Dinas Pendidikan Mediasi Kasus Kekerasan Guru di Sampang

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 20:05
Dinas Pendidikan Mediasi Kasus Kekerasan Guru di Sampang

JawaPos.com Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang, Jawa Timur, lakukan mediasi kasus dugaan kekerasan yang dilakukan salah seorang guru di SMP Negeri 1 Camplong terhadap muridnya. Kasus itu dilaporkan ke aparat kepolisian setempat.

Menurut Kepala Dispendik Pemkab Sampang Edi Subianto, kasus dugaan kekerasan itu terjadi pada September 2021. Kejadian itu saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Siswa yang menjadi korban kekerasan melaporkan kejadian tersebut pada orang tuanya. Orang tua siswa langsung melaporkannya ke Mapolres Sampang, kata Edi Subianto seperti dilansir dari Antara , Minggu (9/1).

Dinas Pendidikan Sampang, sambung dia, berupaya melakukan mediasi mendamaikan kedua belah pihak. Pada Sabtu (8/1/2022) telah tercapai kesepakatan damai antara guru dengan orang tua siswa. Kami berharap kasus ini tidak terulang lagi, karena ini menyangkut citra baik lembaga pendidikan, tutur Edi.

Hasil penyidikan Polres Sampang terhadap para pihak menyebutkan, dugaan kasus kekerasan di dunia pendidikan yang terjadi di SMP Negeri 1 Camplong Sampang itu berlangsung saat kegiatan belajar mengajar pada 9 September 2021. Penyebabnya, karena para siswa membuat kegaduhan di dalam kelas.

Sebanyak 10 orang siswa dipukul guru berinisial W dan dijemur di terik sinar matahari di lapangan sekolah itu. Menurut Kadisdik Edi Subianto, sebenarnya maksud guru itu baik. Yakni hendak membina siswa didik disiplin dan beretika. Hanya saja, cara-cara kekerasan fisik seperti yang dilakukan kepada 10 orang siswa di SMP Negeri 1 Camplong Sampang tersebut tidak dibenarkan pada era saat ini.

Kami juga tidak bisa menyalahkan para orang tua siswa yang melaporkan kasus ini ke polisi, karena mereka tentu juga telah memahami pola penerapan pendidikan yang benar dan mereka juga memahami mendidik dengan cara-cara kekerasan merupakan bentuk tindakan terlarang, terang Edi Subianto.

Oleh karena itu, sambung Edi, pihaknya berupaya melakukan mediasi untuk mendamaikan kedua belah pihak secara kekeluargaan. Kadisdik Sampang menjelaskan, ada dua poin kesepakatan damai saat mediasi dilakukan yang dihadiri perwakilan orang tua siswa yang menjadi korban, oknum guru, Dinas Pendidikan Sampang, Perwakilan PGRI dan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 1 Camplong, Sampang itu.

Yakni Dispendik Sampang diminta membuat kebijakan yang berupaya mencegah agar kasus serupa tidak terulang lagi. Kedua, perwakilan orang tua korban kekerasan itu meminta agar Dispendik Sampang menjaminkepada para korban kekerasan agar tidak diperlakukan secara diskriminatif di sekolah, sehingga mereka bisa tenang belajar dan persyaratan itu kami sanggupi, ucap Edi.

Kasus kekerasan di dunia pendidikan sebagaimana terjadi di SMP Negeri 1 Camplong, Sampang, Madura, Jawa Timur, itu merupakan kali ketiga dalam kurun waktu 2018 hingga 2021. Kasus pertama, menimpa seorang guru bernama Ahmad Budi Cahyono. Yakni seorang guru honorer di SMA Negeri Torjun Sampang yang dipukul muridnya hingga meninggal dunia.

Kedua, menimpa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Gunung Sekar 1 Kecamatan Kota Sampang. Sang guru diproses hukum gara-gara menjewer telinga siswanya.

Ketiga, di SMP Negeri 1 Camplong Sampang. Guru memukul siswa dengan kayu balok hingga menyebabkan korbannya mengalami luka memar.

Artikel Asli