Kaleidoskop 2021, Dinamika Muktamar NU, Gus Yahya Pimpin Warga Nahdliyin

Nasional | inewsid | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 05:00
Kaleidoskop 2021, Dinamika Muktamar NU, Gus Yahya Pimpin Warga Nahdliyin

JAKARTA, iNews.id - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi perhatian publik. Pasalnya kebijakan atau kepengurusan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini penting dalam kemajuan Tanah Air.

Dalam sejarahnya, muktamar NU pertama kali diselenggarakan di Surabaya pada pada 21 Oktober 1926. Pada tahun 1936, muktamar NU di luar Jawa pertama kali diselenggarakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Muktamar NU merupakan Forum permusyawaratan tertinggi NU ini untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan, menyusun program baru, dan memilih pengurus untuk periode selanjutnya.

Para peserta muktamar berasal dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Status peserta muktamar (muktamirin) terdiri dari tiga jenis yakni peserta, peninjau, dan pengamat.

Peserta memadati arena pemilihan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-34 NU, Lampung. (Foto akun Youtube NU Online).
Peserta memadati arena pemilihan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-34 NU, Lampung. (Foto akun Youtube NU Online).

Tempat penyelenggaraan muktamar terkait NU membantu umat Islam yang mengalami masalah. Misalnya muktamar di Semarang (1929) untuk me pomnyelesaikan perpecahan dalam tubuh Syarikat Islam (SI) menjadi SI putih dan SI merah didominasi kelompok komunis.

Lalu muktamar NU di Pekalongan pada tahun 1930 upaya NU meredam konflik antara penduduk dan etnis Tionghoa.

Gus Yahya VS Kiai Said Aqil

Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 22-23 Desember diprediksi akan memanas karena perebutan pimpinan warga Nahdliyin. Ada lima kader PBNU yang maju sebagai Ketua Umum termasuk petahana KH Said Aqil Siroj.

Kelima Caketum PBNU yaitu Kiai Said Aqil, KH Yahya Cholil Staquf, KH As'ad Said, KH Marzuqi Mustamar dan, Ramadan. Hasilnya Kiai Said Aqil dan Gus Yahya maju dalam putaran kedua.

Hasil voting suara pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU di Lampung. (Foto akun Youtube NU Online).
Hasil voting suara pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU di Lampung. (Foto akun Youtube TVNU).

Gus Yahya mendapatkan perolehan 327 suara dan Kiai Said Aqil mendapatkan 203 suara. Lalu As'ad Said mendapatkan 17 suara, Marzuqi Mustamar 1 suara, Ramadan 1 suara. Sementara terdapat 1 suara abstain dan 1 suara tidak sah.

"Saya menyatakan siap untuk maju pemilihan calon Ketua Umum PBNU periode 2021-2026," kata Gus Yahya usai lolos putaran kedua.

Senada dengan Gus Yahya, Kiai Said Aqil mengaku siap memenuhi keinginan pendukungnya untuk maju jadi calon Ketua Umum. Menurut dia, kalah atau menang hal yang wajar.

"Menang kalah wajar. Apapun harus kita terima dengan legowo," kata Said Aqil.

Usai keduanya memberikan pernyataan siap maju dalam putaran kedua. Panitia muktamar kembali melakukan voting setelah musyarawarah dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Sementara hasil putaran kedua, Gus Yahya memperoleh 337 suara dan Kiai Said Aqil mendapatkan 210 suara. Atas hasil tersebut, Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

Usai menang, Gus Yahya memeluk dan mencium tangan Kiai Said Aqil. Keduanya duduk bersama dan menerima hasil voting muktamar.

Gus Yahya mengucapkan terima kasih kepada Said Aqil karena baginya Kiai Said merupakan guru yang telah banyak memberikan pengalaman.

"Paling awal saya haturkan terima kasih kepada guru saya, yang mendidik saya, menggembleng dan menguji saya tetapi juga membuka jalan untuk saya dan membesarkan saya yaitu prof dr KH Said Aqil Siradj," tutur Gus Yahya Jumat (24/12/2021).

Gus Yahya berujar, tak bisa mengganti secara penuh kebaikan yang diberikan oleh Kiai Said selama ini. Keberhasilan yang diperoleh PBNU pun, kata Gus Yahya, tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran serta Kiai Said Aqil.

"Saya tidak tahu apakah akan cukup umur saya utk membalas jasa-jasa beliau. Kalau ada yg patut dipuji, beliau yang harus dipuji," imbuh dia.

Said Aqil menyebut bahwa par muktamirin tidak salah pilih Gus Yahya. Pasalnya, kata Said Aqil, Gus Yahya adalah merupakan cicit dari gurunya ayah Said saat mondok di pesantren Rembang.

"Gus Yahya ini adalah cicit dari gurunya ayah saya pesantren di rembang. Ketika itu kiyai nya kakek yang keempat, kiyai kholil harun. Buyutnya Yahya Staquf ini," kata Said Aqil usai pemilihan Ketum PBNU.

Ketum PBNU Said Aqil Siradj optimistis akan maju jadi Ketum PBNU (Foto : Widya Mchella)
Ketum PBNU Said Aqil Siradj optimistis akan maju jadi Ketum PBNU (Foto : Widya Mchella)

"Saya senang dan bersyukur muktamar berjalan dgn baik. Pilihan muktamirin yang sangat tepat tidak salah pilihan, sangat tepat insyallah bahu membahu," imbuh dia.

Walaupun di awal sedikit panas, kata Said, kini Muktamar telah selesai dengan damai, aman, dan ketawa. Said Aqil pun meminta kepada para muktamirin agar dapat melupakan apa yang terjadi sebelumnya.

"Kita bergandengan tangan membesarkan Nahdlatul Ulama," terang dia.

Visi Misi Gus Yahya

Gus Yahya mengajak Nahdliyin untuk tidak sekadar memahami NU sebagai identitas. Sebab, NU didirikan membawa mandat peradaban.

Menurut Gus Yahya, jika hal itu terjadi, NU hanya jalan di tempat, dan baru bergerak jika diserang. Tapi tidak ada langkah untuk mengejar suatu tujuan tertentu di masa depan.

Ini penting sekali untuk dipahami semua kader NU, supaya kemudian siap untuk bergerak bekerja menjalankan agenda-agenda organisasi, ujarnya dalam Ngopi Bareng Gus Yahya, Selasa (21/12/2021).

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (Foto Antara).
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (Foto Antara).

Gus Yahya mengakui, upaya untuk menjadikan NU sebagai model peradaban di masa depan butuh perjuangan. Namun dengan trigger yang kuat, komunikasi, dan kerja sama, semua itu bisa dilakukan.

Dia pun mengajak, kader-kader NU harus berani berpikir soal ini. Sebab jika tidak, nanti hanya berebut remeh temeh seperti yang selama ini terjadi. Maka mulai sekarang, kita harus membangun mentalitas dan mindset untuk berpikir soal mandat peradaban itu, katanya.

Apalagi, di generasinya ke bawah, hal ini bukan sesuatu yang sulit. Sebab sudah ada sosok yang memulai, sehingga tinggal meneruskan. Sosok tersebut adalah KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur sudah memulai. Pergulatan politik, pemikirannya sudah bisa kita lihat. Bahwa Gus Dur melakukan perjuangan peradaban, katanya.

Atas dasar itu, kata Gus Yahya, sosok Gus Dur akan selalu dibutuhkan. Sayang, sosoknya sudah tidak ada di dunia ini. Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak punya pilihan. Kita harus menghidupkan Gus Dur, dengan cara menghidupkan pemikiran dan idealismenya di organisasi. Maka ber NU, sama dengan ber Gus Dur, ujarnya.

Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menyebut, NU berdiri pada 1926 usai kekhalifahan Turki Utsmani runtuh di tahun 1924. Padahal pada zaman itu, kekhalifahan Turki Utsmani menjadi model dunia keislaman.

Kekhalifahan Turki Utsmani ini bisa saya sebut imperium terbesar yang pernah ada sepanjang sejarah. Bisa dibandingkan dengan imperium Iskandar Zulkarnaen, paparnya.

Kemudian, jelas Gus Yahya, salah satu pendiri NU KH Wahab Chasbullah yang sempat berada di Arab menyatakan bahwa Arab Saudi tidak bisa dijadikan model. Sehingga akhirnya bersama-sama mendirikan NU ini.

Kesimpulan deduktif saya, pendirian NU ini adalah upaya menemukan format peradaban baru. Pasti skalanya global. Maka lambang yang dipilih adalah lambang jagad, bola dunia, katanya.

Artikel Asli