Cari Cuan ORI dan Sukuk saat Tapering Dijalankan

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 20:48
Cari Cuan ORI dan Sukuk saat Tapering Dijalankan

Belum tuntas momentum pemulihan ekonomi, kini risiko tapering bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) sudah di depan mata. Lantas, bagaimana prospek investasi untuk instrumen obligasi ritel Indonesia (ORI) dan sukuk?

THE Fed akan mempercepat pengurangan pembelian aset atau yang disebut dengan tapering. Normalisasi kebijakan bank sentral AS itu tentu akan berdampak pada pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Dengan pengurangan stimulus moneter, tapering akan membuat adanya kenaikan suku bunga di AS. Hal itu diharapkan bisa menahan laju inflasi. Kondisi tersebut tentu membuat para investor pasar keuangan harus cermat menentukan instrumen investasi.

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menuturkan, instrumen investasi yang paling ideal tentu harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Artinya, apakah investor tersebut butuh suatu instrumen yang lebih cepat return-nya? Kalau untuk menghasilkan imbal hasil dana dalam waktu pendek idealnya masuk ke pasar saham. Tapi, kalau profil risikonya lebih ke aspek jangka panjang dan butuh sesuatu yang lebih stabil return-nya bisa masuk ke obligasi, ujarnya kepada Jawa Pos Jumat (24/12).

Riefky memandang, prospek obligasi pemerintah, baik sukuk maupun ORI, terbilang relatif menarik. Menurut dia, yield diferensial ORI dan sukuk cukup kompetitif dibanding surat utang negara-negara lain.

Memang ini satu yang perlu di-highlight adalah profil risk return dari investor ini butuh yang seperti apa. Tapi, secara general, baik Sukuk, ORI, SBN, maupun SBI, semuanya memiliki tingkat pengembalian yang kompetitif dibanding negara lainnya, tuturnya.

Dari sisi kondisi ekonomi domestik, pemerintah melalui Kemenkeu juga akan memperluas penerbitan obligasi pemerintah pada tahun depan. Hal itu bertujuan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan mengantisipasi potensi gejolak yang mungkin terjadi di tahun depan.

Meskipun demikian, Riefky menyebutkan, penerbitan obligasi pemerintah di tahun depan bukan menjadi sentimen satu-satunya. Sebab, langkah tersebut semata-mata adalah upaya pemerintah dalam mencari dana tambahan. Adanya langkah itu tidak kemudian memengaruhi apakah menjadi lebih menarik untuk investor atau tidak, imbuhnya.

Secara umum, dia melihat dampak tapering The Fed kepada Indonesia terbilang beragam. Dampak utama yang akan terjadi bakal menekan arus modal di pasar keuangan.

Sebab, jika The Fed melakukan tapering, modal-modal yang ada di seluruh dunia akan berkurang secara perlahan. Modal yang berkurang itu bakal kembali ke negara-negara maju.

Indonesia yang notabene sebagai negara emerging market harus memitigasi kemungkinan pembalikan arus modal tersebut. Dampak arus modal keluar akan membuat rupiah terdepresiasi, imbuh Riefky.

Dalam sebulan belakangan pun kondisi itu mulai terjadi. Menkeu Sri Mulyani menyebut secara year to date nilai tukar rupiah masih relatif stabil, hanya terkoreksi 2,3 persen. Wanita yang akrab disapa Ani itu menuturkan, depresiasi nilai tukar rupiah masih lebih rendah dibandingkan negara lainnya. Misalnya, mata uang Argentina yang terkoreksi di atas 20 persen.

Negara berkembang lainnya seperti Thailand dan Brazil mencatat depresiasi yang lebih tinggi. Yakni, masing-masing 11 persen dan 9,4 persen.

Meski demikian, Riefky menyebut Bank Indonesia (BI) sejauh ini masih dalam koridornya untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil. Meski terdepresiasi, nilainya cukup stabil, jelasnya.

Nantinya, dampak selanjutnya yang harus diantisipasi adalah jika depresiasi nilai tukar rupiah sudah merembet ke sektor riil. Hal itu dikhawatirkan akan menekan kinerja ekspor impor dan memberikan ketidakpastian pada aktivitas perdagangan.

KEUNTUNGAN BERINVESTASI ORI/SUKUK

Kupon dan pokok dijamin oleh UU

Kupon ditawarkan lebih tinggi dibanding rata-rata tingkat bunga deposito bank BUMN

Kupon dengan tingkat bunga tetap sampai waktu jatuh tempo

Kupon dibayar tiap bulan

Dapat diperdagangkan di Pasar Sekunder (antarinvestor domestik)

Tersedianya kuotasi harga beli (bida price) dari mitra distribusi atau pihak lain yang bekerja

Berpotensi memperoleh capital gain

Dapat dipinjamkan atau dijaminkan ke pihak lain (sesuai kebijakan masing-masing mitra distribusi)

Masyarakat turut serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional

Sumber: Kemenkeu

Artikel Asli