Energi Berlebih dan Pengawasan Minim Jadi Penyebab Tawuran Pelajar

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 12:01
Energi Berlebih dan Pengawasan Minim Jadi Penyebab Tawuran Pelajar

JawaPos.com Semangat anak-anak kembali sekolah dengan 100 persen pembelajaran tatap muka (PTM) setelah 2 tahun belajar di rumah akibat pandemi sedang meluap-luap. Oleh karena itu, kekerasan anak seperti tawuran kerap terjadi selepas jam sekolah selesai.

Persoalan mengisi waktu luang dan tidak adanya kegiatan yang tersistem dan terstruktur menjadi penyebab utamanya. Hal itu disampaikan oleh Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra.

Anak-anak selepas sekolah memiliki kebutuhan menyalurkan energi lebihnya. Mereka perlu tempat dalam menyalurkan bakat dan minatnya. Tapi banyak anak terjebak dalam pergaulan yang diwarnai kekerasan akibat tidak mendapatkan tempat dalam mengisi waktu luang. Sehingga mereka ikut-ikutan, jelas dia kepada JawaPos.com , Minggu (9/1).

Pengawasan orang tua selepas anak selesai jam belajar di sekolah pun menjadi sangat penting, baik itu jenjang SD, SMP dan SMA atau SMK. Karena kecenderungan terjadinya kekerasan atau tawuran pelajar pasca lepas dari sekolah.

Apalagi kondisi emosional di masa pandemi berpotensi anak memiliki agresivitas yang tinggi. Selain itu, latar belakang keluarga menjadi persoalan lanjutan bagi para pelajar yang menjadi pelaku kekerasan.

Perubahan karakter anak menjadi temperamen disebabkan kebiasaan melihat penyelesaian masalah dengan kekerasan, sehingga anak menirunya. Mereka bukan pendengar yang baik, tapi peniru yang ulung, tambahnya.

Untuk itu, dirinya mengajak para guru, orang tua dan sekolah memampukan peserta didik dalam mengendalikan emosi selama PTM di masa pandemi, menaati protokol kesehatan dan menciptakan kegiatan yang penuh makna, agar tidak direbut aksi kekerasan.

Terutama mengajak anak-anak menjadi pengurang dampak bencana, bersama prestasi dan kreatifitas mereka. Kita tidak ingin PTM yang baru dimulai ini, tercederai dengan aksi tawuran pelajar dan kekerasan pelajar, tandas Jasra.

Artikel Asli