Romo Magnis: Patung Maria, Yusuf, dan Yesus Kecil di Bawah Pohon Natal

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 18:48
Romo Magnis: Patung Maria, Yusuf, dan Yesus Kecil di Bawah Pohon Natal

ROMO Franz Magnis Suseno tiba di Indonesia pada Januari 1961. Artinya, sudah 60 tahun bagi penulis buku-buku filsafat itu merasakan Natal di bumi Nusantara. Jauh lebih lama dibandingkan dengan perayaan Natal di tanah kelahiran Romo Magnis, begitu dia biasa disapa, di Jerman. Meski begitu, rohaniwan yang menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu masih ingat betul kegembiraan-kegembiraan setiap menyambut Natal sebagai anak-anak.

Selamat Natal, Romo. Apa persiapan Natal tahun ini, Romo?

Saya tidak terlalu meriah merayakan Natal. Saya anggota komunitas rohaniwan Jesuit. Kami 17 orang. Beberapa ada yang pada Natal ini mengunjungi keluarga. Sisanya merayakan malam Natal dengan makan bersama, itulah cara kami merayakan Natal. Tentu banyak dari kami juga membantu umat di lain tempat untuk ber-Natalan. Saya sendiri untuk itu sudah terlalu tua.

Saat ini sedang sibuk apa saja, Romo?

Saya kan ada tiga macam kerja. Saya masih memberi sedikit kuliah. Lalu, webinar. Semua online. Saya masih membaca pustaka untuk sekali-sekali menulis sesuatu. Saya sudah tua dan lebih suka bicara lewat online daripada bertemu langsung pakai masker.

Ada perbedaan suasana yang dirasakan dibanding Natal saat pandemi tahun lalu?

Saya masih setiap hari jalan kaki dari komunitas saya ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Cempaka Putih. Itu satu seperempat kilometer. Dan di situ saya melihat, tahun yang lalu banyak pengurangan kegiatan. Tapi, sekarang hampir semuanya sudah kembali seperti semula.

Kenapa Romo lebih suka jalan kaki daripada naik kendaraan?

Saya naik sepeda sudah nggak berani, umur saya 85. Bahaya kalau saya naik sepeda. Dulu saya pakai motor vespa. Tapi, sejak saya dapat serangan jantung empat tahun yang lalu, saya lebih memilih jalan kaki. Jalan kaki merupakan salah satu latihan fisik. Tidak terlalu berat. Saya butuh mungkin 22 menit kurang lebih. Itu sudah jalan lambat.

Sejak kapan suka jalan kaki?

Dulu saya sering naik gunung. Saya banyak jalan, terutama di Indonesia. Hampir semua gunung di Jawa saya daki, ada yang berulang kali. Ada yang di Bali dan Sumatera. Gunung Rinjani juga.

Berkaitan dengan Natal, adakah momen Natal masa kecil yang masih berkesan sampai sekarang?

Tentu bagi saya sebagai anak, Natal itu puncak setiap tahun. Keluarga saya selalu pasang pohon Natal. Di bawah pohon Natal ada patung Maria, Yusuf, dan Yesus kecil. Lalu di bawahnya juga ada lilin-lilin. Saya punya lima adik, saya yang tertua, masing-masing dapat makanan, cookies, juga mainan.

Orang tua saya mempersiapkan semua, sementara kami anak-anak harus di luar pintu dan menunggu, baru pukul 6 kami masuk. Lalu, kami bersama menyanyikan beberapa lagu Natal dan melihat hadiah. Sesudah itu makan malam dan kami ke misa pukul 12 malam. Bagi saya, itu suatu tanda iman saya bahwa Allah datang dalam bentuk bayi kecil, segala sesuatunya amat mengharukan.

Perbedaan apa yang paling Romo rasakan saat merayakan Natal di Indonesia?

Sebetulnya perbedaannya tidak terlalu terasa. Gembira juga, menurut saya itu tidak berubah. Saya pertama ke Indonesia Januari 1961, jadi Natal pertama tahun itu. Selama empat bulan saya ke sebuah paroki di Gunung Menoreh, di situ memang merayakan Natal dan saya tinggal sama pastor. Kalau bisa saya selalu merayakan Natal bersama umat.

Tema Natal tahun ini adalah Cinta Kasih Kristus Menggerakkan Persaudaraan. Bagaimana Romo memaknainya?

Yang pertama, tentu saja suasana Covid-19 membuat ada orang-orang kecil dan lemah, mereka harus mengalami solidaritas. Jadi, persaudaraan itu penting sekali. Yang kedua, Indonesia itu masyarakat majemuk. Sekian banyak budaya dan agama. Saya mensyukuri bahwa dengan segala macam masalah, masih ada toleransi. Saya lihat bahwa sebetulnya persaudaraan Indonesia membesarkan hati. Jangan kita masing-masing hanya memikirkan diri kita sendiri.

Orang sering mengatakan kita mencari kebahagiaan. Nah, kebahagiaan itu tidak bisa dicari. Kebahagiaan itu sesuatu yang diberikan. Biasanya diberikan kepada kita dengan memberi kebahagiaan untuk orang lain, itu semacam dialektika saya secara filosofis.

Apa harapan Romo untuk tahun 2022 bagi Indonesia?

Saya mengharapkan agar kita membangun sikap saling menerima bila ada perbedaan. Mulai dari nol. Sekarang kita sebenarnya sudah baik. Tapi, sesuatu yang baik itu harus terus-menerus kita pelihara. Jangan taken for granted.

ROMO MAGNIS

Kali terakhir merayakan Natal bersama keluarga pada umur 18 tahun sebelum masuk Komunitas Jesuit.

Gunung terakhir yang didaki adalah Gunung Merapi pada 2011 setelah letusan 2010.

Berprinsip tak menggunakan kata syalom sebelum Palestina merdeka.

Artikel Asli