Amerika Dan Detoks Politik Kita

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 06:15
Amerika Dan Detoks Politik Kita

Amerika Serikat kewalahan. Covid-19 melonjak drastis. Berkali-kali lipat. Rumah sakit kebanjiran pasien. Pasien anak-anak juga meningkat cepat. Indonesia bisa bercermin.

Para pakar di AS, seperti Dr Anthony Fauci mengkhawatirkan mereka yang belum divaksin. Karena, yang sudah divaksin saja masih bisa kena, apalagi yang belum. Karena itu, dia berseru: ayo vaksin.

Di AS, baru 62 persen yang divaksin lengkap. Jumlahnya 204 juta. Sisanya belum. Banyak faktor kenapa belum divaksin.

Salah satunya, ideologi. Pilihan politik. Beberapa survei menyebut, pendukung Partai Republik, lebih tepatnya pendukung Donald Trump, yang kalah dalam pemilu lalu, menolak divaksin. Bisa jadi mereka terpengaruh oleh kampanye anti vaksin.

Pakar politik di AS mencurigai, keengganan ini dipengaruhi faktor politik. Karena, kalau vaksinasi gagal, kesalahan akan ditimpakan kepada Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat.

Apakah Indonesia bisa seperti itu? Ada yang ingin program Jokowi gagal. Ada juga yang ingin program Anies Baswedan gagal. Atau, paling tidak, Jokowi atau Anies dicitrakan gagal.

Kenapa diwakili Jokowi dan Anies? Karena keduanya menjadi simbol fenomena politik polarisasi yang tak pernah padam itu. Di Pilpres maupun Pilkada DKI.

Kenapa mesti mengikatkan diri kepada dua pola atau dua kutub? Ini yang jadi masalah. Karena, politik bisa berubah dalam waktu sekian detik. Tidak ada yang abadi.

Kalau polarisasi terus berlangsung, maka siapa pun Presiden hasil Pilpres 2024 nanti, pola penyikapan seperti ini akan terus berkembang. Akibatnya, sebaik apa pun programnya, akan ditolak. Seburuk apa pun kinerja atau kebijakannya, pasti didukung.

Ini tidak sehat. Karena pendekatannya tidak lagi obyektif. Pendekatannya lebih kepada orang kita atau bukan. Calon kita atau bukan. Ini tidak membawa bangsa ini kepada level yang lebih tinggi.

Melanggengkan polarisasi ini hanya menguntungkan para politisi atau pihak tertentu. Memberi energi kepada kelompok yang ingin memecah belah bangsa demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Mempertahankan polarisasi berarti memberi tenaga kepada mereka yang ingin melihat rakyat sibuk berantem sehingga melupakan isu-isu penting yang disembunyikan. Menggembirakan mereka yang menari di belakang panggung yang hingar-bingar.

Bagaimana menghilangkan polarisasi politik sehingga bangsa ini kembali sehat?

Pertama, lunturkan polarisasi itu. Netralisir identitas politik yang selama ini melekat kuat. Lakukan detoksifikasi politik. Hilangkan racunnya.

Caranya? Kalau kita menyebut kembalilah kepada Pancasila, mungkin ada yang menertawakannya. Tapi, kembalilah kepada fitrah masing-masing. Misalnya, sependeritaan-sepenanggungan sebagai orang tua. Ayah atau ibu. Apa pun isunya.

Jangan lagi bersikap berdasarkan bendera politik. Lunturkan itu semua. Bersikaplah atau posisikan diri sebagai kesatuan anak-anak muda milenial, sebagai pencinta burung, penggemar lari pagi, pecinta alam, mancing, film, atau sesama pemilik vespa antik. Dan, banyak lagi sisi-sisi yang bisa menyatukan. Jangan dipenjara oleh ideologi serta sikap politik. Lakukan detoks.

Jangan seperti Amerika, yang masih tersandera vaksin Demokrat dan vaksin Republik. Semoga di Indonesia, tidak ada Tol si A atau Stadion si B. (*)

Artikel Asli