Keris di Tangan Anak Muda

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 10:33
Keris di Tangan Anak Muda

Marcus Garvey (19871940) pernah berkata bahwa A people without the knowledge of their past history, origin, and culture is like a tree without roots.

PERNYATAAN tersebut seperti menyisakan ketakutan besar tentang masa depan eksistensi kekayaan kultural yang telah diwariskan nenek moyang. Sebab, jika pengetahuan mengenai sejarah, muasal, dan budaya di kalangan anak muda mengalami penurunan, dapat dipastikan akan ada persoalan krusial di masa mendatang.

Salah satu kekayaan kultural yang sarat nilai historis itu adalah keris. Sebuah peninggalan peradaban Nusantara yang telah diakui UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Dunia pada 25 November 2005, yang kemudian terenkripsi dalam Representative List of Humanity UNESCO pada 2009. Persoalan pelestarian budaya perkerisan ini adalah tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, akademisi, komunitas, maupun perseorangan.

Jika melihat statistik pengunjung di Museum Keris Surakarta pada 2021, agaknya ketakutan itu runtuh. Keris masih mempunyai tempat di hati masyarakat, khususnya anak muda. Terhitung, sepanjang 2021, meski sempat ditutup lantaran PPKM, pengunjung museum mencapai angka 3.343 orang. Sebanyak 93 persen di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa.

Pergeseran Makna

Data tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan anak muda dalam mempelajari keris cukup baik. Masyarakat agaknya sudah mulai teredukasi bahwa keris mengalami pergeseran makna. Keris bukan lagi sesuatu yang kuno, sesuatu yang tertinggal, dan sesuatu yang menyeramkan. Saat ini keris tidak lagi dimaknai sebagai senjata tusuk, tetapi telah mengalami perkembangan makna menjadi suatu tanda yang dapat digunakan untuk menyatakan atau mengungkapkan nilai-nilai, konsep-konsep, filosofi, dan/atau pegangan hidup yang dianggap luhur.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Haryono Haryoguritno dalam buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar (2006: 3750) bahwa perubahan fungsi keris sejak masa lalu hingga kini ialah sebagai senjata tikam, alat hukuman mati, senjata pamer, atribut keprajuritan, tanda kerajaan, manifestasi falsafah, identitas diri kekuarga, tanda pangkat, tanda jasa, lambang persaudaraan, wakil pribadi, tanda penghormatan, kelengkapan busana resmi, lambang peringatan, warisan, atribut upacara/sesaji, barang pusaka/wasiat, azimat, tempat hunian roh, benda sejarah, benda seni, benda ekonomi, benda antropologi/etnografi, benda koleksi, benda investasi, cenderamata/suvenir, saksi sejarah, lambang kesatuan daerah, dan merek dagang.

Keris dan Anak Muda

Barangkali perkembangan makna keris itulah yang menyebabkan masih banyak anak muda yang mau mempelajari, bahkan mendalami ilmu perkerisan saat ini. Ilmu perkerisan itu sendiri ada di banyak sumber, baik buku, jurnal, maupun internet. Namun, yang paling menarik justru edukasi yang dilakukan seorang anak muda bernama Panji Sukma. Melalui novel berjudul Sang Keris, Panji Sukma mengisahkan keris menjadi sebuah benda budaya yang melintasi dimensi ruang dan waktu. Novel yang menjadi pemenang kedua sayembara novel DKJ 2019 itu diselingi dengan istilah-istilah mengenai keris sehingga novel ini tidak sekadar bercerita, tetapi memberi pengetahuan baru bagi pembacanya.

Keris tidak hanya diciptakan empu yang sudah tua. Di Banyumas, ada seorang anak muda bernama Afrizal Fadli Azizi yang mendarmakan hidupnya untuk menjadi seorang empu atau pembuat keris. Ia mencoba menghidupkan kembali perkerisan Banyumas yang mati suri selama 150-an tahun. Kisahnya sudah difilmkan Rumah Kertas bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jogjakarta sebagai media edukasi kepada anak muda bahwa anak muda juga perlu ambil bagian dalam pelestarian keris.

Keris di Ruang Akademik

Pada 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan menerbitkan sebuah buku berjudul Keris dalam Perspektif Keilmuan. Buku setebal 305 halaman itu berisi beberapa makalah ilmiah dari para pakar perkerisan Nusantara, dari kajian metalurgi, falsafah, historis, dan arkeologis. Buku ini menjelaskan secara detail dan ilmiah mengenai keris sebagai sebuah kajian ilmu yang dipelajari secara teoretis.

Di ruang akademik, keris mempunyai posisi yang strategis, khususnya di ISI Surakarta, yang sejak 2012 mendirikan program studi keris dan senjata tradisional sebagai pengejawantahan mandat dari Kemendikbud. Hingga saat ini ada sekitar 60 mahasiswa yang mengambil program studi tersebut. Sebagai tugas akhir, para mahasiswa mengerjakan tugas akhir berupa keris yang sifatnya mutrani (meniru) dan inovasi (pengembangan) dari yang sudah ada. Bahkan, yang menarik adalah jumlah mahasiswa yang mengambil program studi ini justru kebanyakan perempuan. Sebuah fenomena yang menjelaskan bahwa kecintaan terhadap keris itu lintas gender, menyangkal anggapan bahwa keris adalah dunia milik laki-laki.

Di ruang akademik inilah, pelestarian tradisi dan budaya perkerisan dapat ditinjau dari berbagai perspektif keilmuan melalui disiplin kerisologi. Melalui kerisologi, citra keris terangkat dari pandangan awal yang cenderung mistis-magis ke pandangan ontologis-akademis. Pendirian program studi ini diharapkan menjadi semacam bekal bagi anak muda untuk belajar mengenai keris secara ilmiah.

Setiap dua tahun sekali, ISI Surakarta mengadakan rangkaian kegiatan festival dan pameran keris dengan tajuk Keris Fest. Tahun 2021 ISI Surakarta menyelenggarakan Keris Fest Ke-4 dengan mengangkat tema Being the Local Heroes. Salah satu kegiatannya adalah webinar dengan tema Keris Kamardikan, Spirit Generasi di Masa Pandemi. Semua pembicara merupakan anak-anak muda yang memang terjun dalam bidang perkerisan. Dari sini terlihat masa depan yang cerah keris di tangan anak muda. Ruang akademik memberikan kesempatan lebih luas kepada siapa saja, khususnya anak muda, yang tertarik untuk belajar perkerisan. (*)

DIMAS INDIANA SENJA , Sastrawan dan dosen UIN Saizu Purwokerto, sutradara film dokumenter Keris Kyai Sela

Artikel Asli