Ancaman Pencurian Data dan Ransomware Diprediksi Masih Ada di 2022

Nasional | jawapos | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 08:31
Ancaman Pencurian Data dan Ransomware Diprediksi Masih Ada di 2022

JawaPos.com Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat serangan siber sampai Oktober 2021 sudah lebih dari 1 miliar. Ini dua kali lipat lebih banyak dibanding 2020, yang juga berlipat lebih banyak dibandingkan 2019 sebelum ada pandemi Covid-19.

Dalam keterangannya, pakar keamanan siber, Pratama Persadha menjelaskan bahwa ancaman siber pada 2022 tidak akan jauh berbeda seperti di 2021. Menurutnya, Indonesia masih punya pekerjaan rumah untuk mencegah berbagai kebocoran data, terutama di lembaga negara dan swasta yang memproses data pribadi masyarakat dalam jumlah sangat banyak.

Pada 2021 ini, Indonesia mencatatkan rekor buruk di global pada kasus kebocoran BPJS kesehatan. Karena kebocoran 279 juta data tersebut masuk pada urutan pelanggaran data terbesar yang dicatat oleh berbagai lembaga siber di seluruh dunia, ungkap Pratama kepada JawaPos.com melalui pesan singkatnya.

Dari peristiwa tersebut, lanjut dia, seharusnya pemerintah bisa belajar kesalahan tersebut dan tidak mengulanginnya pada tahun-tahun mendatang. Hal ini karena serangan diperkirakan akan menjadi lebih umum, lebih kuat, dan lebih maju di tahun-tahun mendatang, terang chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.

Pratama menambahkan, pencurian data masih akan menjadi tren di 2022. Data dalam jumlah massif semakin dibutuhkan oleh banyak pihak, baik untuk kegiatan legal maupun ilegal.

Memang ini terjadi secara global, namun dengan pemakai internet hingga Januari tahun ini yang menembus lebih dari 200 juta penduduk, tentunya Indonesia harus lebih serius dalam permasalahan ini.

Meski pencurian data atau serangan siber memang sangat sulit dicegah. Namun itu semua bisa ditekan dengan pendekatan hukum lewat Undang-undang (UU), juga pendekatan SDM dan teknologi.

UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi pembahasan pemberitaan selama 2020-2021 karena begitu banyak kebocoran data dan masyarakat tidak bisa apa-apa karena tidak ada instrumen yang melindungi, tegasnya.

Ditambahkan Pratama bahwa ancaman ransomware juga akan terus tumbuh. Serangan ini diperkirakan akan meningkat di industri kritis di mana membayar penjahat siber terpaksa dilakukan untuk melindungi keamanan dan keselamatan data demi keberlangsungan institusi atau perusahaannya.

Pada 2022, prediksi berdasarkan tren global yang ada dengan melihat pola penyerangan dan inovasi teknologi yang terus berubah, maka serangan ransomware diproyeksikan bakal meningkat, hingga deepfake juga masalah kerentanan perangkat Internet of Things (IoT) yang kemungkinan akan menambah ancaman terhadap keamanan siber.

Artikel Asli