Bertani on Cloud Kementan, Dosen IIB Darmajaya: Smart Farming untuk Menghemat Air dan Teknologi Low Cost

Nasional | lampung.rilis.id | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 10:20
Bertani on Cloud Kementan, Dosen IIB Darmajaya: Smart Farming untuk Menghemat Air dan Teknologi Low Cost

Dosen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya menjadi narasumber dalam Bertani on Cloud (BoC) yang digelar Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia secara daring Senin, (27/12/2021).

BoC mengangkat topik Teknologi Otomatis Budidaya Sayuran Hemat Air yang disampaikan Novi Herawadi Sudibyo, S.Kom., M.T.I. dengan dipandu widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Provinsi Lampung Dr. Adi Destriadi.

Dimana dalam kegiatan BoC tersebut juga bersamaan dengan pengukuhan dan penyerahan sertifikat P4S oleh Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr dan juga Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian RI Dr. Ir. Leli Nuryati, M.Sc.

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini dikuti oleh Puslatan, Cinagara dan P4S se Indonesia dengan 600an peserta.

Novi Herawadi Sudibyo -- yang akrab disapa Dibyo mengatakan IIB Darmajaya memiliki Green House yang berada di Rooftop Gedung Perpustakaan kampus.

Kami bersama dengan BPP Lampung melakukan penerapan smart farming untuk pengembangan pertanian, ungkapnya.

Dosen Sistem Komputer IIB Darmajaya ini menerangkan bahwa Teknologi Otomatis Budidaya Sayuran Hemat Air dengan menggunakan sensor dan microcontroller.

Kita menggunakan mikro sensor dan smartphone dalam mengontrol tanaman atau sayurannya," bebernya.

Saat ini, lanjut dia, sudah saatnya petani melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam melakukan kegiatan bertani, dengan teknologi petani dapat meningkatkan produktivitas pertaniannya, mengutip yang disampaikan Kepala BPPSDMP Kementan RI.

Sudah saatnya kita bertani dengan bersih dan tidak lagi kotor-kotoran lagi. Dalam proses budidaya dengan teknologi adaptif saat ini, bebernya.

Masih kata dia, dalam penerapan teknologi smart farming kususnya untuk menghemat air, dapat dibangun dan diimplementasikan dengan mudah dan murah atau teknologi yang low cost.

Dapat melihat monitoring tanah dan penyiramannya melalui smartphone dengan koneksi internet, kata dia.

Sekretaris Prodi Sistem Komputer ini menambahkan kedepannya Prodi sistem Komputer IIB Darmajaya dengan BPP Lampung akan terus mengembangkan teknologi berbasis IoT dengan konsep low cost untuk bidang pertanian.

"Dengan harapan dapat menjadi solusi bagi petani di Provinsi Lampung khususnya dan Indonesia secara umum dalam meningkatkan produktivitasnya," tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Badan PPSDMP Kementerian Pertanian RI Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. mengatakan dengan pemanfaatan teknologi di era 4.0 saat ini membuat Korea Selatan dapat mengekspor hasil pertanian.

Kita (Indonesia, ed) juga bisa karena telah melakukan pengembangan pertanian dengan Internet of Things (IoT), ungkapnya.

Semua itu, lanjut dia, bisa dilakukan dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).

Karena smart farming dapat diterapkan dengan biaya yang murah, tuturnya.

Sementara, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Provinsi Lampung, Dr. Abdul Roni Angkat, S.T.P., M.Si., mengatakan teknologi yang diterapkan dalam smart farming memudahkan petani.

Alat-alat tersebut mudah dicari di Glodok, ungkapnya.

Masih kata dia, jadi teknologi hemat budidaya air ini dirancang untuk P4S.

Dengan uang Rp3 juta dapat mengontrol budidaya hemat air melalui smartphone. Intinya smart farming ini adalah konsep kita bersama, tutupnya. (*)

Artikel Asli