Yaning Mustika Ningrum dan Usaha Kampung Songo Jadi Kampung Produktif

Nasional | jawapos | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 07:48
Yaning Mustika Ningrum dan Usaha Kampung Songo Jadi Kampung Produktif

Tak puas hanya menjadi kampung yang hijau dan bersih, Kampung Songo di RT 09, RW 03, Simomulyo Baru, Sukomanunggal, kini melirik predikat kampung sayur. Perjuangan tersebut dimulai pada 2013 dan ingin terus dipertahankan.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

YANING Mustika Ningrum terlihat sibuk merapikan puluhan pot di dalam rumahnya. Pot-pot tanaman miliknya memang tak terlihat umum. Beberapa di antaranya lebih mirip panci. Bahkan, ada yang berupa blender bekas. Ini memang barang-barang yang sudah tidak terpakai, dijadikan pot saja, ucapnya, lantas tersenyum.

Jika disuruh menghitung jumlah pot di rumahnya, Yaning menyerah duluan. Waduh. Kayaknya 100 ya ada ya, jawabnya, kemudian tertawa.

Maklum, dia memang bisa disebut sebagai pelopor hijaunya Kampung Songo. Mimpinya menghijaukan kawasan rumahnya terinspirasi dari kawasan lain di Surabaya.

Memang, jalan-jalan di Kampung Songo kini menawarkan suasana teduh dan sejuk. Meski cuaca terik, menyusuri Kampung Songo tak membuat penulis emosi karena kepanasan. Pilihan tanaman yang ada juga cukup beragam. Mulai tanaman hias di dalam pot kecil hingga sayur-sayuran dalam pot besar. Ini juga terbantu kompetisi-kompetisi penghijauan di Surabaya. Selain membangun kesadaran warga terus-menerus ya, ucap Yaning.

Perjuangan Kampung Songo menjadi kawasan yang rimbun memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Yaning dan suaminya, Nyoman, sepakat mengajak warga untuk lebih sadar lingkungan. Awalnya saya sampai mengajukan diri jadi ketua RT supaya bisa mendorong orang-orang, kenangnya, kemudian tertawa.

Pasangan suami istri itu kemudian mencari bibit-bibit dari DKRTH untuk ditanam dan dibagikan. Pas dulu kenal Mas Adi Candra, penyuluh lingkungan DKRTH, jadi bisa dibantu, katanya.

Yaning tak puas. Dia dan sang suami belanja sendiri bibit-bibit tanaman hias yang bisa dibagikan kepada warga.

Jangankan warga, pengurus RT sendiri yang diberi bibit awalnya malas lho mengurus gitu, kenangnya.

Perempuan berkacamata itu tak menyerah. Semua lini komunikasi selalu disisipi info kesadaran lingkungan. Pengajian ibu-ibu, rapat RT, atau sekadar pertemuan informal.

Setelah tujuh tahun membangun kesadaran warga terhadap lingkungan, kini kampung mereka terpilih sebagai salah satu lokasi pilot kampung sayur di Surabaya. Ya, tapi masih awal sekali. Ini masih sekitar lima rumah dari 56 rumah di RT kami, tutur Yaning.

Tommy Priyo Pratomo, pendamping Kampung Sayur Simomulyo Baru, mengatakan bahwa pengembangan kampung sayur tak hanya terpaku pada pemberian bibit. Pengelolaan kampung lebih kompleks dari itu. Jadi, termasuk branding kampung dan kearifan lokalnya, jelasnya. Tak hanya menjual sayur hasil panen, tetapi juga membuat produk khas yang mampu mengangkat kampung itu sendiri. Untuk awal ini, kami ingin buat produk olahan terong yang bisa dimakan anak-anak. Diolah dengan bumbu atau bahan lain, masih dicoba, ujar Yaning.

Pihaknya juga memulai kerja sama dengan mahasiswa BEM UK Petra yang akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Kami lihat konsepnya bagus. Jadi, kami ingin berkontribusi juga mengembangkan kampung, ucap Gracia Giovanny, mahasiswa akuntansi pajak UK Petra.

Setelah pembuatan mural dan pembagian bibit, pihaknya juga bekerja sama untuk memperkuat branding kampung. Rencananya ada digitalisasi kampung ini. Informasi di web bisa lebih jelas, virtual tour, itu supaya kampung ini juga bisa terangkat sebagai kampung wisata, tutur Tommy.

Dia mengatakan, pengembangan kampung memang makin apik jika menggandeng lebih banyak pihak. Misalnya, corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan atau kerja sama dengan lembaga jelas bisa mengangkat pengelolaan kampung lebih maju. Jadi, konsep kampung sayur, kampung pendidikan, dan kampung wisata mungkin bisa diraih dengan kerja sama banyak pihak, jelasnya.

Artikel Asli