Loading...
Loading…
Sekolah Kudu Perketat Siswa Saat Jam Istirahat

Sekolah Kudu Perketat Siswa Saat Jam Istirahat

Nasional | rm.id | Jumat, 21 Januari 2022 - 08:00

Butuh penyesuaian saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah agar Covid-19 tidak menyebar. Salah satunya, waktu istirahat siswa dan ventilasi ruangan kudu diatur.

WHO (World Health Organization) Indonesia mengunggah meme beberapa anak yang bermain riang gembira di halaman sekolah sambil mengenakan masker. Di dalamnya ada informasi soal waktu istirahat sekolah di tengah pandemi Covid-19.

Atur giliran istirahat dan dukung aktivitas di luar ruangan jika memungkinkan, agar sekolah aman dari Covid-19. Buka jendela dan pintu untuk memastikan ventilasi, tulis WHO Indonesia.

Netizen setuju aturan jam istirahat dan ruang kelas harus diperhatikan ketat. Ruang terbuka dan ventilasi udara yang baik modal dasar bagi sekolah yang menyelenggarakan PTM supaya terhindar dari paparan Covid-19. Termasuk, antisipasi terjadinya klaster sekolah.

Akun @ zulkarwin meminta pihak sekolah betul-betul menerapkan protokol Covid-19 ketat.

Sekolah juga kudu menyiapkan mekanisme pengawasan untuk anak didik saat jam istirahat dan tidak kontak fisik, sarannya.

Jam istirahat diperketat dengan mencegah siswa-siswi berkumpul tak berjarak lewat pengumuman, saran @ MMunir .

Akun @ Musri_Sebumi mengusulkan tiga hal kepada pihak sekolah. Pertama, sekolah menghidupkan kembali Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Kedua, jam belajar dikurangi sehingga tidak diperlukan waktu untuk istirahat. Dan ketiga, membagi peserta didik atau siswa menjadi pagi dan siang.

Ini dilakuan agar sekolah tidak menjadi klaster Covid-19, kata dia.

Idealnya, kata @ pandemictalks , untuk menghadirkan PTM risiko rendah, sekolah menyiapkan tiga variabel utama melawan virus Corona. Yaitu, ruangan kelas harus memiliki ventilasi yang baik, durasi belajar mengajar di dalam kelas kurang dari 1 jam, mengurangi jumlah siswa di dalam kelas dan menerapkan jaga jarak.

Jika ini gagal dipenuhi, risiko penularan akan semakin tinggi, kata dia.

Virus Corona mudah menular di ruang tertutup, sehingga ventilasi udara sekolah harus sering dibuka, termasuk ruang kelas berpendingin ruangan, sambung @ ferdymad .

Akun @ ra_spog mencontohkan sekolah dasar di Amerika Serikat. Kepatuhan siswa memakai masker dan ventilasi udara yang baik pada ruang kelas dapat mengurangi 30-40 persen kasus Covid-19. Mungkin cara ini bisa diterapkan di Indonesia, saran dia.

Akun @ ainunnajib mengungkapkan, sangat sedikit bahkan jarang sekolah jadi klaster Covid-19. Jika ada, tidak pernah menjadi sangat masif. Dengan disiplin masker, prokes dan interaksi dibatasi teman sekelas saja sudah cukup, kata dia.

Menurut @ drprioni1 , penularan Covid-19 tidak terjadi di sekolah, tapi di keluarga. Sekolah, penting melakukan edukasi kepada anak agar perilaku prokes bisa mengubah perilaku keluarga.

Anak perlu belajar hidup dan sekolah di masa pandemi, kata dia.

Dengan mematuhi segala protokol kesehatan sekolah, kita dapat menciptakan tempat yang sehat dan terlindungi dari bahaya Covid- 19, tandas @ StaySoberk .

Sementara, @ partnerinvain melihat banyak anak-anak sekolah yang abai memakai masker. Mereka memakai masker di dagu.

Pada saat yang sama, sekolah tancap gas full dengan waktu yang panjang dengan kelas minim ventilasi, air cuci tangan dan sabun sering habis, katanya.

Jadi, penting banget prokes jalan terus, timpal @ mporatne . Problem utama sekolah adalah tidak ada orang yang mau mengawasi pelaksanaan prokes di sekolah, sambung @ theunknownm4n .

Akun @ taehyungvbt5 lebih setuju PTM hanya dengan kapasitas 50 persen dari siswa per kelas. Soalnya, banyak sekolah yang tidak taat prokes. Guru-gurunya, saat mengajar melepas masker. [TIF]

Original Source

Topik Menarik