Mantra untuk Tahun Baru

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 09:42
Mantra untuk Tahun Baru

Pekan pertama di tahun 2022 telah bergulir. Saya menghela napas panjang sebab kita masih diliputi oleh pandemi, bahkan lonjakan kasus varian Omicron mulai menebar kekhawatiran.

JIKA kita menengok ke tahun yang telah berlalu, tidak hentinya bencana, kehilangan, maupun keresahan hidup mengiringi kita. Adakah mantra untuk menghadapi tahun yang baru? Mantra yang dapat mempersiapkan kita menghadapi hari-hari yang sarat kebimbangan?

Pergantian tahun sering kali dimaknai sebagai kesempatan untuk mencetuskan resolusi bagi diri. Namun, belakangan ini saya merenungkan arti membuat resolusi dalam keadaan yang terlampau simpang siur. Tentu kita ingin mencapai target-target, optimisme semacam ini penting untuk memberikan kita afirmasi diri untuk terus berusaha. Namun, pada peralihan tahun kali ini saya tidak memikirkan resolusi apa pun. Bukan berarti mengabaikan harapan untuk tahun ini, sama sekali tidak, namun saya membayangkan harapan yang paling utama perlu dijaga adalah untuk bertahan hidup.

Dalam konteks ini, saya mengartikan mantra sebagai untaian suara yang berisi harapan yang terpusat pada napas (prana) kehidupan. Mantra yang berasal dari bahasa Sanskerta dan terdiri atas man yang berarti manas atau pikiran dan tra yang berarti instrumen atau alat. Sehingga melalui telisik filosofis, mantra berarti instrumen bagi pikiran untuk dapat mencapai pencerahan.

Berbahagia dalam hidup adalah hal yang fundamental bagi manusia. Diana Lobel, seorang pakar studi agama, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Kebahagiaan menggunakan pendekatan komparatif dalam menjelaskan gagasan kebahagiaan dari beragam pandangan agama maupun tradisi di dunia. Dalam uraiannya tentang filosofi Bhagavad Gita, ia mengatakan bahwa pengertian kebahagiaan dalam Bhagavad Gita terletak pada praktik hidup yang lepas dari keterikatan. Meski demikian, inti dari Bhagavad Gita tidak serta-merta diartikan kehidupan yang pasif dan terisolasi agar bebas dari ikatan nafsu. Inilah keunikan Bhagavad Gita sebab buku ini menekankan pentingnya tindakan serta kesungguhan dalam bertindak.

Saya teringat diskusi kelas filsafat Timur bersama para mahasiswa sebelum penutupan tahun tentang Bhagavad Gita, Bagaimanakah seseorang dapat bertindak penuh dengan komitmen dan totalitas, tanpa terikat terhadap hasil? Untuk memasuki pertanyaan filosofis ini, perlu dipahami Bhagavad Gita sebagai suatu kesatuan dalam epos Mahabharata. Mahabharata merupakan cerita kepahlawanan yang terdiri atas 18 bagian atau parwa, di mana Bhagavad Gita terletak di dalam Bhisma Parwa. Sarvepalli Radhakrishnan, seorang filsuf asal India, mengatakan bahwa puisi kolosal ini menandakan suatu sintesis antara berbagai jalan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan melalui pengetahuan (jnana yoga), tindakan (karma yoga), meditasi (raja yoga), dan ritual/persembahan (bhakti yoga).

Penulisnya, Vyasa, menggubah karya sastra ini terinspirasi dari kitab Veda, khususnya bagian filosofisnya, yakni Upanisad. Para pembaca buku ini disajikan kisah yang menggugah dengan dilema moral, yang kental dengan spekulasi khas permenungan filsafati. Percakapan antara Arjuna dan Krishna sesaat sebelum berperang di Kurukshetra adalah sumber pemikiran yang merefleksikan soal: kebebasan kehendak, keadilan, dan kewajiban. Kebimbangan Arjuna dapat ditafsirkan sebagai krisis eksistensial yang mungkin dihayati oleh siapa pun. Manusia mengalami pertarungan batin serta menjalani pilihan yang tidak selalu diputuskan dalam keadaan yang ideal. Namun itulah kehidupan, kita terjerembap dalam hidup yang mustahil terhindar dari rasa sakit, kesengsaraan, dan kematian.

Dalam Bhagavad Gita sloka 2.48 disampaikan, Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga. Melalui sloka ini, kita dapat mempelajari bahwa Bhagavad Gita menekankan kehendak individu untuk menyadari dan menghidupi kewajibannya (swadharma). Keseimbangan dalam pengertian ini dapat diinterpretasikan sebagai kepekaan intelektual untuk mengendalikan diri, beraktivitas namun tidak terpaut sekadar pada hasilnya. Pada mulanya, kegundahan hati Arjuna dapat diandaikan sebagai kontemplasi pada ranah etis dan rasional, namun pada akhirnya setelah berdialog dengan Krishna ia melakukan lompatan iman untuk memilih dan berserah dalam bhakti.

Selain membaca kembali Bhagavad Gita, saya merenungkan juga cerita tentang burung sakti bernama Garuda yang tertulis dalam epos Mahabharata. Mitos tentang Garuda menceritakan keberanian dan keteguhan makhluk tersebut menyelamatkan ibunya, Vinata, agar bebas dari derita perbudakan. Ia menempuh kesukaran, bertarung dengan sengit untuk menegakkan keadilan. Dewa Vishnu bersimpati pada ketulusan perjuangannya dan membantu Garuda dalam memusnahkan musuhnya. Pada Bhagavad Gita sloka 10.30, Krishna berkata bahwa di antara para burung ia adalah Garuda.

Dalam Garuda Purana disampaikan bahwa dunia yang selalu berubah ini adalah akar dari kesengsaraan. Seseorang yang mengerti tentang hal ini dan melampauinya akan hidup dalam kebahagiaan. Saya memaknai Garuda sebagai simbol kejayaan makhluk yang telah menghadapi yang terburuk dengan segenap kegigihan. Hidup memang tidak terelakkan dari cabaran dan tragedi. Meski begitu, tidak berarti kita berdiam diri. (*)


SARAS DEWI , Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Artikel Asli