Loading...
Loading…
Gejolak Harga Minyak Bisa Mencapai 150 US, Rusia Masih di Embargo

Gejolak Harga Minyak Bisa Mencapai 150 US, Rusia Masih di Embargo

Nasional | law-justice.co | Jumat, 18 Maret 2022 - 23:42

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak lebih dari 8 persen ke level di atas 100 dollar AS per barrel pada perdagangan Kamis waktu AS. Pasar minyak yang lesu beberapa waktu terakhir, menguat karena ada kekhawatiran baru yang mengganggu pasokan energi Rusia.

Mengutip CNN, Jumat (18/3/2022), harga minyak mentah berjangka Brent naik 9 persen menjadi ke posisi 106,98 dollar AS per barrel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 8 persen menjadi ke posisi 102,98 dollar AS per barrel.

Puncak harga tertinggi tepatnya pada 27 Februari 2022 , hanya berselang 3 hari sejak invasi Rusia dimulai ke Ukraina. hari ini adalah hari ke 23 sejak invasi di mulai.

Potensi penyebab kenaikan harga minyak dunia

Ketika Amerika Serikat (AS) dan Inggris menyatakan embargo pada minyak mentah Rusia, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.Harga minyak dunia terus merosot setelah sempat melonjak ke level 139 dollar AS per barrel,

Rusia merupakan pengekspor minyak mentah terbesar ke-2 di dunia dengan kontribusi 7 persen dari total minyak global. Sanksi itu akan menggangu perdagangan minyak Rusia sekitar 4-5 juta barrel per hari di pasar global. Tren berbalik ketika Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan akan meningkatkan produksi minyak dan mendorong negara-negara OPEC melakukan hal yang sama, guna memenuhi kekosongan pasokan dari Rusia.

Baca Juga :
Minyak Dunia Mulai Turun BBM Turun, Belum Tentu

Harga minyak semakin melemah ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam sebuah pertemuan, bahwa negaranya akan terus memenuhi kewajiban kontraknya pada pasokan energi. Terlebih adanya negosiasi antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung untuk membahas perdamaian. Sentimen-sentimen itu membuat harga minyak mentah dunia terus merosot hingga sempat berada di bawah 94 dollar AS per barrel pada perdagangan awal pekan ini. Namun, kini jelang akhir pekan minyak dunia kembali melonjak ke atas 100 dollar AS per barrel.

Ancaman Naik Harga Minyak memperburuk inflasi

Meroketnya harga minyak ini sedang diawasi ketat oleh para pemimpin AS, baik di Gedung Putih maupun Wall Street. Pasalnya, harga energi yang tinggi menjadi ancaman yang dapat memperburuk inflasi dan memperlambat perekonomian. Meski negosiasi antara Rusia dan Ukraina sedang berlangsung, pelaku pasar pesimis kesepakatan perdamaian kedua negara dapat dicapai dalam waktu dekat. Pihak Rusia pun menyatakan belum ada kesepakatan terkait perdamaian dengan Ukraina. "Suasana telah sedikit gelap.

Baca Juga :
‘Emas Hitam’ Melesat ke Langit, Tembus US$110 Per Barel!

Sepertinya, invasi yang dilakukan Rusia akan menjadi situasi yang berlarut-larut," ujar Robert Yawger, Wakil Presiden Energi Berjangka di Mizuho Securities.

Diberitakan Sri Mulyani menyatakan bahwa : Konflik Rusia-Ukraina Bawa Ancaman Nyata bagi Dunia Kabar adanya negosiasi Rusia dengan Ukraina yang memberi harapan akan potensi gencatan senjata memang menjadi faktor utama yang membuat harga minyak baru-baru ini turun.

Namun, gencatan senjata itu justru tak kunjung terjadi. Padahal semakin lama perang berlangsung, maka semakin besar ancaman terhadap aliran minyak Rusia di pasar global. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan pada Rabu kemarin, bahwa 30 persen dari pasokan minyak Rusia kemungkinan akan dihentikan dalam beberapa minggu ke depan. "Implikasi dari potensi hilangnya ekspor minyak Rusia ke pasar global tidak dapat diremehkan," kata IEA dalam laporan bulanannya.

Bisa menembus 150 US perbarel

Dilansir dari media TV Perkembangan konflik yang pernah terjadi antara Rusia dan juga Ukraina menurut data dari US administration information tercatat bahwa negeri beruang merah tersebut mampu memproduksi sebanyak 10,5 juta barel minyak per harinya . Hanya kalah dari Amerika serikat dan juga Arab Saudi .

Artinya Rusia merupakan salah satu produsen utama minyak dunia konflik yang terjadi Amerika serikat dan juga sekutunya pun berencana untuk melarang ekspor minyak dari Rusia sebagai sanksi berat dan tentunya hal itu akan membuat dunia kekurangan pasokan minyak di mana permintaan akan tetap sangat tinggi maka harga pun kian meningkat tajam.

Seorang analisis komoditas UBS mengatakan bahwa dalam waktu dekat harga bisa saja melesat mencapai 125 USD bahkan bukan tidak mungkin bahwa harga tersebut akan terus melesat seiring dengan perang yang kian diperpanjang bahkan bisa saja mencapai 150 US Dollar.

Peluang bagus Harga Energi Terbarukan

Diketahui grafik arusnya harga minyak bumi sempat mengalami penurunan karena penggunaan fosil akan semakin dibatasi berdasarkan perjanjianParis Green , tapi terjadi keterbalikan malah minyak bumi sekarang makin meningkat disebabkan karena persediaan minyak semakin berkurang akibat Rusia mulai membatasi produksi minyaknya antara ekspor minyak Rusia mulai dibatasi oleh Amerika dan Eropa sehingga menjadikan terangkan harga menjadi naik hal ini harusnya akan menyebabkan energi terbarukan semakin turun yang lebih kompetitif potensi untuk semakin mudah dikembangkan di kemudian hari karena sudah bisa menyaingi harga minyak mentah.

Baca Juga :
Deretan Harga Energi yang Naik Akibat Invasi Rusia ke Ukraina

Tapi sayangnya indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Myanmard yang sudah menghasilkan tenaga solar panel sampai 10GW sementara Indonesia baru 200 MW, disampaikan Darmasurya selaku Pengamat Energi dan ketua Masyarakat Energi Terbarukan dalam webinarMIGAS DAN TRANSISI ENERGI berapa waktu lalu 17 Maret 2022.

Original Source

Topik Menarik

{