Sanksi Spiritual (2)

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 06:20
Sanksi Spiritual (2)

Mereka yang melakukan korupsi dan segala bentuk pelanggaran agama dan kemanusiaan lainnya, kalau ia beriman, maka hatinya seperti benang kusut, tidak memperoleh ketenteraman dan ketenangan jiwa. Shalat dan ibadah-ibadah lainnya dipastikan tidak bisa khusyuk, doanya tidak dikabulkan. Bagaimana bisa berharap shalat bisa diterima dan doa dikabulkan kalau energi yang menggerakkan badannya dan kedua tangannya berdoa berasal dari nutrisi yang haram. Bagaimana bisa berharap haji mabrur jika biaya ongkos naik haji (ONH) diperoleh dari harta benda yang tidak halal. Bagaimana seseorang bisa berharap pembersihan dari air yang kotor.

Dalam tradisi pesantren, harta yang haram tidak akan mendatangkan berkah di dalam pencarian ilmu pengetahuan. Bagaimana mungkin seseorang bisa lancar menghafal Al-Quran atau pelajaran sementara yang mengalir di dalam dirinya berasal dari harta yang haram. Dalam filosofi keilmuan pesantren terkenal dengan semboyan: Al-ilm nur wa nurullah la yuhda lil ashi (Ilmu itu cahaya dan cahaya tidak akan masuk di dalam dada yang gelap karena dosa). Dalam hadis ditegaskan: Kullu lahmin nabata min haramin fan naru aula bih (semua daging yang tumbuh dari harta yang haram hanya akan bisa dibersihkan oleh api neraka).

Sering kali kita terkecoh dengan gemerlapnya syubhat dan harta haram, padahal di balik kegemerlapan itu tersembuyi kegelapan yang siap menutupi mata hati. Nabi membayangkan bahwa: Setiap kali dosa bertambah setiap itu pula bertambah bintik hitam yang menutupi hati nurani. Sehingga pada saatnya orang yang membiasakan diri hidup di dalam dunia kesyubhatan, apalagi dunia haram, maka ia terancam dengan penyakit kalbu yang kronis (fi qulubihim maradh) dan pada saatnya akan sampai kepada puncaknya, hatinya terkunci mati (khatamallah ala qulubihim), sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. al-Baqarah/2:7).

Artikel Asli