60 Persen Masyarakat Terpapar Hoaks, Media Arus Utama Berperan Menangkal

Nasional | lombokpost | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 10:53
60 Persen Masyarakat Terpapar Hoaks, Media Arus Utama Berperan Menangkal

MATARAM -Tren penyebaran berita palsu (hoaks) di tengah-tengah masyarakat kian marak dan selalu ada. Kondisi ini juga terjadi di negara-negara di dunia. Guna menangkal hoaks, memerlukan peran media massa yakni dengan menyajikan pemberitaan yang benar, sesuai fakta dan berimbang.

Kabiro Antara NTB Riza Fahriza mengatakan, pihaknya mencoba berperan pencegahan hoaks melalui program Anti Hoaks. Guna menangkal kekuatan media sosial oleh netizen, dengan mengembalikan kembali posisi netizen.

Ia mencontohkan, Indonesia dikabarkan melakukan penghinaan terhadap striker Singapura padahal berita tersebut bohong. Berita hoaks lainnya, soal gempa akibat erupsi sejumlah gunung di Indonesia yang jika dibiarkan bisa berdampak pada sektor pariwisata di daerah.

Kami menginformasikan berita untuk mengerem berita-berita liar di masyarakat, tegas Riza Fahriza, Selasa (28/12/2021).

Pemeriksa Fakta Senior Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Dedy Helsyanto mengatakan, hoaks kian berkembang di masyarakat. Mafindo pun tidak tinggal diam. Pertama, melakukan edukasi pada masyarakat. Kedua, membuat artikel periksa fakta setiap harinya untuk memerangi hoaks.

Komitmen kami melawan hoaks disambut baik, bekerjasama dengan Google, Facebook, Whatsapp, organisasi-organisasi baik dalam dan luar negeri, ucapnya.

Dedy menuturkan, dalam menerima berita harus dikroscek lebih dahulu. Di era perkembangan digital, berita-berita liar yang dibagikan dalam kanal platform sosial, jika tidak hati-hati bisa saja menjadi bagian dan turut menyebarkan hoaks.

Berdasarkan data survei Status Literasi Digital Nasional, angka orang Indonesia yang terpapar hoaks adalah 60 persen. Jumlah berita hoaks kian tahunnya semakin meningkat. Pada tahun 2018 berjumlah 1.000 hoaks, tahun 2019 berjumlah 1.500 hoaks, tahun 2020 semakin meningkat hingga 2.500 hoaks. Angka ini didominasi pada hal-hal baru yang dilakukan pemerintah seperti pemberitaan pandemi Covid-19 hingga kegiatan vaksinasi Covid-19.

Menurutnya, masyarakat masih belum mampu membedakan pemberitaan yang hoaks atau berita yang ditulis jurnalis.

Padahal ada kaidah kita (jurnalis, red) dalam pemberitaan, seperti cover both side, hak tanya jawab. Untuk berita yang ditulis jurnalis sudah sesuai kaidah, rule of the game. Artinya kalau media jurnalis yang tulis bukan berita palsu. Sedangkan berita hoaks tidak ada kaidahnya, meski menggunakan kalimat-kalimat yang meyakinkan tapi tidak 5W+1H, terang Dedy.

Dedy memaparkan, ada sejumlah alasan mengapa seseorang menyebarkan hoaks. Antara lain, iseng, ingin memprovokasi, keuntungan politik, keuntungan ekonomi, ingin menjadi paling update, bergantung dengan gawai dan terlalu cemas.

Masyarakat begitu mudah sebarkan hoaks, lantaran lupa pada hukuman penyebaran hoaks, padahal ada undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan lainnya, jelasnya.

Perlu diketahui, hoaks berasal dari kata hocus ini mempunyai arti mengelabui. Hocus sendiri adalah penyingkatan dan hocus pocus semacam mantra dari aksi sulap di atas panggung. Kata hocus mulai digunakan sekitar tahun 1808. (ewi/r10)

Artikel Asli