Menjadi Guru Seutuhnya

Nasional | ayosemarang | Published at Minggu, 14 Juni 2020 - 14:22
Menjadi Guru Seutuhnya

AYOSEMARANG.COM-- Kata guru dalam bahasa Jawa sering dikaitkan dengan istilah digugu lan ditiru. Memang benar adanya, seorang guru selalu menjadi contoh para murid dalam ucapan dan tingkah laku. 
Dimulai dari madrasah paling awal yakni orang tua sebelum murid masuk ke sekolah formal. Disadari atau tidak karakter anak sedikit banyak terbentuk oleh karakter orang tua. Oleh karena itu untuk membentuk pribadi yang berkarakter orang tua harus berhati-hati baik dalam ucapan maupun perbuatan.
 
Tidak jauh berbeda dengan seorang guru baik yang mengajar pada pendidikan formal maupun nonformal. Dalam bukunya KH MA Sahal Mahfudh "Nuansa Fiqih Sosial" bahwa, meskipun pengajar dan pendidik memiliki konotasi yang berbeda, namun keduanya memiliki fungsi yang seharusnya tidak bisa terpisah dari guru.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar". Dalam hadits lain Rasululullah juga menegaskan "Barang siapa mendidik anak kecil hingga ia mampu mengucapkan kalimat Laa ilaaha illa Allah, maka Allah tidak akan menghisabnya kelak,". 

AYO BACA : Sabar dan Ikhlas dalam Pandemi Covid-19

Bahkan di dalam Al-Qur'an surat al Jumuah ayat 2, Allah berfirman, "Dialah yang mengutus kepada kaum buta huruf seorang rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan benar-benar mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.
 
Dari hadits tersebut betapa seorang guru yang telah mengajarkan suatu kebaikan di muliakan oleh Allah. Dalam ayat Al-Qur'an juga sangat jelas dikatakan bahwa Allah mengutus seseorang rasul untuk mengajarkan sesuatu kepada kaum buta huruf. Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksud dengan kaum yang buta huruf adalah bangsa Arab di masa itu. 

Penyebutan kaum yang ummi (buta huruf) secara khusus bukan berarti menafikan selain mereka, tetapi anugerah ini terasa oleh mereka lebih menyentuh dan lebih banyak berkahnya kepada semua makhluk atas pembelajaran tentang isi Al-Qur'an yang disampaikan melalui Rasulullah SAW.

AYO BACA : Menerjemahkan Lima Arahan Presiden terkait Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru

Sementara dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro', dan juga lebih tua usianya, sebagaimana Abu Hanifah yang memilih tuan Hammad bin Abu Sulaiman yang dijelaskan dalam kitab Ta'lim Muta'alim. Dalam Hal ini beliau berkata, "beliau saya kenal sebagai orang tua yang budi luhur, berdada lebar serta penyabar. Saya mengabdi di pangkuan tuan Hammad bin Abu Sulaiman, dan ternyata sayapun berkembang,".
 
Diambil kesimpulan bahwa seseorang guru hendaklah memiliki sifat yang penyabar, berbudi luhur, alim, waro', dan usianya lebih tua. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah menguasai materi atau ilmu yang diajarkan kepada murid.
 
Tentunya, sifat-sifat tersebut tidak hanya diaplikasikan saat berada di lingkungan sekolah, tetapi juga di manapun berada. Karena status guru secara umum di mata masyarakat tidak hanya dipandang di madrasah/ sekolah saja, tetapi dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. 

Oleh karena itu seorang guru harus bisa menjaga sikap dan menjadi contoh di manapun dan kapanpun. 

Di masa seperti saat ini, mewabahnya virus covid-19 menyebabkan pembelajaran dilakukan secara online/ dalam jejaring internet. Bahkan santri di pesantren pun sementara dipulangkan untuk memutus mata rantai penularan covid-19. Selama dua bulan lebih pembelajaran daring dilaksanakan. Meskipun dengan video atau aplikasi secara tatap muka via HP, tetap akan berbeda saat pembelajaran secara langsung antara guru dan murid.
 
Disadari atau tidak setelah pembelajaran daring selama dua bulan lebih, sedikit banyak pasti akan terjadi perubahan pada murid, baik pada sikap maupun secara pengetahuan. Perubahan dapat mengarah kepada hal yang positif atau justru negatif. Yang perlu diantisipasi adalah perubahan yang mengarah pada hal yang negatif, baik dalam ucapan maupun perbuatan. 

Bila hal ini terjadi, guru harus siap menata siswa atas perubahan yang terjadi untuk terus membentuk generasi yang berkarakter. Di sinilah guru harus memiliki sifat sabar, meski harus menata ulang atau membentuk karakter siswa dari awal. Betapa sang guru sangatlah mencintai murid-muridnya. Hal ini sebagaimana mam Asy Sya'rani yang menceritakan gurunya yakni Syaikh Syihab adalah orang yang wara', zuhud, alim, bagus keyakinannya lebih-lebih dihadapan orang sufi.
 
Imam Asy-Sya'rani berkata, "Syaikh Syihabuddin sangat mencintaiku sebagaimana kecintaan tuan kepada sahayanya,".
 
Banyak ahli fiqih, ulama, dan pelajar yang hampir tidak pernah pergi dari sisinya baik siang maupun malam. Namun Hal ini tidak membuatnya lupa pada keluarga dan anak-anak. Syaikh Syihab tetap memberikan pendidikan terbaik kepada mereka, hingga salah satunya menjadi ulama besar di Mesir, Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar Ramli.
 
Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Hamzah Ar Ramli wafat pada 957H/ 1550H. Jenazahnya disalati di Masjid al Azhar oleh puluhan ribu manusia yang menyemut baik di dalam dan di luar masjid. Saat itu bertepatan hari Jumat, sampai-sampai sebagian dari mereka salat Jumat di masjid lainnya, lalu kembali untuk ke al Azhar untuk menyalatinya dan memberikan penghormatan terakhir.
 
Seorang guru dikatakan berhasil bukan karena gaji besar yang diterima dan tunjangan yang didapat, akan tetapi dilihat dari seberapa banyak siswa yang berubah menjadi lebih baik. Profesi guru yang dijalankan dengan penuh sifat wira'i, doa, kasih sayang pada murid akan menjadikan siswanya meraih sebuah ilmu yang manfaat dan barokah. Demikian ini dapat dibuktikan secara nyata pada imam Syihabuddin at Ramli (sang guru hebat).
 
Jangan lelah menjadi panutan (guru), karena ini sebuah amalan. Tebarkan pendidikan cinta dan kasih sayang di akhir zaman, untuk meraih rida dan cinta Tuhan.

-- Zaim Fida, guru di MTs Tahfidh Putri Yanbu'ul Qur'an 2 Muria, Kudus

AYO BACA : Membidani (Kembali) Pancasila di Masa Pandemi

Artikel Asli