KLHK Tangkap 2 Penjual Kantong Semar Super Langka dari Kalimantan ke Taiwan

inewsid | Nasional | Published at 29/05/2020 00:52
KLHK Tangkap 2 Penjual Kantong Semar Super Langka dari Kalimantan ke Taiwan

JAKARTA, iNews.id - Tim operasi gabungan Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama BKSDA Kalimantan Barat SKW II Sintang berhasil menangkap dua penjual tumbuhan dilindungi jenis kantong semar. Keduanya diketahui menjual tanaman kantong semar jenis Nepenthes clipeata dan Nepenthes spp ke Taiwan.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iryono mengatakan ini pertama kalinya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengamankan kasus perdagangan tumbuhan dilindungi. Sustyo menegaskan KLHK akan menelusuri lebih lanjut kasus ini.

"Terutama untuk mendeteksi jaringan internasional perdagangan tumbuhan dilindungi," kata Sustyo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Dua pelaku yang ditangkap berinisial RB (23) dan MT (32). Keduanya ditangkap di Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat dan kini ditahan di Kantor Seksi Wilayah Pontianak, Balai Gakkum Kalimantan.

Saat ditangkap keduanya kedapatan membawa 25 paket kantong semar dan tumbuhan dilindungi lainnya seperti Sonerila, Komalomena silver, Vilodendrum boceri, Labisia kura-kura, dan Alokasia silver. Dari pengakuan pelaku tumbuhan dilindungi itu akan dikirimkan kepada pemilik nursery di Taiwan berinisial AC.

"AC diketahui merupakan penjual berbagai jenis kantong semar dari sejumlah negara di Asia Tenggara," ucap Sustyo.

RB dan MT mengaku menjual satu pokok tumbuhan dengan harga Rp500.000 kepada AC. Komunitas Suara Pelindung Hutan pernah melaporkan AC sebagai perambah dan penyelundup tumbuhan dilindungi di Indonesia.

Nepenthes clipeata termasuk tumbuhan karnivora endemik yang hanya tumbuh di Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat sebagai tanaman yang sangat berisiko punah. Tumbuhan itu tumbuh di celah-celah curam batuan granit.

IUCN (International Union for Conservation of Nature) pada tahun 2014 menetapkan Nepenthes clipeata masuk dalam Red List critically endangered. Dua pelaku mengaku sudah mengambil tumbuhan dilindungi di kawasan itu sejak 2017 untuk dijual kepada pembeli di luar Kalimantan, Taiwan, Penang, Kuching, dan Kuala Lumpur di Malaysia.

Keduanya terancam dijerat Pasal 21 Ayat 1 Huruf a Jo Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Mereka terancam hukuanm pidana penjara maksimum lima tahun dan denda maksimum Rp100 juta.

"RB sebagai pemilik tumbuhan dilindungi itu kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan MT merupakan saksi. Tersangka dititipkan di Rutan Polda Kalbar," ujar Sustyo.

Artikel Asli