Siapa Kelompok Radikal Itu?

Nasional | rm.id | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 06:20
Siapa Kelompok Radikal Itu?

Dekade terakhir ini kita sering menyingging kelompok radikal. Siapa sesungguhnya yang dimaksud kelompok radikal itu? Apa ciri-cirinya? Bagaimana modus operandinya? Apa yang menjadi tujuannya? Siapa yang berkepentingan di balik kelompok ini? Dari mana mereka memperoleh dana?

Yang sering dibicarakan selama ini ialah kelompok-kelompok radikal agama, khususnya agama Islam, meskipun pada agama-agama lain ada juga kelompok radikalnya dalam jumlah terbatas. Kelompok radikal cenderung lintas aliran, mazhab, dan agama. Kelompok radikal menembus batas geografis, etnik, dan negara. Kelompok radikal dicirikan dengan pikiran dan gerakannya yang menolerir kekerasan sebagai bagian dari solusi. Kelompok radikal biasa diartikan sebagai kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis dan secara fanatik berjuang untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung. Kelompok radikal tidak identik dengan kelompok keras atau fanatik suatu agama.

Kelompok radikal ini bisa menolerir berbagai cara dalam memperjuangkan tujuannya, termasuk cara-cara teroris dan bunuh diri serta cara-cara keras lainnya.

Ciri-ciri kelompok radikal antara lain: 1) Berusaha mencari pengaruh dan simpati di dalam masyarakat luas dalam rangka memperkenalkan ideologi mereka. Gerakan-gerakan kemanusiaan mereka galakkan, seperti terlibat di dalam kelompok advokasi dan bantuan terhadap kelompok-kelompok yang berkepentingan, seperti memerikan bantuan terhadap korban gempa bumi. 2) Mengklaim kelompoknya sebagai kelompok paling benar, sedangkan kelompok lain dinilai keliru dan sesat. 3) Secara eksplisit atau implisit kelompok ini memiliki niat dan kecenderungan untuk mengubah negara bangsa menjadi negara agama. Intensitas perjuangannya tergantung situasi yang dihadapannya. 4) Berupaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi mereka. 5) Ada usaha untuk mengganti NKRI dengan konsep Khilafah. Nasionalisme dianggap tidak sejalan dengan ajaran Islam yang difahaminya sebagai ajaran yang bersifat universal, tidak bisa dijinakkan oleh kultur dan ideologi lokal. 6) Pola keberagamaan mereka biasanya bersifat ekslusif, baik pakaian, prilaku, pertemanan, maupun dalam menjalankan praktek ritual keagamaan.

Artikel Asli