Loading...
Loading…
Menerima Sinar Matahari Singkat, Datang Malam Terasa Cepat

Menerima Sinar Matahari Singkat, Datang Malam Terasa Cepat

Nasional | radarjogja | Rabu, 30 Maret 2022 - 09:23

RADAR JOGJA Padukuhan Wotawati, Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo berbeda dengan kampung lainnya. Meski kekurangan air dan menerima pancaran sinar matahari lebih singkat, namun warga yang tinggal tetap sehat. Seperti apa keadaannya?

Gunawan, Gunungkidul, Radar Jogja

Secara geografis perkampungan ini berada di lembah Bengawan Solo Purba. Menuju Padukuhan Wotawati dapat ditempuh dari Kota Wonosari melalui Kapanewon Rongkop, melalui Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Sesampainya ke Kapanewon Girisubo, tinggal mencari arah masuk menuju Padukuhan Wotawati. Kurang lebih jaraknya sekitar 36 km. Karena berada di lembah dan jalan menurun, harus dipastikan kendaraan yang akan menuju ke padukuhan tersebut dalam kondisi baik.

Sepanjang rute perjalanan menuju lokasi hanya ada jalan cor blok. Jalan relatif sepi dari kendaraan sehingga bisa lebih leluasa mengendalikan sepeda motor. Padukuhan ini, di bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, timur dan utara dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Sepanjang mata memandang, puluhan rumah penduduk nampak berderet terlihat dari atas. Benteng alam berupa perbukitan nampak kokoh melingkari pemukiman padat penduduk tersebut.

Dukuh Wotawati Robby Sugihastanto,27, mengatakan wilayahnya dihuni 82 kepala keluarga (KK) dengan total penduduk sekitar 450 jiwa. Sebagian besar mata pencaharian sebagai petani dan buruh. Sebagian besar kartu KK juga masih tempel. Banyak juga yang merantau. Saya juga pernah merantau selama delapan tahun, kata Robby saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kemudian dukuh yang baru dilantik setahun terakhir ini membedah secara singkat kampungnya. Padukuhan Wotawati kali pertama dihuni oleh seorang warga yang sedang bercocok tanam. Sudah ratusan tahun lalu. Kemudian membuat gubuk dan rumah ketika berkeluarga. Kemudian menetap dan terjadilah kampung Wotawati, ungkapnya.

Menurutnya tinggal di lembah sangat unik, merasakan sinar matahari lebih singkat dibanding wilayah lainnya. Pagi lebih lama tapi kalau malam terasa lebih cepat. Tapi bagi warga hal tersebut sudah biasa. Sinar matahari di sini pagi terlambat, malamnya cepat, ungkapanya.

Di padukuhan lain pukul 06.30 atau 7.00 sudah terkena sinar matahari. Di Wotawati matahari baru menyinari kampung sekitar pukul 08.00. Begitu juga ketika menjelang malam. Sekitar pukul 16.30 sudah mulai gelap, karena terhalang oleh perbukitan. Kami juga terkendala air bersih. Di sini memanfaatkan air hujan, ucapnya.

Saat musim kemarau tiba, warga membeli air bersih dari tangki swasta dengan harga Rp 130 ribu per 5000 liter. Rata-rata setiap keluarga menghabiskan empat sampai lima tangki per musim kemarau. Saluran PDAM ada tapi dari total 21 titik, 15 titik diantaranya bermasalah dan belum diperbaiki, bebernya.
Selain air dan sinar matahari, sinyal televisi dan provider juga cukup sulit.

Untuk televisi bisa dengan bantuan antena parabola. Walau hidup dalam keterbatasan, warganya tetap bersyukur karena tetap bahagia dan sehat.
Sementara itu, seorang warga Sugito, 60, mengungkapkan jalan di kampungnya belum pernah diaspal. Akses jalan mulai tersambung setelah ada program pengerasan cor blok yang dibangun mulai 1989. Kami berharap jalan dan lainnya (infrastruktur) diperbaiki sehingga memudahkan masyarakat dalam beraktivias, kata Sugito. (bah)

Original Source

Topik Menarik

{
{