Gubernur Ridwan Kamil Susuri Sejarah Tsunami 2004 di Aceh

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 17:47
Gubernur Ridwan Kamil Susuri Sejarah Tsunami 2004 di Aceh

JawaPos.com Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersilaturahmi dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh untuk mempelajari penerapan aturan tentang dayah atau pesantren.

Maksud saya kesini sebenarnya kami mau belajar, karena sedang mempersiapkan peraturan untuk pesantren, kata Ridwan Kamil seperti dilansir dari Antara saat bertemu MPU Aceh di Aceh Besar, Minggu (26/12).

Kedatangan Ridwan Kamil ke MPU Aceh turut didampingi Ketua MUI Jawa Barat Rahmat Syafei beserta rombongan lain. Mereka disambut Wakil Ketua MPU Aceh Dr Tgk Muhibuththabary.

Ridwan kamil mengatakan, ingin mengetahui program-program yang mensinkronkan kebijakan gubernur, bupati dan wali kota terhadap kemajuan, keberlangsungan serta kemaslahatan pesantren di Aceh. Itu kenapa saya sampaikan kepada Ketua MUI Jawa Barat mumpung saya diundang peringatan tsunami, kita ikut ke Banda Aceh untuk mempelajari ini (tentang aturan pesantren), ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil itu.

Mudah-mudahan, niat baik untuk belajar dapat diterima MPU Aceh. Apalagi yang dilakukan ini salah satu upaya melaksanakan hablumminannas , saling memuliakan dan melengkapi, tutur Ridwan Kamil.

Menurut dia, pembelajaran itu penting mengingat penduduk di Jawa Barat kurang lebih mencapai 50 juta jiwa. Masyarakat tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Kita tidak hanya juara pada PON Papua, tetapi kami juga harus juara dalam dakwah dan spiritualitasnya, ucap Ridwan Kamil.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Jawa Barat juga menyumbangkan bantuan sebesar Rp 100 juta untuk kegiatan dakwah MPU Aceh.

Gubernur Ridwan Kamil juga mengungkapkan pengalaman emosional saat merancang bangunan Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh. Museum didesain sebagai simbol pengingatperistiwa gempa bumi dan tsunami yang memporak-porandakan Tanah Rencong pada 2004, pusat edukasi, serta selterpada masa darurat bencana.

Pada saat itu saya belum jadi wali kota. Sebagai arsitek, saya sudah mendesain banyak bangunan. Tapi mendesain yang paling emosional dan meneteskan air mata adalah pada saat mendesain Museum Tsunami Aceh, papar Ridwan Kamil saat menghadiri acara peringatan 17 tahun tsunami Acehdi Ulee Lheu, Banda Aceh.

RidwanKamil menuturkan masyarakat Aceh menitipkan sebuah memori kolektif kepadanya saat mempercayakanperancangan bangunan Museum Tsunami Aceh. Dalam Museum Tsunami Aceh adaruang pengingat, sumur doa, dan nama-nama korban gempa, dan tsunami Aceh.

Namun, lanjut dia, bangunan museum itutidak hanya dirancang sebagai pengingat peristiwa tsunami 17 tahun silam, tetapi juga sebagai tempat belajar mengenai kebencanaan. Bagaimana anak, cucu kita bisa belajar menyambut masa depan dengan lebih baik dan lebih selamat, ucap Ridwan Kamil.

Museum itu sangat terbuka, saya menghadirkan tempat yang tidak angker. Jadi orang-orang, setiap hari, jika rindu, butuh istirahat, silakan datang tanpa harus masuk ke dalamnya, tambah dia.

RidwanKamil berharap museum yang dinobatkan sebagai destinasi wisata populer di Indonesia itu bisa terus menemani perjalanan masyarakat Aceh. Usia Museum Tsunami Aceh sudah 14 tahun dan mudah-mudahan terus menemani perjalanan gemilang masyarakat Aceh, ujar Ridwan Kamil.

Gempa bumi dengan kekuatan 9,2 skala Richter dan tsunami yang terjadipada Minggu, 26 Desember 2004, membuat bumi Serambi Mekkah porak poranda dan menyebabkan kematian 200 ribu orang lebih. Masyarakat Tanah Rencong setiap tahun memperingati kejadian gempa dan tsunami yang terjadi 17 tahun lalu dan mengirimkan doa bagi orang-orang yang kehilangan nyawa akibat bencana alam besar itu.

Saat peristiwa itu, kami yang mencintai masyarakat Aceh, mengirimkan relawan, menyumbangkan harta, mengirimkan tenaga, dan mengirimkan karya, untuk kembali membangkitkan semangat masyarakat Aceh, tutur Ridwal Kamil.

Artikel Asli