Dijagokan Di Pilgub DKI Dan Jateng Gibran Pinter Jawabnya

Nasional | rm.id | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 07:45
Dijagokan Di Pilgub DKI Dan Jateng Gibran Pinter Jawabnya

Sejak memutuskan terjun ke politik dan terpilih menjadi Wali Kota Solo, popularitas Gibran Rakabuming terus naik. Banyak politisi hingga lembaga survei menjagokan putra sulung Presiden Jokowi naik level ke Pilgub DKI atau Pilgub Jawa Tengah. Namun dirayu berulang kali, Gibran selalu mengelak dan pintar cari jawaban.

Beberapa Ketum Parpol sudah sejak lama mendorong Gibran untuk mengikuti jejak karir Presiden Jokowi, maju ke level nasional. Gibran dirayu nyebrang dan bertarung di Pilkada DKI pada 2024 mendatang.

Terbaru, yakni komentar yang disampaikan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Selain Tri Rismaharini, Haso menyebut sosok Gibran sebagai salah satu kandidat yang akan diusung PDIP untuk Pilkada DKI 2024.

Ternyata, bukan hanya di Pilkada DKI, nama Gibran harum. Untuk Pilgub Jawa Tengah, peluang Gibran menggantikan Ganjar Pranowo juga terbuka lebar. Dalam survei terbaru yang dirilis Charta Politika, elektabilitas Gibran jauh mengungguli tokoh-tokoh lain yang selama ini diunggulkan untuk maju di Pilgub Jateng.

Dalam survei tersebut, elektabilitas bapak dari Jan Ethes itu di Pilgub Jateng mencapai 34,8 persen. Angka ini jauh dibandingkan elektabilitas yang diperoleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen yang hanya mendapat 9,3 persen. Di bawahnya lagi, ada nama Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang hanya mendapat 6,9 persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya memprediksi Pilkada Jawa Tengah bisa menjadi isu nasional jika mengacu pada survei terbaru yang mengunggulkan Gibran. Akan beda ceritanya kalau disurvei Pilkada DKI. Isu politik dinasti potensi jadi beban, katanya melalui akun Twitter.

Apa tanggapan Gibran? Seperti sebelum-sebelumnya, Gibran selalu pintar mencari jawaban. Politisi PDIP itu mengaku tidak memikirkan survei yang mengunggulkan dirinya di Pilgub DKI atau Pilgub Jateng.

Saya fokus kerjaan di Solo dahulu. Tadi lho baru groundbreaking (peletakan batu pertama pembangunan rel layang Simpang Joglo). Fokus nyambut gawe dahulu. Fokus kerjaan di Solo, jawab Gibran di Solo, kemarin.

Eks Bos Markobar itu mengaku, hingga saat ini belum melihat hasil survei tersebut. Fokusnya saat ini soal penanganan pandemi di Solo, dan pemulihan ekonomi.

Bukan hanya itu, Gibran juga enggan menanggapi ketertarikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang ingin meminangnya pada Pilgub DKI Jakarta 2024.

Opo meneh, saya fokus kerjaan di Solo dahulu. Saya rampungkan sampai tuntas, sampai selesai. Mau satu periode, dua periode, itu yang menentukan warga. Yang milih warga, selorohnya.

Politisi PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan, sebenarnya banyak calon potensial yang dimiliki Banteng untuk diusung di Pilgub DKI. Namun Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto hanya menyebut dua sampai tiga nama saja.

Hendrawan juga belum terlalu memikirkan Pilkada DKI, mengingat waktunya masih lama, karena baru dilakukan setelah Pilpres dan Pileg. Ini waktu yang cukup untuk unjuk kinerja dan mematangkan pengalaman, ungkapnya.

Ia juga mengingatkan. Ketika Rancangan Undang-Undang Ibu Kota Negara disahkan, maka status ibu kota tak lagi disandang Jakarta. Pilkada di Jakarta cukup satu putaran. Sehingga mengurangi polarisasi yang penuh ketegangan. Banyak tokoh potensial dan wajah baru bisa tampil, katanya.

Pendiri lembaga survei KedaiKOPI, Hendri Satrio mengakui, Gibran merupakan salah satu yang terbaik di PDIP saat ini. Potensi memenangkan pertarungan di Ibu Kota sangat besar. Terlebih dia memiliki popularitas. Elektabilitasnya juga bagus di Solo.

Yang harus dia lakukan memang mau tidak mau telah menunjukkan kapasitas dan elektabilitasnya dia sebagai Wali Kota Solo, ujar pria yang akrab disapa Hensat ini, tadi malam.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah. Ia juga meyakini, Gibran bisa meraup keriuhan suara, karena teridentifikasi dengan Jokowi.

Soal Risma, Dedi justru mengafiliasikan karakternya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang juga punya basis suara di Ibu Kota. Dan jika duet ini berhasil dibawa ke DKI, kontestasi akan sangat riuh dan berpeluang menang. Situasi peluang menang itu jika tidak ada nama Anies Baswedan dalam kontestasi, ulas Dedi.

Soal Gibran yang pinter ngejawab, ia menganggap buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itu jawaban normatif. Tidak jauh berbeda dengan jawaban Jokowi saat itu. Kekuasaan itu sering kali diusahakan oleh politisi, meskipun menolak dalam statement, tetapi akan mengiyakan dalam sikap, pungkas Dedi. [MEN]

Artikel Asli