4 Gubernur Paling Eksis di Medsos, Anies Melekat dengan Diksi Presiden

Nasional | sindonews | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 10:26
4 Gubernur Paling Eksis di Medsos, Anies Melekat dengan Diksi Presiden

JAKARTA - Center for Indonesian Reform (CIR) bekerja sama dengan Datasight Indonesia melakukan monitoring online atas kinerja Gubernur di Indonesia. Direktur Datasight, Radhiatmoko menyebut, penelitian ini untuk melihat besaran publikasi media dan percakapan media sosial (medsos) terhadap sejumlah kepala daerah.

Direktur DataSight Indonesia dan Dosen Sosiologi Digital Universitas Indonesia Radhiatmoko mengatakan, penelitian dilakukan selama sebulan penuh, mulai tanggal 1-31 Desember 2021. Dalam periode tersebut berhasil dihimpun 52.310 artikel dan pembicaraan di media sosial terkait kinerja Gubernur se-Indonesia.

"Hasilnya ada empat gubernur dengan ulasan tersebar, di antaranya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan 18.359 ulasan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan 10.704 ulasan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dengan 10.525 ulasan, serta Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dengan 5.142 ulasan," kata Radhiatmoko dalam keterangan tertulis, Minggu (9/1/2022).

Radhiatmoko menjelaskan Ridwan Kamil unggul dalam pemberitaan di media online (10.525 artikel), diikuti Anies (9.170 artikel), Ganjar (5.759 artikel) dan Khofifah (5.142 artikel).

Penyebutan nama Anies di media sosial lebih tinggi dibanding Gubernur lain. Di aplikasi twitter nama Anies disebut sebanyak 8.795 kali dan Youtube 381 kali. Sementara Ridwan Kamil di Twitter disebut 5.174 kali dan Youtube 93 kali. Pencarian di Facebook dan Instagram masih minim untuk bisa dilacak publik.

"Sementara nama Ganjar di twitter disebut 4.726 kali dan Youtube 215 kali. Sedangkan nama Khofifah di Twitter disebut 2.215 kali dan Youtube 39 kali," jelas Radhiatmoko.

Dari peta word cloud, pemberitaan dan percakapan tentang Anies sudah mengarah pada diksi 'Presiden' dan 'Pilpres', meski isu penanganan Covid dan pemulihan Kesehatan masih terlihat.

Ganjar seperti Anies, lebih kuat diksi Presiden, yang diperkuat dengan isu Elektabilitas berdasar Survei. Sementara itu Khofifah lebih menonjol isu Menteri daripada Presiden, topik bencana Semeru mencuat di tengah Covid.

Radhiatmoko menambahkan dari sekian banyak ulasan tentang Anies, cukup besar warganet yang berpandangan netral (51,92%) ketimbang mereka yang bersifat Pro (30,04% sentiment) atau kontra (18.04% sentimen negatif).

Sementara tentang Ganjar, dari 10.704 pemberitaan dan ulasan, terdapat 47,30% sentimen netral, 43,54% positif dan 9,16% negatif. Sikap netral menunjukkan masih menunggu kinerja kongkret para Gubernur.

Untuk pemberitaan dan ulasan media sosial terkait Ridwan Kamil: 51,43% bersentimen netral, 38 dengan 15% positif dan 10,42% negatif. Sedangkan terkait Khofifah terlacak sentimen netral 44,90%, positif 45,74% dan negatif 9,35%," kata Radhiatmoko.

Sentimen positif Anies dibentuk pendukungnya melalui hestek: #PeopleOfTheYear2021 dan #DukungAniesPresiden2024, sedangkan sentiment negatif bersumber dari hestek: #AniesGagalTotal dan #SumurResapAnggaran.

Pendukung RK menampilkan hestek positif dengan memperkuat citra personal: #RidwanKamil, #KangEmil, #Cawapres2024 serta #JabarJuara.

Sementara pendukung Ganjar memperkuat hestek: #SahabatGanjar serta memperluas #SahabatGanjarBali dan #SahabatGanjarJambi.

Pendukung Khofifah menggunakan hestek: #PeopleOfTheYear2021 dan #RI2KBFM, serta isu local: #PrayForLumajang dan #ingatpesanibu.

Menanggapi hasil monitoring itu, Direktur Center for Indonesian Reform, Mohammad Hidayaturrahman menyebut saat ini peran media online dan dan media sosial sangat mempengaruhi pemikiran pemilih. Info yang disajikan media dan kemudian ditanggapi di media sosial, bisa menjadi referensi bagi masyarakat untuk memahami isu aktual dan tokoh yang terlibat di dalamnya.

Dia menilai, sebagian isu di media online dan media sosial berpengaruh terhadap perilaku pemilih di Indonesia. Pengaruhnya parsial, tidak bersifat absolut. Pemilih yang terpengaruh terhadap pemberitaan di media online atau perbincangan media sosial, tidak memiliki bahan referensi lain.

"Mereka tergiring untuk membangun dukungan dan simpati," jelas Hidayaturrahman.

Selain empat nama gubernur di atas, muncul juga nama Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi (2.065), Gubernur Banten, Wahidin Halim (1.652), Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman (1.553), Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi (1.032), Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah (660) dan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji (618).

Artikel Asli