Kronologi Pembangunan GKI Citraland, Sempat Ditolak 10 Tahun Lalu

Nasional | jawapos | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 14:52
Kronologi Pembangunan GKI Citraland, Sempat Ditolak 10 Tahun Lalu

JawaPos.com Penolakan pembangunan dan pendirian Gereja Kristen Indonesia (GKI) Citraland, Kecamatan Lakarsantri, sudah berlangsung sejak 1 dekade lalu. Pada 2011, pengurus GKI Citraland sudah membeli tanah dan siap mengurus izin pendirian gereja.

Namun, masalah datang ketika warga menolak pembangunan gereja dengan alasan terlalu dekat dengan pemukiman. Izin tidak dikantongi, namun tanah terlanjur dibeli.

Yohana Litamahuputy, jubir GKI Citraland mengatakan, tanah itu dibeli sejak 2011. Empat tahun kemudian, atau pada 2015, pembayarannya tuntas.

Pada 2011 GKI Citraland beli tanah secara cicil. Lunas 2015, jelas Yohana Litamahuputy pada Selasa (28/12).

Pengurusan pembangunan GKI Citraland itu kemudian berlanjut dengan menyurati lurah dan camat Lakarsantri, hingga Forum Komunikasi Umat Beragama atau FKUB Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur.Namun warga tetap menolak. Mereka meminta relokasi ke tempat lain. Kami lalu mencari tanah di tempat lain, tutur Yohana Litamahuputy.

Hanya saja, karena tanah terlanjur dibeli, harga tanah di tempat lain berbeda dengan tanah Sebelumnya. Hal itu yang menjadi kendala dari proses relokasi.

Kita kan mau ibadah tenang. Kami negosiasi dengan pihak Citraland. Ternyata tanah kosongnya cuma di situ. Akhirnya pada 2018, fix nggak ada lahan, cuma di Perumahan Citraland, jelas Yohana Litamahuputy.

Dia pun mencoba negosiasi dengan warga. Dia berharap warga berubah pikiran. Pihak GKI kemudian menggandeng LPMK setempat. Mereka Akhirnya mendapat persetujuan 180 warga.

Kalau SKB 2 menteri, aturan pendirian rumah ibadah adalah persetujuan 60 warga. Ternyata kita dapat 180 orang, ujar Yohana Litamahuputy.

Sayangnya, ketika akan mengurus izin pada April 2021, izin dari pihak kelurahan dirasa cukup sulit. Sehingga izin terhambat kembali.

Kemudian salah satu ormas muncul dan menolak pendirian gereja. Kami kemudian karena dari jalur LPMK nggak bisa, kami memberanikan diri mohon mediasi ke FKUB Kota Surabaya, Persatuan Gereja Indonesia (Persekutuan Gereja-gereja se-Indonesia) Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, dan Kemenag, terang Yohana Litamahuputy.

Surat yang dikirimkan pada Oktober itu baru dibalas November oleh PGI. Pemkot Surabaya dan Kemenag tidak ada jawaban. Jadi nggak ada penyelesaian, imbuh dia.

PGI kemudian melakukan survei pada November dan Desember awal. Kemudian berita soal penolakan gereja muncul.

Dengan berita kita bersyukur karena ada yang memperhatikan. Ada pertemuan. Dianggap viral oleh sebagian orang tapi saya bersyukur karena kalau kita diam nggak ada yang perhatian, ucap Yohana Litamahuputy.

Karena itu, setelah hampir 1 dekade berjuang, muncul jalan keluar. Langkah berikutnya menurut informasi sudah ada pertemuan dengan pihak polsek.

Sudah dilanjut pembangunannya. Ada bantuan dari PDIP Pak John Thamrun, Pak Yordan DPRD Provinsi Jawa Timur. Membantu bersama-sama, ujar Yohana Litamahuputy.

Ditanya apakah sudah mulai dibangun? Dia menerangkan, pihaknya harus dapat izin dari lurah. Kemudian lanjut ke FKUB, Bakesbang, mengurus IMB, baru membangun.

Selama 1 dekade, jemaat GKI Citraland beribadah di salah satu ruko yang diubah menjadi gereja. Namun, ruko tidak cukup menampung kegiatan jemaat.

Ada kelas sekolah Minggu, SD, SMP, dan SMA, latihan paduan suara, sekolah musik. Gak bisa diatur dengan baik. Kita punya tanah kenapa nggak dimanfaatkan? Kalau bisa pindah ya pindah. Kalau tanah kosong ya direncanakan dengan baik misal arsiteknya yang ngatur sesuai kebutuhan. Kalau ruko kan nggak bisa diatur, urai Yohana Litamahuputy.

Dia berterima kasih kepada semua pihak karena telah membantu pendirian dan pembangunan GKI Citraland.

Secara terpisah, anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Josiah Michael berterima kasih kepada Kapolrestabes Surabaya yang turun mengurus masalah itu.

Saya ucapkan terima kasih ke Pak Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kapolrestabes Surabaya Kombespol Achmad Yusep Gunawan atas tidakan cepat menjaga kerukunan umat di Surabaya, ujar Josiah.

Sebelumnya, pembangunan gereja di Kecamatan Lakarsantri ditolak warga. Alasannya, karena terlalu dekat dengan rumah warga.

Artikel Asli