Kisah Jenderal Kopassus Buat Pasukan Belanda Frustasi di Papua, Dihargai 500 Gulden Hidup atau Mati

Nasional | inewsid | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 07:23
Kisah Jenderal Kopassus Buat Pasukan Belanda Frustasi di Papua, Dihargai 500 Gulden Hidup atau Mati

JAKARTA, iNews.id - Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin (LB) Moerdani atau Benny Moerdani dikenal sebagai tokoh militer yang kenyang pengalaman tempur. Benny bahkan sudah ikut bertempur sejak usia 13 tahun.

Pengalaman tempurnya mulai dari melawan penjajah di masa revolusi kemerdekaan hingga penumpasan pemberontakan bersenjata. Mulai dari mengatasi PRRI/Permesta, DI/TII, pembebasan Irian Barat, ganyang Malaysia di pedalaman Kalimantan hingga penumpasan G30S/PKI.

Dikutip dari buku "Belajar Uji Nyali dari Benny Moerdani, Dia Tak Bisa Dibeli dengan Uang", Benny saat masih berusia belasan tahun pernah menyusup ke markas Belanda sebagai mata-mata. Meski taruhannya sangat berat karena nyawanya bisa melayang jika ditangkap, Benny yang fasih berbahasa Belanda tidak gentar dan bisa menjalankan tugasnya sebagai mata-mata dengan baik.

Sepak terjang Benny di dunia militer membuat dirinya selalu diperhitungkan. Bahkan Belanda pernah menawarkan hadiah menggiurkan bagi siapa saja yang bisa menangkap Jenderal Kopassus itu hidup atau mati.

Hal itu terjadi saat Benny melaksanakan Operasi Naga di Irian Barat atau Papua. Benny yang saat itu berpangkat Kapten ditugaskan untuk menggagalkan rencana Belanda mendirikan negara boneka di Papua.

Benny diterjunkan di daerah Merauke dengan tujuan memecah konsentrasi pasukan Belanda yang berkekuatan sekitar 10.000 orang di Biak. Di sana Benny harus berhadapan dengan pasukan elite Belanda yaitu Koninklijke Mariniers.

Pada 23 Juni 1962 pukul 03.00 WIT, sebanyak 213 prajurit Kopassus diterjunkan dari tiga pesawat C-130 Hercules di atas Papua. Namun operasi itu bocor oleh siaran radio Australia. Akibatnya operasi ini tak berjalan sesuai rencana karena Belanda melakukan penyergapan dan pengadangan.

Benny dan pasukannya harus menghadapi ganasnya alam Papua serta pasukan Belanda sekaligus. Salah satu pertempuran terjadi pada 28 Juni 1962 di mana dua perahu motor Marinir Belanda tiba-tiba menyerang pasukan Benny yang sedang beristirahat di pinggir Sungai Kumbai sehingga pertempuran jarak dekat tak bisa dielakkan.

Saat menyelamatkan diri, Benny berhasil membawa serta senjata, radio, dan dokumen penting yang terikat di tubuhnya. Sementara jaket yang dia kenakan terlepas.

Dalam buku "Kopassus untuk Indonesia", Benny dan pasukannya disebut berhasil menggagalkan sergapan pasukan Belanda itu.

"Yang dipakai Benny strategi kucing. Kalau bertempur ya bertempur, kalau tidak kucing-kucingan. Tujuan kami sebagai umpan supaya Belanda memecah konsentrasi di Biak terbukti berhasil," kata Brigjen TNI (Purn) Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi yang ikut dalam Operasi Naga tersebut.

Pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda di pedalaman Papua terus berlangsung. Bahkan Belanda mengumumkan akan memberi 500 gulden bagi siapa saja yang bisa menangkap Kapten Benny. Pengumuman itu dia lihat pada pamflet yang banyak terpasang di rumah warga di mana ada foto dirinya dan Benny.

"Sebanyak 500 gulden untuk informasi atau menangkap keduanya hidup atau mati," katanya.

Upaya menangkap Benny yang dilakukan Belanda terus gagal hingga akhirnya gencatan senjata berlangsung. Pada 17 Agustus 1962, Benny dan pasukannya dijamu makan di markas Marinir Belanda di Merauke.

Saat tiba di lokasi, Benny terkejut menemukan jaketnya dipajang di dinding markas Marinir Belanda. Jaketnya itu bahkan dijadikan sasaran lempar pisau. Diketahui jaketnya menjadi pelampiasan kekesalan tentara elite Belanda yang tak kunjung bisa menangkapnya.

Tentara Belanda bernama Jan Willem de Leeuw mengakui keberanian Benny Moerdani. Keduanya bertemu pertama kali di Papua.

"Selain profesional sebagai tentara, Benny juga merupakan negosiator ulung," ucap Jan.

Keberhasilan operasi ini membuat Benny mendapat kenaikan pangkat luar biasa dan tanda kehormatan bintang sakti dari Presiden Soeharto. Tanda kehormatan itu merupakan bentuk penghargaan terhadap keberanian dan ketabahan tekad seorang prajurit melebihi penaggilan kewajiban dalam oeprasi militer.

Presiden Soeharto bahkan sempat mengangkat Benny sebagai Panglima ABRI meski selama kariernya tak pernah menjabat Pangdam, Komandan Brigade, dan Komandan Korem. termasuk mengikuti pendidikan di Sesko.

"Tapi dia dulu terjun di Merauke," ujar Prabowo Subianto menirukan ucapan Presiden Soeharto dalam bukunya berjudul "Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto".

Bahkan peristiwa penerjunan pasukan Indonesia itu dikenang dengan didirikannya patung Benny berdiri dengan parasut tergulung di pundak. Patung itu didirikan tahun 1987 di Kampung Kuprik, Distrik Tanah Miring, sekitar 30 km dari Merauke.

Artikel Asli