Cabai Rawit Tembus Rp 90 Ribu per Kg

Nasional | radarjogja | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 08:29
Cabai Rawit Tembus Rp 90 Ribu per Kg

RADAR JOGJA Harga cabai di Pasar Tradisional Sleman terus melonjak. Dari pantauan yang dilakukan Senin (27/12) harga cabai rawit tembus di angka Rp 90 ribu per kilogram (kg). Disusul harga bahan pokok (bapok) yang juga merangkak naik.

Cabai rawit naiknya drastis. Tiga hari lalu (sebelum Natal, Red) masih Rp 70 ribu per kg, kata Parinem, 66, pedagang bapok di Pasar Sleman, kemarin.
Kenaikan cabai dipicu dari harga di tingkat petani yang juga terus melambung. Faktor cuaca buruk berpengaruh pada kualitas cabai. Cabai terserang jamur dan patek mengurangi hasil panen. Saya ambil dari petani di Muntilan, bebernya.

Semenjak harga cabai terus melonjak, berdampak pada surutnya peminat bumbu berasa pedas di pasaran. Akibatnya, dia merugi. Jika biasanya dia mampu menghabiskan 7 kg cabai rawit per tiga hari. Kini 5 kg saja tidak habis. Yang terbuang bisa setengah sampai 1 kg. Kualitas cabai yang juga memburuk menyebabkan mudah busuk, sambungnya.

Meningkatnya harga cabai beriringan dengan naiknya bapok di pasaran. Terutama harga minyak goreng dan telur. Menurut pedagang lainnya di Pasar Sleman Sutiasih, 65, harga minyak goreng dan telur kali ini menembus harga tertinggi sepanjang sejarah. Dimana 1 liter minyak goreng kemasan tembus Rp 20 ribu dari harga normal Rp 14 ribu Rp 15 ribu per liter. Sementara telur harganya melambung Rp 33 ribu per kg dari harga normal sekitar Rp 17 ribu.

Kalau dulu per dusnya minyak goreng paling banter Rp 170 ribu sekarang tembus Rp 222 ribu. Ini sudah sangat mahal, katanya. Jika harga ini terus melambung, dapat dipastikan banyak yang menimbun barang untuk mencari untung.

Sebagai pedagang dia menilai, tingginya komoditas bapok di penghujung tahun bukan hanya disebabkan faktor mementum Nataru melainkan maraknya bantuan sosial dari pemerintah yang digelontorkan dalam wujud sembako. Hal ini kata dia menyebabkan tingkat konsumsi bapok di pasaran menurun. Di sisi lain, pedagang yang mendapatkan pesanan khusus sembako dari pemerintah, berpotensi menyebabkan gejolaknya harga di pasaran.

Naiknya bapok berpengaruh pada pedagang makanan. Bardi misalnya. Pedagang kantin Pemerintah Kabupaten Sleman itu terpaksa menaikkan harga menu makanan yang mengandung bahan telur dan ayam. Ya mau nggak mau harga per porsi dinaikkan. Misalnya nasi goreng per porsi Rp 12 ribu menjadi Rp 13 ribu, tandasnya. (mel/bah)

Artikel Asli