Profit Kuliner Jadi Berkurang

Nasional | radarjogja | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 07:18
Profit Kuliner Jadi Berkurang

RADAR JOGJA Menjelang pergantian tahun, harga telur ayam ras di pasaran terpantau meningkat tajam. Meski sudah ada penurunan, kini masih terbilang tinggi. Gejala sosial masyarakat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi faktornya.

Seorang pedagang sembako di Pasar Beringharjo Subur mengatakan, kenaikan harga telur ini sudah dirasakan sejak satu minggu lalu. Setiap menjelang pergantian tahun diklaim selalu meningkat, tetapi kali ini yang paling tajam. Sekarang masih tinggi Rp 32 ribu. Ini sudah harga paling maksimal, katanya di Pasar Beringharjo, Senin (27/12).

Subur menjelaskan, kenaikan komoditi telur ini sudah biasa menjelang akhir tahun. Tetapi, rata-rata kenaikan paling tinggi hanya diangka Rp 25 ribu per kilogram. Tahun ini menjadi rekor tertinggi kenaikan.
Stoknya nggak ada. Yang nyetorin saya nggak ada barangnya, langka. Katanya untuk PKH (Program Keluarga Harapan), malah pasokan ke pasar nggak ada, ujarnya.

Akibat kenaikan ini, berpengaruh sedikit terhadap penjualannya kepada konsumen. Biasa kalangan rumah tangga yang datang, kali ini terlihat lebih sedikit. Mayoritas dari kalangan restoran. Sebab, dari kalangan rumah tangga sudah tercukupi lewat PKH yang diberikan pemerintah. Dari restoran membelinya ada pengurangan tapi nggak terlalu banyak, jelasnya.

Demikian pula pasokan ketersediaan per harinya juga dibatasi hanya 20 peti dari normalnya sekitar 30-an peti. Terlebih saat puncak kenaikan satu minggu lalu, pasokan hanya tersedia 3-5 peti. Ini aja kita masih pakai stok lama, saya kurangi takut nggak terjual. Kabar sekarang harga dari sana sudah mulai turun, jelasnya.

Pedagang lain di Pasar Beringharjo, Harjuno mengatakan, harga telur ras ini setiap hari berubah-ubah. Saat ini di angka Rp 30 ribu per kilogram. Kenaikan tahun ini tajam diklaim disamping permintaan kebutuhan momentum Nataru juga sejalan ada PKH. Itu yang bikin hancurnya harga, pengaruhnya stok langka dan jadi mahal, katanya.

Menurutnya, kenaikan harga telur tidak berpengaruh terhadap permintaan pelanggan. Sebab telur menjadi kebutuhan pokok masyarakat setiap hari, termasuk restoran. Meski rata-rata pelanggan yang mayoritas dari rumah makan mengeluh harga tinggi, tidak mempengaruhi volume pembelian mereka.
Terpisah, seorang PKL kuliner Malioboro Rini Pujiastuti mengatakan, kenaikan komoditi telur sudah dirasakan satu minggu terakhir. Dan berdampak pula terhadap margin profit yang menjadi berkurang.

Dalam sehari pun tidak mengurangi kebutuhan penggunaan telur untuk menu yang dijual yakni nasi gudeg telur. Rata-rata kebutuhan sehari adalah 2-3 kilogram. Kita nggak bisa naikin harga penjualan (menu). Jadi otomatis profit keuntungan yang ditekan, katanya.

Sementara, Harjito yang juga seorang PKL kuliner Malioboro menambahkan, kenaikan harga telur tidak berpengaruh apapun terhadap penjualan kulinernya. Harga menu yang menggunakan telur masih tetap sama. Sebab, penggunaan kebutuhan telur tidak terlalu signifikan. Hanya untuk pelengkap menu gudeg telur. Biasanya kebutuhan telur sekitar 2 kg. Mau nggak mau ya tetap beli dengan harga segitu, tambahnya.

Kabid Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Riswanti mengatakan, sejatinya kenaikan harga telur ras ini selalu terjadi setiap akhir tahun. Disamping karena sejalan dengan program PKH yang digulirkan pemerintah. Juga difaktori oleh permintaan yang meningkat pada momen Nataru ini.

Saat bantuan PKH turun memang ada kecenderungan naik, tapi nggak sampai sekian banget (naiknya). Sebenarnya ada sisi gejala sosial yang memang latah, padahal stoknya tetap dipeternak, katanya.

Gejala sosial seperti kebiasaan yang berulang setiap momen Hari Natal maupun Idul Fitri. Sebab, dinilai ada kebutuhan untuk alokasi yang meningkat, misalnya memberikan parcel, THR kepada kolega maupun membuat produksi kue-kuean dan lain-lain.

Kalau PKH dan momen ini sudah selesai, harga telur akan normal lagi. Kemungkinan awal tahun semoga bisa normal, ujarnya. Meski saat ini harga telur diklaim sudah turun dan stabil diharga Rp 31 ribu per kgm, masih tetap tergolong tinggi. Dari harga normal Rp22 ribu-Rp23 ribu.

Komoditi lain juga turut naik seperti cabai rawit merah yang sempat tembus Rp 100 ribu per kg beberapa hari lalu. Sekarang turun menjadi Rp 85 ribu. Dari sebelumnya atau harga normalnya Rp 32 ribu per kg. Ini difaktori karena cuaca. Di samping itu, ayam broiler dari Rp 34 ribu menjadi Rp 38 ribu. Serta minyak goreng yang masih tinggi Rp 19 ribu per liter dari sebelumnya Rp13 ribu-Rp15 ribu per liter. (wia/laz)

Artikel Asli