Jadi Program Unggulan Radio Swasta

Nasional | radarjogja | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 07:48
Jadi Program Unggulan Radio Swasta

RADAR JOGJA Ingat cuplikan adegan film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas? Saat tokoh utama Ajo Kawir yang kerap salah tingkah menerima salam dari pujaan hatinya, Iteung. Ya, Iteung kerap mengirim pesan pada jagoannya itu lewat radio, meski tak pernah mendapat balas. Bentuk komunikasi ini jamak dan ngetren pada sekitar 1980 sampai 1990-an.

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY) Suranto Aw menyebut, partisipasi masyarakat dalam acara titip salam di radio tinggi. Hal ini berkorelasi dengan minimnya media komunikasi massa yang dapat diakses oleh masyarakat pada 1980-1990.

Sementra dalam acara titip salam ini, radio membuka keterbukaan komunikasi. Sekaligus memunculkan harapan masyarakat untuk bisa berkomunikasi dengan sahabat dan keluarga. Radio menjadi media interaktif. Artinya melibatkan sebanyak mungkin pendengar dalam sharing informasi, jelasnya kepada Radar Jogja dihubungi Kamis (6/1).

Oleh karena itu tidaklah heran jika titip salam lewat radio jadi acara unggulan di banyak radio swasta. Acara ini bahkan populer dan sangat digemari masyarakat. Hampir setiap radio pun memiliki acara titip salam ini. Beberapa nama acara yang berhasil diingat ayah dua anak ini adalah Pilihan Pendengar (Pilpen), Radio Menyapa, Forum Interaktif (Point).

Pria yang juga Dosen Ilmu Komunikasi UNY ini menduga, acara titip salam berkontribusi besar menjadikan radio sebagai teman setia masyarakat. Populernya acara juga bukan hanya karena dapat saling menyenggol sesama pendengar. Dalam titip salam, pendengar diberi ruang untuk menjajal diri sebagai penyiar. Sebab acara ini menyediakan kesempatan pendengar menyampaikan salam secara langsung lewat sambungan telepon. Kegiatan titip salam lewat radio menjadi media interaksi yang mudah, murah, cepat, dan akurat, cetusnya.

Acara titip salam biasanya juga beri kesempatan bagi pendengar untuk meminta diputarkan sebuah lagu. Nah, pada kesempatan ini, pendengar dapat mengekspresikan perasaannya lewat lagu yang dipesan. Dari situ pula, pendengar merasa dekat dengan penyiar. Sebab suara penyiar langsung hadir di rumah atau di dekat posisi pendengar, paparnya.

Dalam beberapa kasus, pendengar bahkan kecanduan dan ketergantungan dengan acara titip salam. Lantaran suara penyiar ditangkap oleh pendengar sebagai bentuk dialog sehari-hari yang sifatnya friendly dan trendy. Berbeda dengan bahasa tulis yang cenderung kaku dan harus taat grammar.

Gaya berbahasa penyiar umumnya cenderung unik, lucu, dan kekinian. Itu sangat mungkin menjadi trendsetter berbahasa bagi para pendengarnya. Oleh sebab itu, acara titip salam di radio mampu bertahan sampai sekarang. Terutama bagi masyarakat yang masih memilih radio sebagai media komunikasi massa dan media hiburan, tutur kakek tiga cucu itu. (fat/laz)

Artikel Asli