkan. Akan tetapi sumbernya bukan dari dana desa. Di Pemerintah Kalurahan Tlogoadi misalnya. Jogo Boyo Tlogoadi Riswanto mengatakan, pemerintah kalurahan dapat menganggarkan anggaran kebencanaan di luar Covid-19 bersumber dari pendapatan asli desa (PADes), alokasi dana desa (ADD), dana bagi hasil pajak (PBH). Namun persentasenya kecil, melalui pengajuan dan musyawarah bersama. Tapi tidak bisa dipatok nominalnya berapa, katanya.

Antisipasi lain menghadapi potensi dan dampak bencana hidrometrologi, dengan mensinergikan seluruh relawan desa tanggap bencana (Destana), Satlinmas, TNI/Polri, relawan kapanewon, dukuh, seluruh masyarakat dan lainnya. Semua kami libatkan. Peralatan yang disiapkan senso (alat pemotong pohon) karena acap kali pohon tumbang, tandasnya. (mel/laz)

Original Source

Topik Menarik