Ingatan Kolektif dan Kita Tahu Itu Apa

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 09:23
Ingatan Kolektif dan Kita Tahu Itu Apa

Kiki Sulistyo menghadirkan kode-kode yang terkonotasi dengan ingatan kolektif masyarakat menggunakan bahasa yang sederhana dalam kumpulan cerpennya ini.

KIKI Sulistyo memperlihatkan pada kita melalui buku Bedil Penebusan (Marjin Kiri, 2021) bagaimana ingatan bergerak melalui sastra. Ingatan yang bersemayam dalam kode-kode bahasa, tetapi mudah dipahami; seperti lampion yang mudah diketahui keberadaannya meski tersembunyi di dasar tumpukan jerami.

Keterangan peristiwa tersusun di atas kalimat-kalimat yang sederhana. Menariknya, selalu ada ketukan, atau mungkin belokan cerita yang tiba-tiba membatalkan ekspektasi pembaca, lalu seperti terlempar ke ruang yang lain tanpa maksud menegasikan ruang sebelumnya. Semacam upaya Kiki Sulistyo mengajak pembaca untuk menghindar dari cerita yang klise. Apa yang penulis maksud sekiranya dapat tergambar dalam salah satu cerpen di buku ini: Kebun Pisang di Belakang Rumah.

Cerpen tersebut menjadi judul pertama dalam buku Bedil Penebusan. Seakan menyiratkan pada para pembaca suatu sikap ideologis, yang mewakili cerpen-cerpen selanjutnya. Kebun Pisang di Belakang Rumah menceritakan kehidupan seorang tokoh penyendiri, yang di belakang rumahnya terdapat kebun pisang, tempat pernah terjadi suatu tragedi pembantaian.

Di permulaan cerita, pembaca dihadapkan dengan situasi menegangkan. Ketegangan yang tidak hanya dibangun dari latar tempat peristiwa terjadi, tetapi juga kerja-kerja dari fitur realisme seperti hujan, malam, dan kebun, yang menyatu menjadi komposisi citraan berpancaran gelap.

Di dalam gambaran dunia yang seperti itu, kemudian muncul sosok yang melakukan suatu aktivitas ganjil, berjalan dari tengah kebun; memanggul suatu buntalan di pundaknya. Sosok dengan aktivitas ganjil itu disaksikan tokoh lain, yang memproduksi point of view cerita ini.

Dia merasa pernah melihat sosok itu, setidaknya baginya, bukan seseorang yang asing. Nanti kita akan mengetahui bahwa sosok itu tengah memanggul mayat seorang perempuan, dan kebun pisang itu dulunya pernah menjadi tempat pembantaian komunis.

Sampai pada titik ini, mungkin pembaca akan menebak-nebak korelasi antara mayat seorang perempuan dan kebun pisang yang menjadi tempat dibantainya komunis; bahwa mayat yang dipanggul adalah korban pembantaian. Namun sesungguhnya, dua kode mayat dan komunis yang mengikat peristiwa di belakang kebun itu hanyalah subteks dari tubuh cerita.

Kita akan dibuat hampir lupa dengan tokoh yang melalui pov-nya, cerita berkembang; sekaligus lupa bahwa cerita sedang berjalan dalam pov seorang tokoh; yang pada dirinyalah jantung cerita ini dipertaruhkan. Dan tahukah Anda bahwa tokoh yang sejak awal memproduksi pov cerita ini secara tersirat digambarkan memiliki karakter sebagai sosok dengan gejala gangguan kejiwaan? Lantas demikian, bolehkah kita meragukan cerita yang berkembang dari pandangannya?

Dalam pertimbangan yang ideal, semestinya, realitas dalam cerita Kebun Pisang di Belakang Rumah patut diragukan. Tetapi, Kiki Sulistyo, melalui tokohnya itu, berhasil menyelipkan kode-kode mayat, kebun, komunis yang sebenarnya terkonotasi dengan ingatan kolektif masyarakat (pembaca).

Pov dari tokoh yang memiliki gangguan jiwa itu boleh saja diragukan, tetapi kode-kode yang diperlihatkannya telanjur menjadi ingatan kolektif yang tak terbantahkan. Dengan cara begitulah Kiki Sulistyo membangun cerita-ceritanya di buku ini.

Menghadirkan kode-kode yang terkonotasi dengan ingatan kolektif masyarakat menggunakan bahasa yang sederhana, menarasikannya melalui subteks, dan mengambil point of view yang sama sekali berbeda dibandingkan kebanyakan cerpen di Indonesia dengan tema serupa.

Dunia yang dibangun oleh Kiki Sulistyo penulis Nusa Tenggara Barat peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 adalah dunia yang rasa-rasanya pernah kita dengar: dari orang lain, dan sekilas bacaan, tapi tidak dengan cara bercerita yang seperti ini. Marjin Kiri. (*)


*) ROBBYAN ABEL RAMDHON , Penulis cerpen dan esai

Artikel Asli