Muhammadiyah Soroti Dampak Pandemi Covid-19

Nasional | jawapos | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 11:34
Muhammadiyah Soroti Dampak Pandemi Covid-19

JawaPos.com Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menilai selama masa pandemi Covid-19 banyak aspek kehidupan masyarakat terdampak dari sisi ekonomi, sosial, dan kesehatan oleh pandemi, termasuk juga bagi pemuda sebagai populasi terbesar Indonesia. Ketua MCCC Muhammadiyah, Agus Samsudin mengharapkan pemuda menjadi tulang punggung penanganan Covid-19.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk Menyongsong 2022: Pemuda Penggerak Kebangkitan Pasca Pandemi. Kegiatan ini sebagaiamana digelar otonom kepemudaan Muhammadiyah atau yang biasa disebut Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

Muhammadiyah termasuk memiliki peran penting, khususnya pemuda yang terjun langsung, baik di dalam pencegahan, penanganan atau pengobatan, dan pemulihan atau penyembuhan, kata Agus dalam keterangannya, Selasa (28/12).

Apresiasi dan penghargaan kepada terobosan pemuda perlu diberikan oleh semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.

Ke depan peran pemuda masih banyak, terutama di sektor ekonomi dalam memulihkan perekonomian Indonesia pasca pandemi, ucap Agus.

Sementara itu, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto menyampaikan peran aktif kader Pemuda Muhammadiyah sejak awal pandemi hingga sekarang. Pertama, sebagai bagian dari Muhammadiyah, tentunya mengikuti instruksi dan arahan MCCC PP Muhammadiyah dan pemerintah.

Menurut pria yang karib disapa Cak Nanto, banyak ruang yang dapat diisi oleh Pemuda Muhammadiyah untuk mengatasi pandemi. Salah satunya sebagai agen informasi dan edukasi kepada masyarakat, agar tidak terjebak pada informasi keliru mengenai Covid-19.

Peran tersebut dinilai vital, sama pentingnya seperti aktivitas Pemuda Muhammadiyah yang selama ini terjun langsung dalam mendistribusikan bantuan sosial masyarakat, maupun melakukan pemulasaran jenazah korban Covis-19. Ke depan dia berharap koordinasi pemerintah serta masyarakat saling menopang dan fokus menangani Covid-19.

Termasuk kolaborasi untuk mendorong percepatan vaksinasi, penegakan disiplin protokol kesehatan, dan pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang paling terdampak, tegas Cak Nanto.

Dalam kesempatan yang sama, Nashir Effendi selaku ketua IPM juga menyampaikan aktivitas IPM dalam penangangan Covis-19. Salah satunya lewat Gerakan Yatim Berdaya, dimana sasaran program adalah pelajar Muhammadiyah yang kehilangan orang tua di saat pandemi.

Jadi, kami ingin mereka berdaya dan mandiri. Dalam hal ini, kami bekerja sama dengan majelis sosial Muhammadiyah, terang Nashir.

IPM juga berkomitmen untuk turut mendorong percepatan vaksinasi, utamanya di usia 6-12 tahun. Ini demi mempercepat pembelajaran tatap muka bisa kembali dengan aman.

IPM juga siap menjembatani kebijakan pemerintah agar dapat diterima dan diterapkan oleh pelajar, papar Nashir.

Permasalah perempuan dan anak juga turut mendapatkan porsi. Ketua PP Nasyiatul Aisyiyah (NA) Dyah Puspitarini, menyampaikan pihaknya fokus pada perempuan dan anak, bahkan saat pandemi, perempuan dan anak termasuk yang terdampak paling banyak.

Aksi tanggap Covid-19 yang dilakuan NA sendiri meliputi pencegahan, penanganan, dan pemulihan. Adapun fokus areanya di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Upaya pencegahan terus menerus dilakukan melalui edukasi daring terkait Covid-19. Penanganan juga dilakukan melalui penurunan kader NA sebagai tenaga kesehatan hingga pemulasaraan jenazah.

Upaya Edukasi dan informasi harapannya bisa dilakukan tidak hanya di tingkat pusat, tapi juga sampai skala terkecil dan berspektif perempuan, serta perlindungan anak terhadap dampak pandemi Covid-19, paparnya.

Sementara itu, Ketua Umum IMM Abdul Musawir Yahya menyampaikan pentingnya pemberdayaan masyarakat terdampak pandemi Covid-19. Terutama dalam hal pengentasan pengangguran.

Penting untuk membantu masyarakat meningkatkan perekonomian, ucapnya.

IMM turut membantu masyarakat desa dalam membentuk UMKM. Penting karena banyak orang-orang kota pulang ke desa akibat kehilangan pekerjaannya di masa pandemi.

Artikel Asli