Iran Upayakan Tuntut 127 Warga Asing dalam Pembunuhan Soleimani

Nasional | republika | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 10:00
Iran Upayakan Tuntut 127 Warga Asing dalam Pembunuhan Soleimani

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran mengatakan akan menuntut 127 warga asing yang terlibat dalam pembunuhan mantan komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qassem Soleimani. Hal itu diumumkan saat Iran memperingati dua tahun kematiannya.

Dilaporkan Fars News Agency, juru bicara kehakiman Zabihollah Khodayian pada Rabu (7/12/2022) mengungkapkan Iran telah mengirim 11 surat ke sembilan negara. Dalam surat itu, Teheran meminta otoritas dari masing-masing negara terkait untuk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang diduga terlibat pembunuhan Soleimani.

Namun Iran tak mempublikasikan identitas para terduga pelaku. Iran memperingati dua tahun kematian Soleimani pada Senin (3/1/2022). Presiden Iran Ebrahim Raisi bersumpah akan membalas dendam kepada mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas pembunuhan Soleimani.

"Jika Trump dan (mantan menteri luar negeri AS Mike) Pompeo tidak diadili di pengadilan yang adil atas tindak pidana pembunuhan Jenderal Soleimani, umat Islam akan membalas dendam martir kami," kata Raisi dalam pidato yang disiarkan televisi.

Soleimani tewas di Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020. Dia dibunuh saat berada dalam konvoi Popular Mobilization Forces (PMF), pasukan paramiliter Irak yang memiliki kedekatan dengan Iran. Iring-iringan mobil mereka menjadi sasaran tembak pesawat nirawak AS. Trump adalah tokoh yang memerintahkan langsung serangan tersebut.

Iran mengutuk keras pembunuhan Soleimani dan bersumpah akan membalas tindakan Washington. Tak lama setelah peristiwa pembunuhan itu, Iran meluncurkan serangan udara ke markas tentara AS di Irak. Aksi itu sempat menimbulkan kekhawatiran global tentang potensi pecahnya peperangan.

Soleimani merupakan tokoh militer Iran yang memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah. Ia dipercaya memimpin Pasukan Quds, sebuah divisi atau sayap dari Garda Revolusi Iran yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial, termasuk kontra-intelijen di kawasan.

Artikel Asli