Mahasiswi UB Meninggal Dunia Akibat Perlakuan Kekasih

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 15:47
Mahasiswi UB Meninggal Dunia Akibat Perlakuan Kekasih

JawaPos.com Pada awal Desember lalu, jagat media sosial dikagetkan dengan ditemukannya seorang mahasiswi bernama Novia Widyasari yang meninggal dunia di samping pusara ayahnya. Korban meninggal bunuh diri akibat depresi setelah mengalami tindakan kekerasan seksual dari kekasihnya.

Pelaku yang merupakan oknum dari anggota kepolisian bernama Randy Bagus Sasongko ini juga diketahui sejak 2019 silam melakukan tindakan kekerasan seksual kepada korban. Pelaku bahkan sampai membuat mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) 2 kali hamil dan meminta agar kandungannya digugurkan.

Kemendikbudristek Bilang Kriminal Berat

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pun menanggapi hal itu. Melalui Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) Nizam, ia mengatakan bahwa kasus ini sangat berat. Astaghfirullah baru dengar kabarnya. Itu sudah kriminal berat, ungkap dia kepada JawaPos.com , Minggu (5/12).

Saat ini, Kemendikbudristek sendiri sudah mengeluarkan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKS). Kata dia, kasus ini sudah lebih dari yang ada dalam regulasi.

Tidak hanya permen PPKS, kalau betul terjadi itu kriminal yang harus dihukum berat. Hukuman harus memberi efek jera bagi pelaku dan efek jera bagi calon pelaku agar tidak berani melakukannya, tutur dia.

Menteri PPPA Turut Rasakan Beban Mental Korban

Menteri Bintang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menyampaikan ungkapan duka mendalam atas kasus yang menimpa almarhumah Novia Widyasari (23). Mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) ini bunuh diri akibat depresi dan dipaksa aborsi oleh tersangka yang merupakan kekasihnya.

Kami menyatakan duka yang mendalam atas kasus yang menimpa almarhumah. Saya bisa membayangkan beban mental yang ditanggung oleh korban dan keluarganya. Sudah sepantasnya kita semua memberikan rasa empati yang besar pada korban dan keluarganya dan berpihak pada korban, terang dia, Senin (6/12).

Selama ini, kata dia pihak KemenPPPA telah gencar menyuarakan dan menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kasus Novia ini pun menyadarkan dan memicu semua pihak untuk lebih aktif melakukan pencegahan agar tidak timbul lagi korban.

Menurutnya, penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak. Mulai dari pemerintah, maupun masyarakat secara umum termasuk aktivis HAM perempuan.

Dalam rangka perlindungan dan pemenuhan hak perempuan korban kekerasan seksual Kemen PPPA terus mengawal dan mendorong agar kebijakan tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan, tandas dia.

Pengakuan Korban Pada Komnas Perempuan

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Siti Aminah Tardi membeberkan kronologi yang dialami Novia Widyasari selama dua tahun hubungannya dengan pelaku Randy Bagus Hari Sasongko, hingga memutuskan bunuh diri.

Korban mengalami kekerasan secara bertumpuk dan berulang dalam durasi hampir 2 tahun, yaitu sejak 2019 atau pada saat membangun relasi dengan pelaku, jelas dia dalam webinar dikutip, Selasa (7/12).

Melanjutkan penuturannya, almarhumah kata dia terjebak dalam siklus kekerasan dalam pacaran. Di mana dia jadi korban eksploitasi seksual dan pemaksaan aborsi. Pada saat almarhumah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pelaku yang berprofesi sebagai anggota kepolisian (meminta) untuk menggugurkan kandungan, korban berkali-kali menolak, tutur Siti.

Adapun cara yang dilakukan pelaku untuk menggugurkan kandungan adalah dengan melakukan pemaksaan untuk meminum obat-obatan atau pil KB dan jamu-jamuan. Parahnya lagi juga pemaksaan hubungan seksual ditempat yang tidak wajar karena anggapan bahwa sperma akan dapat menggugurkan janin atau kandungan dengan cara tersebut.

Pemaksaan aborsi kedua bahkan dilakukan dengan cara memasukkan obat ke vagina korban dan upaya untuk korban meminta penyelesaian dengan meminta menikah pada Agustus 2021 itu ditolak dengan alasan (pelaku) masih ada kakak perempuan dan juga mempertimbangkan karir dari pelaku, terangnya.

Selain itu, diketahui juga bahwa pelaku memilki hubungan dengan perempuan lain, namun bersikeras tidak mau memutuskan relasi dengan korban. Kondisi ini pun menyebabkan korban tidak berdaya, dicampakkan dan disia-siakan dan berkeinginan menyakiti diri sendiri.

Pada saat pelaku membangun relasi dengan perempuan lain, korban sempat menyakiti diri dengan memukul batu ke kepalanya dan sempat dirawat. Korban juga berdasarkan konsultasi dan pengobatan ke psikiater di diagnosa positif (mengalami gangguan) dan gangguan psikosomatik lainnya, tandas dia.

Pelaku Sudah Ditahan, tapi Belum Dipecat

Saat ini, pelaku telah ditahan dibalik jeruji besi atas tindakannya. Meskipun begitu, saat ini dia masih menjadi anggota kepolisian.

Menjelaskan hal itu, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, pihaknya masih memproses Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PDTH) pada Bripda Randy Bagus. Tentu melalui proses, kalau bicara mecat memecat itu melalui proses. Hukum itu kan harus jalan ya, kata Ramadhan kepada wartawan, Senin (13/12) malam.

Ramadhan menerangkan bahwa pelaku akan diproses sidang Kode Etik Profesi Polri (KEPP) untuk proses PTDH setelah proses pidananya telah berkekuatan hukum tetap. Tentu nanti setelah ada putusan proses pidananya maka pasti sidang kode etiknya pasti akan dilakukan, jelasnya. (*)

Artikel Asli