Anas Thahir: NU Bukan Petugas Partai Tertentu, Maqomnya Berada di Atas Semua Golongan

Nasional | beritabaru.co | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 08:56
Anas Thahir: NU Bukan Petugas Partai Tertentu, Maqomnya Berada di Atas Semua Golongan

Berita Baru, Jakarta Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Lampung telah usai dengan terpilihnya nahkoda baru KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Periode 2021-2026.

Banyak kalangan menilai Muktamar tahun ini bisa melahirkan gagasan baru untuk kepengurusan PBNU ke depan, salah satunya datang dari mantan pengurus senior PBNU era 2005, Anas Thahir.

Mantan Wasekjen PBNU ini menilai bahwa terpilihnya Gus Yahya, sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf, bisa memberikan harapan baru kembalinya NU pada garis khittah tahun 1929.

Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 di Lampung telah memberikan harapan baru bagi kembalinya NU pada garis khittah 1926 secara tegas dan konsekuen, kata Anas Thahir saat dikonfirmasi usai Muktamar NU, Minggu (26/12).

Anggota DPR RI Fraksi PPP ini juga menambahkan, bahwa kepemimpinan PBNU ke depan lebih fokus pada program keumatan, seperti membangun kemandirian warga nahdliyin dan meningkatkan peran NU dalam perdamaian dunia, serta tidak akan terlibat dalam urusan Capres dan Cawapres tahun 2024.

Apalagi beberapa hari sebelum Muktamar, Gus Yahya telah berjanji tidak akan ada Capres atau Cawapres dari PBNU pada pemilu 2024. Jika Janji ini bisa diwujudkan, dan Gus Yahya bisa fokus menjalankan program-program keumatan melalui dua agenda besar: Membangun kemandirian warga dan dan meningkatkan peran NU dalam perdamaian dunia, maka Gus Yahya akan dikenang dalam sejarah sebagai Ketua Umum PBNU yang sangat berprestasi dan taat khittah, terangnya.

Sekretaris Majelis Pertimbangan DPP PPP ini juga berharap Gus Yahya tidak terpengaruh pada tekanan kelompok tertentu, termasuk tekanan partai politik yang mengelilinginya, sehingga mampu mengayomi seluruh elemen bangsa.

Kita semua sedang menunggu ketegasan Gus Yahya bisa berdiri tegak di tengah semua kepentingan yang mengelilinginya, sekaligus mampu mengayomi seluruh kekuatan elemen bangsa, sehingga semangat Islam moderat dan rahmatan lil alamin tidak hanya berhenti menjadi jargon, tapi benar-benar bisa menebar sebagai rahmat bagi semua kelompok, agama, suku, profesi, golongan, bahkan partai politik, harap Anas Thahir.

Artikel Asli