Tepatkah Menyiasati Learning Loss dengan Kembali ke Sekolah?

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 13:33
Tepatkah Menyiasati Learning Loss dengan Kembali ke Sekolah?

Berbayang Kekhawatiran Orang Tua, PTM 100 Persen (dan Varian Omicron) Jalan Terus

Pemerintah membuka keran pembelajaran tatap muka (PTM) lebih lebar mulai awal tahun ini. Bahkan, toleransinya bisa sampai 100 persen. Bersamaan dengan itu, kasus Omicron merebak di Indonesia. Pandemi Covid-19 belum usai.

JUJUR, saya masih takut, ungkap Joko, wali siswa SMAN 2 Cibinong, saat diwawancarai Jawa Pos pada Jumat (7/1). PTM telah berlangsung sekitar sepekan. Namun, tiap hari saat melepas anaknya kembali belajar di sekolah, Joko waswas. Kan kita nggak tahu bagaimana anak-anak lainnya selama di sekolah, katanya.

Warga Kabupaten Bogor itu tak sendiri. Banyak orang tua lain yang punya perasaan sama dengannya. Melepas putri-putri ke sekolah setelah sekitar dua tahun belajar dari rumah (BDR) memang tidak mudah. Apalagi, jam belajar sudah mendekati normal dan para siswa masuk sekolah tiap hari.

Lelaki yang gemar touring itu menyatakan, bersama dengan beberapa wali siswa lain, dirinya akan menghadap pihak sekolah untuk mengungkapkan keresahannya. Jika diperkenankan, Joko ingin sekolah menerapkan sistem jeda. Dengan demikian, siswa tidak setiap hari pergi ke sekolah.

Sama seperti sebelumnya, diberi pilihan (PTM dan BDR, Red). Sebab, pandemi Covid-19 belum selesai, tutur Joko. Kasus Omicron yang belakangan meningkat juga menambah kecemasannya. Rata-rata kasus itu muncul di Jakarta. Sementara itu, jarak Cibinong dan Jakarta tidak jauh.

Punya anak usia remaja membuat Joko tidak bisa terus-menerus memantau aktivitasnya. Baik di sekolah, dalam perjalanan pulang ke rumah, maupun saat menuju ke sekolah. Dia tak bisa memastikan anaknya terbebas dari ancaman virus. Kendati sang anak menerapkan protokol kesehatan dengan tertib, belum tentu teman-temannya atau orang-orang yang dijumpai di jalan melakukan hal yang sama.

Joko yang juga punya buah hati usia SD menuturkan, aturan di sekolah anaknya yang lebih kecil justru lebih berterima. Sebab, ada pembagian kelompok tiap kelas. Sistem PTM pun bergantian. Kelompok pertama masuk sepekan lebih dulu. Lalu, kelompok kedua masuk pekan berikutnya.

Di sisi lain, Inung Kurnia justru dengan senang hati mengembalikan anaknya ke sekolah. Mulai Senin lalu, sekolah anakku sudah PTM 100 persen. Masuk pukul 06.30, pulang pukul 11.40, ujar warga Jakarta Selatan yang anaknya duduk di bangku kelas VII SMPN 43 itu.

Meskipun masuk tiap hari, jam belajar disusut 5 menit, menjadi 40 menit. Inung mantap melepas anaknya ke sekolah karena seluruh siswa, guru, dan warga sekolah lainnya sudah mendapat dua dosis vaksin. Sebelum masuk kelas, siswa dan guru juga wajib memindai QR code aplikasi PeduliLindungi. Setelah itu, semua handphone dikumpulkan di dalam boks, ucap Inung.

Kepada Jawa Pos, dia mengaku lebih senang jika anak-anak kembali belajar di sekolah. Itu akan menjauhkan mereka dari ketergantungan pada gawai. Selama dua tahun BDR, Inung menyebut pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak efektif karena anak-anak malah memakai handphone untuk kepentingan lain. Misalnya, bermain games. Bismillah. Lebih khawatir anak kecanduan HP daripada (terkena, Red) Omicron, tegasnya.

Sementara itu, sejumlah legislator menyebut PTM 100 persen di tengah pandemi sebagai kebijakan yang berani. Namun, menurut Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, keputusan itu sudah melewati rangkaian pertimbangan dari tim Kemendikbudristek. Termasuk mempertimbangkan sisi akademis dan sisi medis. Kami yakin, keputusan PTM 100 persen merupakan kajian yang cukup panjang dan bukan keputusan emosional, terang Huda.

Hampir dua tahun terakhir, kualitas pendidikan di Indonesia mengkhawatirkan. Learning loss bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kondisi yang kita hadapi bersama. Survei Kemendikbudristek menunjukkan bahwa peserta didik mengalami kemunduran kapasitas akademik. Siswa kelas I SD, misalnya. Sebelum pandemi, kemampuan literasi mereka berada di poin 129. Kini, poinnya hanya 77. Lalu, kemampuan numerasi yang semula 78 poin turun di kisaran 34. Situasi ini tidak bisa terus dibiarkan, jelasnya.

Model pendidikan selain PTM, menurut Huda, tidak efektif. Baik PJJ maupun hybrid. Sarana-prasarana tidak memadai, beban kurikulum tidak kompatibel, dan kultur belajar tak terbentuk. PTM masih satu-satunya model pembelajaran yang paling efektif untuk level dasar dan menengah, tandasnya.

Artikel Asli