Final Keenam Indonesia di Piala AFF, Gelar Pertama?

Nasional | republika | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 19:10
Final Keenam Indonesia di Piala AFF, Gelar Pertama?

REPUBLIKA.CO.ID, Asa juara kembali dibuka timnas sepak bola Indonesia di ajang regional bertajuk Piala AFF. Setelah mengalahkan tuan rumah Singapura di babak semifinal dengan agregat 5-3, Sabtu (25/12), Indonesia kian membuktikan bisa tampil sangat apik di kompetisi dua tahunan ini.

Target pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong sebenarnya sudah tercapai. Sebelum turnamen bergulir, ia menetapkan visi Indonesia lolos ke semifinal. Tapi, takdir justru mengantarkankan Indonesia lebih dari itu.

Pilihan pelatih yang tidak muluk-muluk itu bukan tanpa alasan mengingat rombongan pemain yang ia bawa didominasi pemain muda. Deretan wajah-wajah segar membuat Indonesia menjadi tim dengan skuad termuda kedua (23,8 tahun) setelah Timor Leste (21,3 tahun).

Dari total 30 pemain yang dibawa ke Singapura, separuh di antaranya berusia 18-23 tahun. Jumlah itu dua kali lebih banyak dibandingkan dengan rombongan Piala AFF 2018 lalu. Ini merupakan salah satu janji Shin untuk mengorbitkan pemain muda.

Dari daftar nama pemain yang diajak ke Singapura, mungkin hanya Evan Dimas dan Egy Maulana Vikri yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun kini beberapa nama lain seperti Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Elkan Baggott, Irfan Jaya, Witan Sulaeman, dan lain sebagainya, kian populer.

Meski rentetan nama baru itu sempat menuai sindiran dari negara tetangga yang menyebut Indonesia tidak akan lolos dari fase grup, kenyataannya Evan Dimnas dan kolega berhasil merangsek ke semifinal sebagai juara Grup B. Skuad Merah-Putih bahkan masih tercatat sebagai tim paling produktif (18 gol) dan hanya kebobolan tujuh kali.

Di atas kertas, catatan itu memang membuktikan bahwa Indonesia sedang trengginas di kompetisi ini. Tapi tentu ada beberapa aspek yang masih jadi kekurangan dan berpotensi dimanfaatkan siapapun lawan di final nanti.

"Jangan hilang bola! Jangan hilang bola!" adalah teriakan yang terdengar dari sisi lapangan ketika Indonesia menghadapi Kamboja di fase grup. Berdasarkan statistik Opta dalam laga tersebut, tercatat Indonesia hanya mencapai 79,9 persen akurasi operan.

Kemudian, Indonesia juga perlu memperbaiki efektivitas dalam mengonversi peluang menjadi gol. Ini tergambar lewat laga teranyar kontra Singapura di leg kedua semifinal. Dari total 35 peluang, hanya ada 14 yang shot on target atau tidak mencapai separuhnya.

Sementara Singapura yang membukukan 15 peluang, mencatat sembilan shot on target atau hampir dua per tiganya. Saat terpaksa kehilangan satu pemain akibat kartu merah, Singapura justru mampu mencuri kesempatan dengan menyeimbangkan kedudukan 1-1 di babak pertama.

Kemudian di babak kedua, Singapura meningkatkan tempo permainan dengan terus-menerus menggempur pertahanan Indonesia. Namun petaka bagi tuan rumah ketika Irfan Fandi diusir wasit pada menit ke-67 dengan kartu merah.

Bermain dengan sembilan orang tak membuat tuan rumah kendur. Singapura bahkan berbalik unggul lewat gol Shahdan Sulaiman di menit ke-74. Ini menjadi gambaran bahwa taktik Shin mungkin efektif ketika situasi 11 vs 11 pemain, tapi berantakan saat keadaan 11 melawan sembilan pemain lawan.

Untungnya, Pratama Arhan kembali menyeimbangkan kedudukan di menit ke-87 sebelum Singapura hampir membenamkan Indonesia melalui eksekusi penalti di akhir babak kedua. Sekali lagi, untungnya, tendangan dari titik putih itu menemui kegagalan.

Indonesia baru bisa mengambil pelajaran saat pertandingan terpaksa diseret ke babak tambahan. Merah-putih menambah dua gol melalui gol blunder Shawal Anuar dan gol penutup Egy Maulana Vikri sekaligus memastikan kemenangan.

Perlu diakui, timnas Indonesia di bawah tanggung jawab Shin memiliki semangat juang yang tinggi. Agaknya, Shin menanamkan nilai-nilai yang biasa dipegang oleh pesepak bola Korea Selatan ke Indonesia. Sebab yang sudah-sudah, Indonesia sering lengah jika sudah unggul atau melempem saat tertinggal lebih dulu.

Saat menghadapi Singapura, terlihat beberapa kesalahan operan yang akhirnya membuat lini pertahanan Indonesia kerepotan. Selain persoalan non-teknis seperti semangat dan mental, faktor teknis tentu menjadi salah satu penyebab tim bisa merebut kemenangan.

Prinsip 'Kill The Game' perlu ditanamkan ke setiap kepala penggawa timnas Indonesia seperti yang dilakukan Shin bersama Korea Selatan saat menghajar Jerman di Piala Dunia 2018. Ingat, ini adalah final keenam bagi Indonesia di Piala AFF dan mungkin menjadi gelar pertama sepanjang sejarah. Tunggu apalagi? Inilah saatnya!

Artikel Asli