Masih Dihantui Larangan Ekspor, Saham Batu Bara Diobral Lagi

Nasional | apahabar.com | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 10:31
Masih Dihantui Larangan Ekspor, Saham Batu Bara Diobral Lagi

apahabar.com, JAKARTA Saham emiten batu bara tersungkur ke zona merah pada lanjutan sesi I perdagangan Kamis (6/1/2022).

Pelemahan tersebut tampaknya masih dipengaruhi oleh kabar pemerintah Indonesia yang melarang ekspor batu bara selama sebulan.

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut saham-saham batu bara yang melemah hingga pukul 09.54 WIB.

1. Harum Energy (HRUM), saham -3,64%, ke Rp 9.925/saham

2. TBS Energi Utama (TOBA), -2,90%, ke Rp 1.170/saham

3. Atlas Resources (ARII), -2,46%, ke Rp 238/saham

4. Perdana Karya Perkasa (PKPK), -2,04%, ke Rp 192/saham

5. Indo Tambangraya Megah (ITMG), -1,87%, ke Rp 19.675/saham

6. Bukit Asam (PTBA), -1,83%, ke Rp 2.680/saham

7. Bumi Resources (BUMI), -1,49%, ke Rp 66/saham

8. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), -1,39%, ke Rp 71/saham

9. Mitrabara Adiperdana (MBAP), -1,38%, ke Rp 3.580/saham

10. Alfa Energi Investama (FIRE), -0,87%, ke Rp 454/saham

11. United Tractors (UNTR), -0,80%, ke Rp 21.775/saham

12. Delta Dunia Makmur (DOID), -0,78%, ke Rp 254/saham

13. ABM Investama (ABMM), -0,71%, ke Rp 1.400/saham

14. Golden Energy Mines (GEMS), -0,61%, ke Rp 8.100/saham

15. Adaro Energy (ADRO), -0,45%, ke Rp 2.230/saham

16. Bayan Resources (BYAN), -0,09%, ke Rp 26.400/saham

Saham emiten milik pengusaha Kiki Barki HRUM menjadi yang paling ambles, yakni sebesar 3,64%. Seiring dengan penurunan ini, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih di saham HRUM sebesar Rp 18,81 miliar di pasar reguler.

Koreksi ini membuat saham HRUM terbenam hingga minus 9,09% dalam sepekan.

Kedua, ada saham TOBA yang terdepresiasi 2,90% ke posisi Rp 1.170/saham, melanjutkan pelemahan 1,23% pada Rabu kemarin. Kendati melemah, dalam seminggu saham ini masih mencuat 6,73%.

Setali tiga uang, saham ARII dan PKPK juga masing-masing terperosok hingga minus 2,46% dan 2,04%.

Emiten batu bara di dalam negeri saat ini dihantui dengan penurunan kinerja dan wanprestasi terhadap pembelinya di luar negeri. Hal ini menyusul kebijakan pelarangan ekspor yang ditetapkan pemerintah mulai awal Januari ini.

Beberapa emiten mengakui hal ini tengah dipantau dampaknya pada kinerja perusahaan. Bergantung pada berapa lama kebijakan tersebut akan diberlakukan pemerintah, di mana saat ini kebijakan tersebut diterapkan selama sebulan penuh di Januari 2022.

Manajemen PT Indika Enegy Tbk (INDY), misalnya, mengatakan larangan ekspor batu bara tersebut akan dapat memberikan dampak material kepada perusahaan.

Dijelaskan, dampak yang paling jelas terlihat adalah hilangnya pendapatan dari penjualan batu bara dan kerugian lainnya, seperti demurrage, pembatalan tongkang dan kapal serta penalti.

Selain itu, akan terdapat potensi wanprestasi atas kontrak dengan pelanggan, pemasok, dan/atau pihak terkait lainnya, tergantung dari berapa lama larangan ekspor batu bara diberlakukan.

Lebih lanjut, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyebutkan larangan ekspor ini berpotensi tidak terpenuhinya kewajiban pengiriman batu bara kepada pelanggan sesuai dengan kontraknya.

Tidak hanya emiten batu bara Tanah Air, Jepang juga merasakan dampak dari larangan ekspor si batu hitam tersebut.

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia sampai mengirim surat ke pemerintah Indonesia, meminta batu bara berkalori tinggi (yang tidak digunakan oleh pembangkit listrik di Tanah Air) tetap bisa dikirim ke Negeri Matahari Terbit.

Larangan ekspor yang begitu tiba-tiba berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi di Jepang dan kehidupan masyarakat sehari-hari, sebut surat itu.

Jepang mengimpor batu bara Indonesia sekitar 2 juta ton per bulan. Saat ini setidaknya lima kapal pengangkut batu bara yang sedianya berangkat ke Jepang masih tertahan di pelabuhan.

Sementara, kemarin, mengacu data Refinitiv, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 161,65/ton. Naik 0,34% dibandingkan hari sebelumnya.

Dengan demikian, harga si batu hitam naik dua hari beruntun. Dalam dua hari itu, harga bertambah 6,73%.

Artikel Asli