Sering Dibawain Coklat dan Kue oleh Pendengar

Nasional | radarjogja | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 07:02
Sering Dibawain Coklat dan Kue oleh Pendengar

RADAR JOGJA Radio mempunyai tempat khusus di hati para penyiar maupun pendengarnya. Banyak hal yang bisa dinikmati lewat siaran radio. Salah satunya pada program pilihan pendengar (pilpen). Entah itu mengirim salam maupun request lagu.

Pilpen jadi tren lawas yang banyak peminatnya. Mulai dari anak-anak SMP, SMA, mahasiswa, hingga dewasa. Mereka lantas berbondong-bondong menyerbu stasiun radio untuk sekadar menuliskan form berbentuk kecil berisi rangkaian kata agar dibacakan penyiar.

Ninda Nindiani, salah satu penyiar Geronimo Jogja era 1988 ini bercerita, kebanyakan yang mampir ke stasiun radio secara langsung berasal dari kalangan remaja. Terutama anak-anak yang usai pulang sekolah meluangkan waktu untuk menyambangi studio.

Dulu banyak yang datang ke studio untuk kirim-kirim salam. Kebanyakan anak-anak sekolah dan masih berseragam, kenangnya saat dihubungi Radar Jogja (6/1).

Kala itu, anak-anak sangat antusias mengisi form yang telah disediakan di stasiun radio. Bagi yang terbiasa dan tidak malu untuk datang. Menulis lagu, kepada siapa yang akan dituju, serta untaian kata salamnya.

Selain form, ada pula yang membeli kartu pos di warung. Cara itu dilakukan para remaja ketika malu untuk menyambangi stasiun radio secara langsung. Kemudian, mereka memasukkan kartu itu ke dalam kotak pos yang telah disediakan di depan stasiun. Atau dikirim melalui kantor pos.

Ninda mengatakan, mereka yang mengirim salam maupun request lagu rata-rata diperuntukkan bagi teman sekelas, teman sekolahnya, teman yang ditaksir, maupun teman lain sekolah. Saling bercanda. Karena memang segmennya anak-anak muda, ujarnya.

Tugasnya saat itu hanya membacakan salam-salam yang masuk. Hal tersebut menjadi satu hiburan tersendiri bagi penyiar. Terlebih ketika mendapat kata-kata yang lucu.

Kini, radio makin mengepakkan sayapnya. Banyak pula mengalami perubahan metode. Dari yang menggunakan kertas kecil dan kartu pos, kini beralih via telepon maupun pesan singkat.

Ninda bercerita hal unik yang dialaminya semasa menjadi penyiar. Seperti pendengar yang meminta penyiar agar menunda terlebih dahulu pembacaan salamnya. Pasalnya, si pengirim salam belum sampai di rumahnya.
Dia menelepon dari telepon umum. Meminta ditunda 10 menit. Dia pesan banget jangan dibacain sebelum dia sampai rumah. Karena dia dengerin radionya dari rumah, kenang penyiar cantik ini.

Ada pula yang menulis salam dengan dicantumkan tanggalnya. Agar penyiar membacakan salam sesuai tanggal yang dicantumkan. Selain itu, ada pendengar yang setia mengirim salam setiap harinya. Hingga para penyiar hafal betul. Nama-namanya pun masih terekam di benak para penyiar. Kami geli aja. Ini ada lagi nih ucapan dari si A gitu, kelakar salah seorang penyiar favorit di masanya itu.

Ninda juga menuturkan, banyak dari pengirim salam yang mampir ke stasiun radio untuk berterima kasih lantaran salamnya disampaikan dan namanya disebut. Mereka ada yang membawa coklat dan kue.

Dari situlah tercipta kedekatan antara pendengar dengan penyiar. Suasana cair dari stasiun radio membuat pendengar dapat berinteraksi langsung dengan penyiar. Anak-anak pun dapat melihat penyiar membacakan salamnya.
Dalam kurun waktu dua hingga tiga jam siaran, Ninda bisa membacakan banyak salam. Namun tetap diselingi dengan lagu. Bahkan saking banyaknya form maupun kartu pos yang masuk, banyak di antaranya yang terabaikan. Tidak dibacakan.

Kendati demikian, pendengar sedikit kecewa, tapi tetap maklum. Pasti tidak hanya kertasnya saja, namun masih banyak kertas-kertas lain yang menumpuk. Kadang sampai bilang aduh, maaf ya nggak nyebutin nama dan salamnya. Itu karena memang sudah banyak banget, ungkapnya.

Yang membuat Ninda heran, mereka tetap keukeuh mengirim salam meskipun tidak dibacakan. Atau jika namanya sudah berulang kali disebut, Ninda akan membacakan salam lain yang namanya belum pernah disebut. Menurutnya, tidak apa-apa jika sesekali namanya tidak disebut.

Selain kirim salam, para pendengar juga kerap request lagu. Terutama lagu yang tengah nge-tren pada masanya. Bahkan, beberapa kali sudah pernah diputar.
Seiring berjalannya waktu, pilpen menjadi suatu hal yang membosankan bagi pendengar. Keinginan pendengar berubah. Masanya juga telah berubah, kata Ninda.

Ada masa di mana membacakan salam pendengar kurang enak didengar. Akhirnya, pendengar lebih memilih mendengarkan lagunya saja. Makin lama radio makin berkembang. Orang kalau dengerin salam-salaman langsung dipindah channel, keluhnya.

Dengan adanya fenomena itu, tren pilpen makin berkurang. Sehingga radio lebih banyak memutar lagu daripada kirim salam. Kemungkinan radio juga masih melayani pilpen.

Namun dengan media yang berbeda, lantaran banyak sekali media untuk mengekspresikan diri. Nikmati saja sesuai zamannya. Pasti ada keasyikannya masing-masing, ujar seorang MC ini. (cr1/laz)

Artikel Asli