Tidak Ada yang Baru di Tahun Baru

Nasional | lampung.rilis.id | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 17:25
Tidak Ada yang Baru di Tahun Baru

TIDAK ada yang baru di Tahun Baru, semua sama saja. Matahari akan terbit dari ufuk Timur pada pagi hari dan tenggelam di ufuk Barat pada sore hari.

Hanya dalam legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang lah matahari terbit sebelum waktunya, karena berisik mendengar para wanita yang sedang menumbuk padi, sehingga sang matahari mengira bahwa hari sudah pagi.

Semua orang tentu berharap agar datangnya tahun baru 2022 yang hanya tinggal dalam hitungan hari ini akan membawa harapan baru bagi kehidupannya, dalam segala hal tentunya.

Namun harapan tersebut menjadi sirna ketika berbagai musibah datang silih berganti dan masih mengakrabi bangsa kita.

Musibah pandemi Covid-19 belum juga berakhir, kita dikejutkan oleh gempa dahsyat Gunung Semeru yang selama puluhan tahun adem ayem dan bersikap tenang.

Lahar dan awan panas serta pijaran batu telah memporakporandakan wilayah sekitar dan memakan korban jiwa.

Belum tuntas penanganan bencana Gunung Semeru, menyusul bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di mana-mana.

Bencana datang jalin-jemalin menimpa berbagai daerah di Indonesia dan memakan korban jiwa maupun harta yang cukup besar.

Untungnya, sebagian besar masyarakat tidak banyak menuntut pihak Pemerintah. Mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena kehendak Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia.

Hanya yang mereka sesalkan, mengapa pada hampir semua bencana alam atau bencana sosial, yang menjadi korban adalah kaum yang lemah dan miskin.

Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang tergolong suci, nrimo , tidak pernah korupsi dan perilaku curang lainnya?

Teori apapun, termasuk teoritisasi sastra-sosial yang percaya kepada marxisme tidak akan mampu menjelaskan mengapa mereka yang harus secara terus menerus menjadi pelengkap penderita?

Meski yang mereka miliki menjadi luluh lantak diterjang bencana, namun mereka tetap tegar.

Mereka sangat percaya pada filsafat Cakra Manggilingan , yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada di bawah dan kadang di atas.

Meski hanya sebagai aliran filsafat, namun terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar ke atas.

Pada titik inilah apa yang disebut baru sungguh terjadi dalam pengalaman mental yang dimiliki kaum lemah-miskin.

Agar harapan baru itu benar-benar terjadi dalam pengalaman mental, kita pun perlu melakukan refleksi.

Seyogianya ketika memasuki detik-detik pergantian tahun baru kita melakukan instrospeksi diri seraya sujud syukur, duduk dalam keheningan malam untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan.

Semua pihak perlu berpikir ulang, masih pantaskah menggelar pesta pora yang penuh hingar bingar, menggelar panggung-panggung hiburan, dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru.

Bukankah peristiwa pergantian tahun merupakan fenomena sesaat yang hanya memberikan kenikmatan dalam hitungan menit?

Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang saat ini sedang dirundung duka.

Nilai petasan dan kembang api yang menghiasi angkasa di malam Tahun Baru sangatlah berarti bagi saudara-saudara kita yang saat ini masih harus tinggal di tempat penampungan.

Padahal sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun baru.

Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam berupaya memperoleh sesuatu yang baru.

Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru.

Terkait dengan banyaknya bencana, hari ini perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan di dalam mengelola alam ini.

Kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana tersebut sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya.

Tinjauan tentang teologi tersebut berpulang kepada diri pribadi atau individu masing-masing. Kita juga tidak perlu saling menyalahkan, karena sesungguhnya masing-masing dari kita memiliki andil dalam berbuat kesalahan.

Sebelum alam dan lingkungan ini benar-benar mengalami kehancuran, mari kita renungkan kembali pesan arif dari para pemerhati lingkungan sejak ratusan tahun lalu:

"Manakala sawah dan rawa tidak lagi berfungsi sebagai pengendali air, gunung dan bukit tidak lagi ditumbuhi pepohonan dan berubah dengan rumah-rumah beton dan kaca, maka sesungguhnya kita sedang menuju pada kehancuran lingkungan".

Selamat Tahun Baru 2022. (*)

Artikel Asli